Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dampak Letusan Gunung Marapi Terhadap Penerbangan, BMKG Imbau Setiap Bandara Lakukan ini

Aris Hariyanto • Kamis, 7 Desember 2023 | 21:14 WIB
Dampak letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat kode warna penerbangan menjadi merah.
Dampak letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat kode warna penerbangan menjadi merah.

RADARSEMARANG.ID, - Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat yang meletus pada minggu (3/12) memiliki dampak yang sangat signifikan bagi dunia penerbangan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta pada Selasa (5/12).

Semburan abu vulkanik mencapai ketinggian 5.891 Mdpl, berdasarkan hasil pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Dilansir dari laman bmkg.go.id, Guswanto mengatakan, “Kondisi ini menyebabkan kode warna penerbangan menjadi merah”.

“Abu vulkanik bergerak ke arah utara hingga barat dengan warna abu-abu hingga hitam dan intensitas pekat," imbuhnya.

Tugas menentukan rute penerbangan adalah tanggung jawab otoritas penerbangan dan Air Traffic Controller (ATC).

Namun demikian, untuk memastikan kondisi penerbangan di sepanjang jalur yang mungkin terpengaruh oleh letusan Gunung Berapi, BMKG selalu memperbarui informasinya melalui beberapa jenis laporan, seperti berita SIGMET WV, Aerodrome Warning, dan METAR.

"SIGMET merupakan berita yang diterbitkan oleh Meteorological Watch Office (MWO) selaku unit layanan yang memiliki tugas khusus di area Flight Information Region (FIR)," ujar Guswanto.

SIGMET WV merupakan salah satu jenis SIGMET yang dikhususkan untuk menginfokan perihal sebaran abu vulkanik.

Gunung Marapi di Sumatera Barat yang meletus terletak di area FIR Jakarta, sehingga MWO Jakarta yang bertugas mengeluarkan berita SIGMET WV.

Kemudian, menurut laporan berita SIGMET, abu vulkanik yang mempengaruhi ruang udara tercatat hingga 15.000 meter di atas permukaan laut.

Selanjutnya Abu vulkanik tersebut bergerak ke arah Barat dengan kecepatan 65 km per jam, namun pada pukul 17.13 WIB, arah pergerakan berubah menjadi ke barat daya.

Selanjutnya, pada pukul 18.18 WIB, pergerakan abu vulkanik menyebar ke arah Barat Laut dengan kecepatan 28 km per jam pada ketinggian sekitar 9.000 Mdpl.

Sedangkan pada ketinggian 15.000 Mdpl, abu vulkanik bergerak ke arah Barat Daya dengan kecepatan 83 km per jam.

Pada akhirnya pada Senin (4/12) pukul 08.52 WIB, aktivitas letusan Gunung Marapi menurun, sehingga kode warna penerbangannya berubah oranye.

Hingga kini, BMKG terus memonitor aktivitas Gunung Marapi dengan menggunakan citra satelit cuaca dan berkoordinasi dengan PVMBG.

Selain itu, juga melalui Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia, dan VAAC Darwin.

Menurut data citra satelit cuaca terkini, terlihat bahwa abu vulkanik dari Gunung Marapi sedang bergerak ke arah Barat Daya.

Sementara itu, berdasarkan laporan berita SIGMET, ketinggian ruang udara yang terdampak abu vulkanik mencapai 4.000 Mdpl.

Meski demikian, bandara yang berpotensi terkena terdampak abu vulkanik ialah Bandara Minangkabau.

Selanjutnya, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau Padang, Desindra, menegaskan bahwa telah dilakukan pengamatan sebaran abu vulkanik di Bandara Minangkabau.

Pengamatan tersebut menggunakan paper test pada Senin (4/12) pukul 08.00-09.00 WIB, dan Selasa (5/12) pukul 08.00-09.00 WIB dengan hasil Negatif (Tidak terdeteksi Abu Vulkanik di Bandara Minangkabau Padang).

"Selanjutnya BMKG menghimbau kepada setiap pelaku jasa penerbangan dapat melakukan update informasi mengenai perkembangan situasi dari kejadian letusan gunung Marapi baik yang dikeluarkan oleh BMKG maupun pihak-pihak yang terkait," ucap Desindra. (*/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#erupsi #gunung marapi #bandara #gunung meletus #PENERBANGAN #BMKG #SIGMET