RADARSEMARANG.ID - Viral di media sosial X, seorang emak-emak, nyaris menjadi korban pengeroyokan sekelompok orang peserta karnaval, yang membawa musik horeg, di desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.
Dalam video yang ramai di medsos itu terlihat, seorang emak-emak yang berdiri di depan rumahnya, menghadang rombongan karnaval dengan sound system horeg, saat hendak lewat depan rumahnya.
Emak-emak yang belum di ketahui identitasnya itu terlihat membawa sebuah benda seperti tali memprotes dan meminta peserta karnaval untuk mengecilkan suara sound systemnya, karena getarannya di khawatirkan merusak rumahnya.
Namun, suara protes emak-emak itu tidak terdengar jelas, karena terletan suara musik yang di usung sound system horeg, yang suarannya menggelegar yang di usung sebuah truk.
Beberapa peserta karnaval yang tidak terima, tampak menghampiri emak-emak tersebut.
Terlihat dari tayangan video itu, peserta karnaval yang tidak terima di protes emak-emak, langsung mengrubungi dan memaki ibu itu.
Beberapa lainnya, mencoba meredam emosi teman-temannya yang hendak menyerang emak-emak tersebut.
Video protes emak-emak itupun menuai komentar netizen khususnya di media social X dan ramai menjadi sorotan dengan mengkaitkannya dengan kabupaten Pati, yang sebelumnya juga viral dengan kasus Sukolilo.
Dan, berikut beberapa komentar netizen atas kejadian di desa Waturoyo, Margoyoso, Pati itu.
“Dan, sampai sekarang aku masih belum ngerti, gimana konsepsound system ini tuh gimana, belum ada yang joget-joget dibelakang soundnya”komen akun @siskaretnopalupi.
“Goblok panitia soundnya malah labrak2,ga duwe aturan”@tulis akun @risalatulami.
“aduhh gilaaa kali bah smpe segitunya”cuit akun @ohmydull.
Horeg atau sound system dengan suara yang menggelegar, menjadi fenomena akhir-akhir ini di Tengah Masyarakat, terutama di wilayah Jawa Timur.
Sound system horeg, di kenal dengan ciri khasnya getaran suara yang keras dan memiliki kapasitas besar.
Sound horeg yang di usung di atas truk ini, biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai acara seperti pesta, hajatan atau event musik dengan di ikuti sekelompok tukang joget di belakangnya, berjalan sepanjang jalan perkampungan. (sls/bas)
Editor : Baskoro Septiadi