RADARSEMARANG.ID - Pembangunan jalan tol memang diperlukan sebagai infrastuktur yang digunakan masyarakat untuk mempermudah dan mempersingkat waktu.
Selain hal tersebut, jalan tol disebut juga digunakan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan daerah berkembang oleh pemerintah.
Meskipun begitu, pembangunan jalan tol disebut banyak melalui kendala terutama saat harus melewati daerah pesisir dengan kondisi tanah lunak.
Ditakutkan tanah yang ambles akan mengganggu pekerjaan dan pastinya mengakibatkan pembangunan jalan tol di daerah pesisir belum optimal.
Namun baru-baru ini Kementrian PUPR berhasil menggagas inovasi unik terkait pembangunan jalan tol di wilayah pesisir.
Solusi yang digunakan adalah menggunakan teknologi matras bambu yang kini sedang diaplikasikan pada pembangunan jalan tol Semarang - Demak seksi 1.
Disebut juga bahwa proyek ini menjadi proyek pembangunan jalan tol menggunakan matras bambu paling masif se-Indonesia.
Menurut @pupr_binamarga di Instagram official Kementrian PUPR, pembangunan jalan tol Semarang- Demak ini berada di atas lokasi perairan dengan kondisi tanah yang sangat lunak.
Persoalan ini disebut bisa teratasi dengan menggunakan matras bambu sebagai platform dalam pembangunan jalan tol.
Matras bambu ini akan dirakit oleh para ahli untuk kemudian dilapisi dengan lapisan geotextile 200 kilo Newton.
Baru setelah itu dilakukan penimbunan preloading yang berupa pasir laut diatas matras bambu yang sudah dirakit tadi.
Selain sistem matras bambu, penguatan kondisi tanah dilakukan juga dengan cara pemasangan material pengalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD serta melaksanakan pembebanan menggunakan material pasir laut yang diambil menggunakan alat Trailing Suction Hopping Dredger atau TSHD dilansir Badan Pengatur Jalan Tol.
Material-material dan pasir laut ini ditimbun secara bertahap serta lapisan demi lapisan untuk mempercepat proses konsolidasinya.
Matras bambu yang ini ternyata setelah dilakukan penimbunan tidak mengambang di permukaan laut, tetapi akan turun setelah ditimbun sehingga menyentuh seabed, atau dasar laut.
Setelah timbunan demi timbunan, hasil akhir dari lapisan penimbunan material ini akhirnya membentuk seperti timbunan tanah pada umumnya.
Penggunaan matras bambu ini tidak hanya berfungsi sebagai pondasi tetapi juga agar ramah lingkungan dan berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem laut.
Bambu-bambu yang telah digunakan ini nantinya akan terendam dan menjadi bagian dari terumbu karang serta menambah kekuatan struktural di bawah air.
Untuk saat ini, progres dari pembangunan jalan tol Semarang- Demak telah beroperasi sejak 25 Februari 2023 dan berhasil membangun sepanjang 16,31 KM di Seksi 2 Sayung.
Editor : Baskoro Septiadi