RADARSEMARANG.ID - Banjir yang hampir sepekan merendam sebagian wilayah Semarang dan Demak menyebabkan tersendatnya kegiatan masyarakat.
Seringnya banjir dikedua daerah ini membuat beberapa pihak mengaitkannya dengan Teori Selat Muria.
Munculnya banjir di pantura Semarang-Demak dipercaya sebagai "kembalinya selat muria" yang sempat ada didaerah ini.
Selat Muria merupakan teori geologis dimana wilayah Semarang Utara, Demak, hingga daerah kaki Gunung Muria dahulunya merupakan selat.
Sehingga dataran pulau jawa dan pulau muria dipisahkan oleh lautan yang dinamakan selat muria.
Namun karena adanya proses geologis seperti aktivitas vulkanik, tektonik, dan sedimentasi secara bertahap membuat selat tersebut menjadi dangkal dan terbentuk daratan seperti sekarang.
Saat ini kejadian banjir di kedua daerah sudah sering kali terjadi, bahkan menjadi rutin hampir setiap tahunnya.
Banjir disebabkan oleh meluapnya beberapa sungai yang bermuara di utara Semarang hingga Demak.
Juga diperparah dengan naiknya muka air laut atau rob yang sering terjadi di Semarang Utara dan Sayung.
Membuat ketinggian serta durasi banjir menjadi lebih panjang yang sangat berdampak pada kegiatan masyarakat.
Fenomena banjir ini tidak hanya dipicu oleh hujan lebat yang turun dalam periode singkat, tetapi juga oleh kombinasi dari beberapa faktor kompleks lainnya.
Salah satu isu kritis yang dihadapi kota ini adalah land subsidence (penurunan tanah), yang terjadi dengan kecepatan yang cukup signifikan di beberapa bagian kota, terutama di area pesisir.
Penurunan tanah ini, bersamaan dengan pasang surut air laut, memperburuk risiko banjir, terutama di wilayah pesisir dan daerah rendah lainnya.
Meskipun hubungan langsung antara teori Selat Muria dan banjir terkini di Semarang mungkin tidak langsung terlihat.
Pemahaman tentang sejarah geologis dapat memberikan perspektif berharga tentang kerentanan alami wilayah tersebut terhadap banjir.
Namun realita yang terjadi saat ini dapat menjadi acuan untuk pembenahan daerah ini agar banjir tidak hadir setiap musim hujan maupun rob.
Sehingga teori masa lalu dan keadaan saat ini bisa menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan selanjutnya.
Editor : Baskoro Septiadi