Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Begini Peringatan BMKG, Terkait Fenomena Perubahan Suhu Cuaca Panas Bumi Semakin Tinggi

Aris Hariyanto • Jumat, 24 November 2023 | 02:43 WIB
Ilustrasi cuaca panas akibat fenomena El Nino yang berdampak pada kekeringan.
Ilustrasi cuaca panas akibat fenomena El Nino yang berdampak pada kekeringan.

RADARSEMARANG.ID, - Pada pertengahan tahun 2023 ini, masyarakat merasakan cuaca panas yang lebih terik dari tahun-tahun sebelumnya.

Hasil analisis Climate Central, sebuah lembaga pemerhati perubahan iklim, pada periode dari November 2022 hingga Oktober 2023 telah tercatat sebagai periode dengan suhu terpanas sepanjang sejarah.

Menurut laporannya, selama periode tersebut, suhu rata-rata global meningkat sebesar 1,3 derajat Celsius dibandingkan dengan masa sebelum era industri.

Mengacu pada hasil Climate Central, Indonesia mengalami peningkatan suhu dalam setahun terakhir karena memiliki iklim tropis, dilansir dari laman Indonesia.go.id.

Selanjutnya, berdasarkan perhitungan Indeks Pergeseran Iklim, Indonesia menempati posisi teratas di antara negara-negara anggota G20 dengan nilai rata-rata 2,4, mengungguli Arab Saudi (2,3) dan Meksiko (2,1).

Kemudian, berdasarkan analisis Climate Central di 14 kota Indonesia, ditemukan sembilan kota mengalami hari terpanas secara beruntun.

Jakarta dan Tangerang mengalami cuaca panas luar biasa dengan rekor hari terpanas selama 17 hari berturut-turut bersama dengan New Orleans di Amerika Serikat.

Kota-kota tersebut menempati peringkat kedua dalam daftar kota dengan cuaca panas secara beruntun setiap harinya.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, tahun 2023 akan menjadi tahun dengan suhu terpanas dalam sejarah pencatatan iklim, berdasarkan data dari Organisasi Meteorologi Dunia

Dwikorita mengatakan, “Dari data Organisasi Meteorologi Dunia, Juli - Agustus 2023, tercatat sebagai tiga bulan terpanas sepanjang sejarah”.

“Dengan menyimak evolusi iklim 2023, tahun ini berpeluang besar akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim,” lanjutnya pada Rabu (8/11/).

Suhu cuaca panas di 2023 lebih intens dibandingkan El Nino tujuh tahun sebelumnya, bahkan badan meteorologi dunia memprediksi kemungkinan terjadi kekeringan yang signifikan akibat perubahan iklim.

Di tahun 2023 ini, Dampak El Nino mengakibatkan bencana iklim yang signifikan di beberapa negara, seperti Italia, Yunani, dan Afrika Utara mencapai suhu 47 derajat Celcius pada Juli 2023.

Disamping itu, di bagian barat Amerika, suhu mencapai 53 derajat Celcius, dan selama 31 hari berturut-turut suhu melebihi 43 derajat Celcius.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya, akibat dari gelombang panas yang terjadi di banyak tempat secara bersamaan, dan Juli 2023, tercatat sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah, rata-rata lebih panas dari 30 tahun sebelum ini,” ucap Dwikorita.

Menurut Kepala BMKG tersebut, Indonesia untuk sementara masih dalam keadaan yang cukup aman, kemungkinan besar karena kelembaban wilayahnya.

Selain itu juga karena Indonesia dikelilingi oleh samudera yang lebih luas daripada daratan.

Perlu diingatkan bahwa, gaya hidup masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan dapat menyebabkan kekeringan di daerah tertentu.

Saat fenomena El Nino semakin kuat, dampaknya bisa terjadi kekeringan yang berlangsung selama tiga bulan atau bahkan lebih, dan diperkirakan akan semakin meningkat.

Dikabarkan Profesor Edvin Aldrian, peneliti BRIN dan penulis Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change, mengkhawatirkan kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan semula, yaitu pada 2030 dengan mempertimbangkan kondisi kenaikan suhu saat ini.

Edvin mengatakan, “Memang ada faktor-faktor alam seperti fenomena El Nino, atau posisi matahari yang mendekati bumi, tetapi aktivitas manusialah yang paling banyak memengaruhi kenaikan suhu global ini”.

BMKG memberikan peringatan bahwa, gaya hidup yang tak ramah lingkungan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang berdampak pada kekeringan.

Selanjutnya, jika tidak diantisipasi dengan baik, akan berdampak pada ketahanan pangan di pertengahan abad ke-21, atau sekitar 2050.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), stok pangan dunia dapat menghadapi ancaman yang serius.

Pasalnya, hampir 500 juta petani skala kecil yang memproduksi lebih dari 80 persen produksi pangan dunia, sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Oleh karena itu, dalam menghadapi krisis iklim global, BMKG menekankan pentingnya upaya adaptasi dan mitigasi melalui tiga pilar yang saling terhubung, yaitu kebijakan, pelayanan, dan sains.

Editor : Agus AP
#climate central #iklim #suhu #fao #CUACA #BMKG #BRIN #el nino