RADARSEMARANG.ID – Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, kembali menyuarakan pendapatnya dalam debat terbuka perihal situasi Timur-Tengah dan Perang Israel-Palestina yang tiada berkesudahan, dalam Pertemuan DK PBB, di New York, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2023).
Dalam pertemuan DK PBB ini, hadir pula sejumlah Menteri luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menunjukkan dukungan OKI terhadap Palestina.
Dikutip dari Laman Instagram resmi Retno Marsudi, @retno_marsudi, Retno menyampaikan bahwa dirinya kembali menghadiri pertemuan DK PBB, karena ingin berada di sisi yang ‘benar’ dari sejarah.
“Saya kembali, menghadiri pertemuan DK PBB, karena saya ingin berada di sisi yang benar dari sejarah, untuk membela keadilan dan kemanusiaan bagi Palestina,” kata Retno.
Diplomat Indonesia yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri wanita pertama ini mengungkapkan kekhawatiran akan meningkatnya serangan kepada warga Palestina di Tepi Barat. Bila jumlah tawanan yang dibebaskan Israel adalah sama atau seimbang jumlahnya dengan jumlah penangkapan baru, lalu apalah gunanya?
Indonesia menyambut baik truce (gencatan senjata) yang saat ini sedang diterapkan, namun Indonesia berpendapat bahwa ini tidaklah cukup, sebab ‘jeda kemanusiaan’ masih terlalu rapuh untuk benar-benar membuat situasi di Gaza lebih baik secara kontinyu.
“Indonesia masih marah akan situasi yang tidak terpecahkan di Gaza. Kapan kekejaman ini dapat dihentikan? Saya ingin mengulangi pernyataan yang saya sampaikan bulan lalu di ruangan ini,” ujar Retno.
“DK PBB memiliki tanggung jawab besar untuk memelihara perdamaian dan keamanan, karena hari lain tanpa peperangan adalah hari yang layak diperjuangkan. Inilah saatnya untuk memulai proses perdamaian,” tambahnya.
Lebih lanjut, Retno tidak dapat memahami jalan pemikiran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyatakan bahwa serangan militer akan kembali digencarkan secara total apabila gencatan senjata telah berakhir.
Menurut Retno, DK PBB seharusnya sanggup mencegah itu semua agar tidak terjadi. DK PBB harus melakukan langkah baru, jika ingin membuat perubahan di Gaza, yaitu:
- Pemberian bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke seluruh wilayah Gaza, dan memonitornya dengan baik
- Penghormatan terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, yang harus betul-betul dilakukan.
- Pentingnya gencatan senjata secara permanen untuk mengakhiri semua kekejaman.
Di akhir pernyataannya, Retno menegaskan kembali bahwa bangsa Palestina memiliki hak untuk merdeka berdasarkan ‘Solusi Dua Negara’. Saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai kembali proses perdamaian tersebut.
“Tanggal 29 November adalah Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina, maka janganlah kita menutup mata atau tinggal diam terhadap perjuangan rakyat Palestina atas perjuangan rakyat tidak berdosa di Gaza, di mana satu-satunya ‘dosa’ mereka adalah terlahir sebagai orang Palestina,” pungkas Retno.
Editor : Agus AP