RADARSEMARANG,ID- Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan kedatangan pengungsi warga etnis Rohingya yang berbondong-bondong memasuki wilayah Aceh.
Kedatangan ini merupakan gelombang kedatangan mereka yang kesekian kali beberapa tahun terakhir.
Mereka merupakan etnis beragama mayoritas Islam yang awalnya mendiami kawasan Rakhine, salah satu negara bagian di Myanmar.
Mereja mendapatkan persekusi dan kekerasan dari mayoritas warga Myanmar yang sekarang dikuasai oleh Junta Militer.
Karena hal tersebut, banyak dari mereka yang kabur melarikan diri dan mencari perlindungan di negara lain, salah satunya Indonesia.
Siapakah Mereka?
Dilansir dari Council On Foreign Relation, Etnis Rohingya adalah etnis muslim minoritas yang bermahzab Sunni tapi dengan corak Sufisme.
Di abad kelima belas, saat ribuan umat Islam berbondong-bondong datang ke Kerajaan Arakan.
Kemudian disusul oleh gelombang kedatangan mereka lagi pada abad ke-19 dan awal abad 20.
Semenjak kemerdekaan di tahun 1948, Pemerintah Burma yang kemudian berganti nama menjadi Myanmar menolak keberadaan etnis Rohingya sebagai warga negara Myanmar.
Etnis Rohingya dianggap imigran ilegal dari Bangladesh, meskipun bukti sejarah sudah membuktikan keberadaan mereka sejak lama.
Warga Rohingya dianggap sebagai masyarakat yang 'stateless' atau tidak diakui oleh pemerintahan mereka sendiri.
Baca Juga: Fakta-Fakta Anggota Paspampres dan 2 Rekannya Culik dan Bunuh Warga Aceh Imam Masykur
Mereka dipersulit dalam melakukan berbagai kegiatan selayaknya masyarakat Myanmar pada umumnya, Pemerintah membedakan mereka dengan masyarakat biasa dengan identifikasi kartu.
Masyarakat Rohingya diberi kartu identifikasi berwarna putih yang berarti mereka diberi beberapa hak tapi tidak diakui sepenuhnya sebagai warga negara.
Pembatasan ini masih berlaku hingga sekarang, sehingga banyak dari etnis Rohingya ini yang mencoba melarikan diri dan mencari suaka di tempat lain.
Target tujuan mereka adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya sesama beragama Islam, seperti Indonesia, Malaysia dan Bangladesh.
Kedatangan mereka terkadang menciptakan masalah baru di negara yang didatangi.
Contohnya demo besar-besaran yang terjadi di Malaysia akibat warga Rohingya yang menuntut Pemerintah Malaysia memberi tanah untuk mereka tinggali secara permanen.
Indonesia sendiri melalui Presiden Joko Widodo akan berupaya membantu penyelesaian konflik di Rakhine beserta pemulangan kembali etnis Rohingya ke Myanmar.
"Presiden menyampaikan observasinya terhadap isu tersebut. Sekali lagi, Indonesia secara aktif bersedia, more than ready, untuk berkontribusi dalam upaya penyelesaian masalah yang tidak mudah itu".
Ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang turut mendampingi Presiden dalam pertemuan bilateral membahas konflik Rohingya dan Palestina dilansir kemlu.go.id.
Editor : Agus AP