Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Identitas Terbongkar di KUA, Begini Kronologi Pernikahan Sesama Jenis yang Menghebohkan Warga Pakuon Cianjur

Hardiana Ratnasari • Senin, 11 Desember 2023 | 03:54 WIB

Ilustrasi LGBT (Foto: Freepik)
Ilustrasi LGBT (Foto: Freepik)

RADARSEMARANG.ID – Dayat (60), warga desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, tengah dihadapkan pada permasalahan pelik yang menggemparkan wilayah tempat tinggalnya.

Bagaimana tidak? Dirinya ditipu mentah-mentah oleh menantu yang baru-baru ini menikahi putrinya, yang belakangan terungkap bahwa menantunya tersebut adalah seorang perempuan.

Dilansir dari Radar Cianjur, Dayat tak pernah mengira bahwa pernikahan putrinya yang diselenggarakan secara meriah dan disaksikan tokoh-tokoh setempat beberapa waktu lalu adalah pernikahan sesama jenis. Akan tetapi, KUA setempat tidak ikut terlibat saat itu.

Hal ini baru terungkap setelah identitas sang menantu yang mengaku berasal dari kalimantan itu terbongkar di Kantor Urusan Agama (KUA), karena tak dapat menyerahkan dokumen kependudukan yang disyaratkan KUA.

“Ketahuannya saat diminta persyaratan identitas pas di KUA,” ujar Dayat.

Disebutkan Kepala Desa Pakuon, Abdullah, mempelai pria yang ternyata adalah wanita tersebut, berdusta pada keluarga mempelai wanita, dengan mengatakan bahwa dirinya telah mengantongi rekomendasi KUA. Namun anehnya, ia tak dapat menunjukkannya.

“Jadi, membohongi keluarga dengan menyudutkan pihak KUA, bahwa dirinya sudah mendapat rekomendasi dari Kantor Urusan Agama Sukaresmi, tapi tidak ditunjukkan pada keluarga,” ujar Abdullah.

Menurut Dayat, dirinya sempat melarang putrinya untuk menikahi perempuan yang menyamar sebagai laki-laki tersebut. Akan tetapi perempuan itu selalu gigih meyakinkan Dayat bahwa ia ingin menikahi putrinya.

Dayat sempat mengusir perempuan itu dan putrinya. Untuk biaya pernikahan pun, sampai utang pada tetangga. 

"Saya sempat usir anak saya dan wanita itu, tapi datang lagi ke rumah," beber Dayat, Rabu (6/12/2023). 

Dilansir dari Radar Kudus, kejadian ini bermula dari informasi yang diterima Abdullah, di mana ia mendengar bahwa ada seseorang yang datang melamar seorang warganya dengan uang miliaran rupiah.

Tentu saja hal ini mengejutkan Abdullah dan akhirnya tersebar ke seluruh warga. Namun saat itu, belum terungkap bahwa itu adalah pernikahan sesama jenis.

“Kabar heboh awal itu bukan pernikahan sesama jenis. Tapi ada pernikahan yang kabarnya bakal menghabiskan biaya besar sampai miliaran. Kemudian saya cek, takutnya terjadi sesuatu,” beber Abdullah pada Sabtu (9/12/2023).

Pamong desa kemudian menemui keluarga mempelai perempuan, untuk memastikan kebenarannya. Akan tetapi ketika didatangi, pihak mempelai laki-laki yang kemudian diketahui berinisial AD ini tak dapat memperlihatkan identitas, dengan dalih KTP-nya disita orang tua, sebab tak direstui.

"Saat memproses persyaratan nikah ke desa dan KUA juga, si pihak laki-lakinya ini banyak mengeluarkan alasan. Katanya, KTP-nya diambil ibunya karena tidak direstui, dan alasan lainnya," kata Abdullah.

Karena ketidakjelasan identitas AD ini, pihak desa menolak memproses pernikahan, bahkan mengeluarkan surat terkait keputusan tersebut.

"Saya pasti bantu dan proses kalau identitasnya jelas. Bahkan dia bilang siap bayar berapapun kalau dibantu. Ya saya tidak mau, daripada nanti terjadi sesuatu di desa saya," kata Abdullah.

Abdullah menceritakan pengalamannya ketika bermasalah dengan warga yang akan menikahi laki-laki yang tidak jelas identitasnya, dan akhirnya terkuak bahwa laki-laki tersebut adalah pelaku kriminal.

"Karena pengalaman, ada yang nikah dengan lelaki yang tidak jelas identitasnya. Ternyata si laki-lakinya itu pelaku tindak kriminal. Makanya saya ingin ada kejelasan identitasnya," tambahnya.

Beberapa hari setelahnya, pemerintah desa mendapatkan kabar bahwa pernikahan antara AD dan perempuan asal desanya sudah digelar. Resepsi diadakan di rumah mempelai perempuan.

Usai adanya kabar tersebut, muncul permasalahan di mana biaya resepsi tersebut ternyata merupakan hasil utang ke salah seorang warga.

"Jadi si AD ini pinjam uang ke tetangga mempelai wanita. Terjadilah kegaduhan. Saya langsung tangani saat itu," ujarnya.

Warga membawa AD ke kantor Kecamatan untuk diperiksa, dan terbongkarlah semuanya. AD memalsukan identitasnya sebagai perempuan, demi bisa menikahi kekasihnya yang merupakan warga Desa Pakuon.

"Kami penasaran siapa AD ini. Kalau di Kecamatan kan sudah aksesnya secara online, jadi bisa ketahuan. Setelah dicek atau diidentifikasi, ternyata AD ini bukan laki-laki, tetapi perempuan asal Kalimantan. Dia memalsukan statusnya sebagai perempuan, demi bisa menikahi kekasihnya yang merupakan warga Desa Pakuon," papar Abdullah.

Abdullah mengatakan pemerintah desa sudah memberikan pembinaan terhadap warga dan pihak keluarga mempelai perempuan, agar dapat mengambil pelajaran dari kasus penipuan identitas ini.

"Untuk warga kami beri pengertian agar tidak lagi membahas soal ini. Karena pernikahan tersebut sudah berakhir, tidak berlanjut, karena ‘kan bukan antara lelaki sama perempuan, tapi perempuan dengan perempuan. Keluarganya juga sudah diberi pembinaan dan pendampingan agar tidak jadi patah semangat, tidak minder. Karena ‘kan semuanya juga tertipu," pungkas Abdullah. (*/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Pernikahan sesama jenis di cianjur #pernikahan sesama jenis