Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Diduga Malpraktik, Bayi Prematur Meninggal Usai Dijadikan Konten Newborn Photography di Klinik Alifa Tasikmalaya

Hardiana Ratnasari • Rabu, 22 November 2023 | 11:41 WIB
Bayi prematur yang meninggal dunia, diduga usai dijadikan konten newborn photography oleh bidan di klinik Alifa Tasikmalaya (IG: @nadiaanastasyasilvera)
Bayi prematur yang meninggal dunia, diduga usai dijadikan konten newborn photography oleh bidan di klinik Alifa Tasikmalaya (IG: @nadiaanastasyasilvera)

RADARSEMARANG.ID – Bayi prematur seberat 1,7 Kg meninggal dunia, diduga akibat kelalaian klinik Alifa di Kecamatan Bungursari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bayi lelaki putra pasangan Erlangga Surya Pamungkas dan Nisa Armila tersebut tanpa seizin orang tuanya, dijadikan konten fotografi bayi baru lahir (newborn photography) oleh pihak klinik.

Sebagaimana diviralkan oleh Nadia Anastasya Silvera (kakak dari Erlangga), @nadiaanastasyasilvera di akun Instagram pribadinya, ia mengunggah surat aduan yang dibuat Erlangga ke kantor Dinas Kesehatan Tasikmalaya (17/11/2023).

Nadia menyebutkan, selain keponakannya dijadikan konten, pihak keluarga juga mengeluhkan perihal pelayanan buruk bidan yang menangani adik iparnya (Nisa) ketika melahirkan.

Bidan sibuk bermain handphone, bersikap jutek dan tak acuh. Selain itu, selama proses melahirkan, bidan berinisial DY (yang biasa menangani istrinya ketika check up kehamilan) juga menjadikan Nisa bahan praktik kepada mahasiswa yang tengah praktik di klinik tersebut.

Dan tak cukup sampai di situ, bayi prematur tersebut juga dimandikan sangat lama oleh pihak klinik.

“Bayi 1,5KG harus nya di inkubator,di rawat dengan baik dan benar, di NICU, ini malah di jadikan konten dan review, bayi kecil 1,5KG kalian mandikan !!!!!!!! BIADAB ga ada otak !!!!!!!!!!!” tulis Nadia (19/11/2023).

Curahan hati Nadia Anastasya Silvera, bibi bayi prematur yang meninggal dunia diduga korban kelalaian bidan klinik Alifa Tasikmalaya. (IG: @nadiaanastasyasilvera)
Curahan hati Nadia Anastasya Silvera, bibi bayi prematur yang meninggal dunia diduga korban kelalaian bidan klinik Alifa Tasikmalaya. (IG: @nadiaanastasyasilvera)

Berdasar surat aduan yang dibuat Erlangga, ia menguraikan kronologi kejadian awal mula  istrinya melahirkan hingga bayinya meninggal dunia.

Pada Senin (13/11/2023), istrinya dengan usia kehamilan 36 minggu, datang bersama kakaknya ke klinik, karena merasakan kontraksi di perutnya. Namun bidan justru menyuruh pulang, karena masih pembukaan-2.

Malamnya, sekitar jam delapan, Erlangga mengantarkan istrinya ke klinik, karena tak kuat menahan sakit. Namun di klinik, bidan jaga justru sibuk main ponsel dan mengatakan akan kembali memeriksa Nisa jam 12 malam.

Pukul 21.30 WIB, istri Erlangga mengalami pendarahan dan pecah ketuban, tetapi oleh bidan jaga masih saja disepelekan dengan mengatakan bahwa itu hal biasa.

Pukul sepuluh malam, Nisa melahirkan, namun bidan tetap sibuk bermain ponsel, sambil menjadikan Nisa sebagai objek praktik kepada mahasiswi yang tengah praktik di klinik tersebut.

Pihak keluarga pun tidak diizinkan masuk. Erlangga menduga, mungkin takut ketahuan telah menjadikan pasien mereka bahan praktik.

Usai melahirkan, bidan justru menyuruh Nisa membersihkan dirinya sendiri. Akhirnya, Nadialah yang membantu memapah adik iparnya yang masih lemas tersebut ke kamar mandi.

Sementara itu, si bayi hanya dimasukkan ke dalam alat inkubator sederhana, dengan dipakaikan baju dua lapis, sarung tangan, serta pernel bayi.

Bidan jaga mengatakan berat badan (BB) bayi kecil, dan napas kurang baik, tetapi akan koordinasi dulu dengan pihak RS apakah perlu diinkubator atau tidak.

Curahan hati Nadia Anastasya Silvera, bibi bayi prematur yang meninggal dunia diduga korban kelalaian bidan klinik Alifa Tasikmalaya. (IG: @nadiaanastasyasilvera)
Curahan hati Nadia Anastasya Silvera, bibi bayi prematur yang meninggal dunia diduga korban kelalaian bidan klinik Alifa Tasikmalaya. (IG: @nadiaanastasyasilvera)

Ketika Nadia menanyakan kapan keponakannya bisa disusui, bidan menjawab belum bisa, nanti akan diobservasi tiap satu jam sekali. Namun kenyataannya, tidak ada perlakuan observasi satu jam sekali yang dimaksud.

Hingga pukul 03.15 dini hari, Erlangga menanyakan kembali pada bidan, apakah anaknya sudah bisa disusui, bidan menjawab belum bisa. Tetapi tidak lama kemudian, bidan langsung memberitahu bahwa si bayi sudah bisa disusui.

Namun Erlangga lagi-lagi kecewa. Ia menyayangkan perilaku bidan yang tidak peduli keadaan bayi, karena bidan tidak ikut mendampingi istrinya ketika menyusui, dan tidak memastikan apakah bayinya sudah benar-benar minum ASI. Hingga subuh, Nisa terus memangku bayi, sementara para bidan justru melanjutkan tidur.

Pukul tujuh pagi, anak Erlangga yang baru lahir tersebut dimandikan oleh bidan dalam waktu yang sangat lama. Erlangga curiga anaknya dijadikan bahan praktik, mengingat semalam istrinya juga dijadikan bahan praktik.

Usai memandikan bayi pukul 08.30, bidan mengatakan bahwa ibu dan bayi sudah diperbolehkan pulang. Nenek si bayi (Ibunda Erlangga) menanyakan apakah benar cucunya sudah diperbolehkan pulang, apakah tidak perlu diinkubator, mengingat berat badan bayi jauh di bawah normal. Namun bidan menjawab tidak perlu.

Erlangga membereskan administrasi sebesar Rp 1.000.000,- tanpa diberikan kuitansi bukti pembayaran, dan tanpa diberitahu pula untuk apa nominal tersebut, mengingat istrinya menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Pukul sembilan pagi, Erlangga membawa pulang istri dan bayinya, tanpa surat keterangan sehat, atau berkas apapun. Bidan hanya menyuruh datang kembali untuk kontrol dalam tiga hari ke depan.

Baca Juga: Interview Jungkook BTS Bersama Apple Music: Album Solo ‘Golden’, Reuni BTS, dan Koneksi dengan ARMY

Di rumah, putra Erlangga tersebut sama sekali tidak bisa disusui, karena ASI istrinya tidak keluar. Bidan menyarankan untuk memberi susu penambah berat badan.

Ibu Erlangga membelikan susu sesuai yang direkomendasikan oleh bidan. Tetapi selama beberapa jam, si bayi tetap tidak bisa disusui.

Pukul sembilan malam, Nisa mendapati bayinya tidak ada detak jantung, dan ketika ia mencoba menelepon klinik, nomor telepon justru tidak aktif.

Bergegas mereka pergi ke klinik, tetapi gerbang klinik justru digembok. Setelah lama digedor, akhirnya ada bidan jaga yang membuka pintu gerbang. Usai diperiksa, ternyata si bayi telah meninggal dunia.

Ada empat orang bidan saat itu, namun yang stand by hanya seorang, sementara ketiga bidan lainnya tidak nampak.

Karena tidak memercayai anaknya telah meninggal, Erlangga menuju ke RS Jasa Kartini Tasikmalaya. Di rumah sakit Jasa Kartini, bayi Erlangga dipompa jantungnya, ditimbang berat badannya dan ditanya perkara apa yang telah terjadi.

Menurut RS Jasa Kartini, seharusnya bayi yang lahir prematur harus dirawat intensif dan meminum banyak ASI.

Esok harinya (15/11/2023), Nadia mendatangi klinik Alifa, meminta konfirmasi terkait meninggalnya keponakannya. Namun bidan-bidan jaga serta mahasiswa yang tengah praktik, seperti menyembunyikan keberadaan bidan DY.

Pihak keluarga Erlangga sudah mengikhlaskan atas meninggalnya putra mereka, tetapi mereka tetap menginginkan keadilan melalui jalur hukum.

"Alhamdulillah kasus ini sudah di back up oleh pengacara Ir. Taufiq Rahman, S.H., CPCLE,” tulis Nadia pada Senin (20/11/2023).

Editor : Agus AP
#klinik bersalin #Malpraktik #bayi prematur