RADARSEMARANG.ID - Permasalahan kedatangan rombongan pengungsi Rohingya belum juga mencapai titik temu.
Warganet dan masyarakat Aceh sepakat untuk menolak kedatangan pengungsi Rohingya lagi, mereka menyatakan keberatan jika harus menampung kembali gelombang-gelombang rombongan yang terus berdatangan.
Dari pihak UNHCR terus mendesak negara-negara yang berada di wilayah laut Andaman untuk membuka akses dan membantu kapal-kapal dari pengungsi Rohingya yang terjebak di laut.
Dari sebuah video yang terekam di media sosial, diperlihatkan seorang wanita yang nampaknya merupakan relawan sedang berada di dalam ruangan yang terlihat seperti kelas.
Video ini diketahui direkam di Camp Pengungsi Minaraya Pidie, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam oleh seorang pengguna TikTok bernama btj.tripaceh.
Bersama puluhan pengungsi Rohingya, wanita ini bak guru mengajari para pengungsi Rohingya mempelajari bahasa Indonesia.
Wanita berkerudung ini mengajari beberapa kosa kata sederhana dalam bahasa Indonesia kepada para pengungsi Rohingya.
Ia mengajari berbagai hal seperti perkenalan dasar, tempat tinggal dan cara mengeja sebuah angka ketika ditanya tentang umur.
Para pengungsi Rohingya yang sedang diajari terlihat antusias dan ikut mengeja berbagai kata yang diucapkan oleh sang pengajar.
Baca Juga: Ramai Isu Penolakan Warga Imigran Rohingya, Siapakah Mereka dan Bagaimana Sejarahnya?
Sayangnya, tak semua orang setuju dengan hal yang dilakukan perempuan tersebut.
Di kolom komentar penuh dengan ujaran penolakan yang menyayangkan tindakan wanita ini dan pemerintah setempat yang terkesan menerima kehadiran pengungsi Rohingya.
Beberapa netizen mengomentari hal tersebut dengan cukup vokal seperti @yassintapramitasa " kenapa sih senang ya kalo mereka tinggal di Aceh? sampe dikasih belajar bahasa Indonesia"
Atau dari akun @juinahjuu yang melayangkan protes terkait video yang beredar tersebut " ini gimana orang Aceh katanya menolak kok malah diajarin?".
Sebelumnya, Pro- kontra terkait permasalahan Rohingya ini bahkan turut serta menyeret beberapa tokoh masyarakat Aceh untuk mulai turun tangan untuk menolak mereka.
Hal tersebut salah satunya disampaikan Keuchik Gampong Kuta Barat Muhammad Hamim, yang melakukan audiensi ke Kantor Wali Kota Sabang bersama perwakilan masyarakat, untuk menyuarakan aspirasi warga setempat sekaligus mendukung pemerintah dalam hal pemindahan etnis Rohingya.
"Saya mewakili masyarakat Gampong Kuta Barat meminta pihak-pihak yang bertanggung jawab, terutama UNHCR dan IOM agar segera memindahkan pengungsi Rohingya yang mendarat di Sabang beberapa waktu lalu ke tempat yang seharusnya," kata Muhammad Hamim dilansir website acehprov.gov.id.
Keberatan mereka ini bukan karena sebab, tapi merupakan antisipasi jangka panjang terkait kesejahteraan hidup masyarakat Aceh sendiri. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi