RADARSEMARANG.ID - Kabar mengenai dugaan kebocoran data dari BAIS, INAFIS dan Kemenhub telah memicu reaksi beragam dari warganet.
Pasalnya, kebocoran data tersebut juga dikabarkan dijual di situs Dark Web melalui BreachForums.
Menurut informasinya, kebocoran data yang terdampak termasuk informasi sensitif dari BAIS (Badan Intelijen Strategis) TNI.
Selain itu, juga informasi rahasia dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) yang diduga mengalami kebocoran data.
Diketahui, data tersebut dijual seharga 1.000 – 7.000 dolar AS, atau setara dengan Rp 17 juta – 115 juta dengan kurs Rp 16.372 per USD.
Beberapa warganet ada mengutuk pelaku peretasan dan menuntut pemerintah untuk lebih ketat dalam mengamankan data sensitif ini.
Sementara itu, ada juga yang mempertanyakan keamanan sistem IT yang digunakan oleh lembaga atau instansi pemerintahan tersebut.
Berikut ini beberapa reaksi warganet terkait dugaan kebocoran data BAIS, INAFIS dan Kemenhub yang dikabarkan dijual di forum Dark Web.
“Komedi apa lagi ini, bahkan BSSN aja kena hack,” tulis akun @xandre***** di media sosial X.
“Kalau pekerjaan dan amanah dipegang bukan ahlinya ya gitu...jabatan diberikan karena titipan, hasilnya jadi telo,” tulis akun @Anurani****.
“Btw knp harganya murah banget buat hitungan data suatu negara yg bocor?,” tulis @manda****.
Menurut netizen @ardiputraoff, ada yang menyebutkan bahwa data senditif itu masih mentah, alias dijual ke orang yang bisa decrypt.
Selanjutnya jika data tersebut sudah ke decrypt, dikatakannya bakal jauh lebih mahal harganya.
“Ada yg nyebutin kemaren kalo data itu masih mentah, alias dijual ke orang yang bisa decrypt (gw ga tau istilah yg benernya) data itu”.
“Ibarat dapet file .zip tp gatau passwordnya. Kalo udah ke decrypt, data itu bakal jauh lebih mahal harganya, katanya sih gitu,” tulis @ardiputraoff.
Sedangkan warganet @_ridhozhr yang mengatakan bahwa “Tapi dapet sql juga, mungkin breech di server back upnya kali ya”.
Meski demikian, banyak diantara mereka mengkhawatirkan data sensitif pribadi miliknya bisa terdampak oleh serangan serupa di masa depan.
Editor : Baskoro Septiadi