RADARSEMARANG.ID - Macan tutul Jawa merupakan subspesies dari keluarga Panthera, yakni keluarga kucing besar seperti harimau dan singa.
Macan ini bernama latin ( Panthera Pardus Melas) dan merupakan salah satu hewan endemik yang terancam kepunahan.
Macan Tutul Jawa punya 2 varian warna yang sempat disalahpahami masyarakat sebagai dua jenis spesies yang berbeda, yakni warna kuncing kecoklatan dengan corak tutul rosette.
Sedangkan satunya adalah warna hitam, yang jika dilihat secara seksama juga terdapat corak tutul yang pudar dibadannya.
Macan berwarna hitam ini disebut sebagai macan kumbang, yang aslinya merupakan macan tutul dengan kelainan melanistik, atau kelebihan pigmen warna hitam dalam tubuh.
Diyakini, populasi macan tutul di Pulau Jawa sudah turun drastis akibat perburuan liar, pembabatan hutan, alih fungsi hutan menjadi pemukiman warga dan banyak kasus konflik dengan manusia yang menyebabkan kematian bagi kucing besar ini.
Untuk itu upaya konservasi dan re-wilding cukup penting dilakukan untuk menjaga populasi Macan Tutul Jawa tetap lestari.
Salah satunya, taman konservasi Taman Nasional Ujung Kulon di Banten dan Taman Nasional Alas Purwo yang secara giat melakukan konservasi terhadap satu-satunya spesies kucing besar yang tersisa di Jawa ini.
Kabar gembiranya, di Taman Nasional Meru Betiri yang terletak di Kabupaten Jember dan Banyuwangi, sebagai salah satu kantong populasi penyebaran macan tutul.
Baca Juga: Lagi! Taman Nasional Way Kambas Ketambahan Kelahiran Seekor Bayi Gajah
TNMB melaporkan peningkatan yang cukup signifikan bagi Macan Tutul Jawa, pasalnya selama tahun 2023 TNMB melihat perkembangan populasi sebanyak 30%.
Pada tahun 2023, jumlah individu Macan Tutul Jawa yang terlihat dalam pantauan tim riset yang valid berjumlah 22 ekor.
Hal ini dibuktikan dengan pemasangan kamera trap yang berhasil merekam tiap-tiap individu macan tutul, jumlah yang tertangkap kamera adalah 34 ekor.
Tetapi, berdasarkan identifikasi pola dan corak, mengindikasikan 22 macan tutul sudah dipastikan merupakan tiap individu yang berbeda.
Pemasangan kamera trap untuk memantau perkembangan populasi macan tutul ini sudah berlangsung sejak tahun 2017, dilansir akun @btn_merubetiri.
Selain macan tutul, kamera trap juga menangkap berbagai rekaman satwa yang ditengarai bisa menjadi mangsa macan tutul seperti babi hutan, rusa, monyet ekor panjang dan lutung, sehingga diharapkan macan tutul bisa berburu dan hidup dengan aman di TNMB.
Macan tutul merupakan predator karnivora terbesar yang mendiami Pulau Jawa, setelah sebelumnya terdapat Harimau Jawa, yang sudah diyakini oleh para ilmuwan punah pada 1980.
Editor : Baskoro Septiadi