RADARSEMARANG.ID - Ikan Sidat dikenal dengan nama lokal Pelus di Pulau Jawa. Di Indonesia bisa ditemukan 7 jenis Ikan Sidat dari 18 jenis yang ada di dunia.
Yaitu Sidat yang bersirip dorsal pendek (Anguilla bicolor dan Anguilla bicolor pacifica), dan 5 spesies Sidat dorsal panjang (Anguilla borneensis, Anguilla marmorata, Anguilla celebensensis, Anguilla megastoma dan Anguilla interioris).
Namun yang populer dan punya potensi besar untuk dikembangkan mempunyai ada 2 jenis, yaitu Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata.
Jenis Anguilla bicolor mempunyai ciri badannya berwarna cokelat kehitaman, polos dan kepalanya tumpul.
Sidat dewasa yang pernah ditemukan panjangnya mencapai 110 cm dengan bobot 3 kg. Sidat ini sering juga disebut dengan Sidat Anjing, Banyak ditemukan di pantai pulau Jawa, (Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cilacap, Jember).
Anguilla Marmorata, mempunyai ciri badannya transparan, cokelat kemerahan, dan memiliki bintik hitam pada ekor.
Memiliki garis gelap pendek di badannya serta bentuk badan yang buntek. Saat berenang, gerakannya kurang lincah.
Jenis ini merupakan jenis sidat terbesar dengan ukuran maksimum yang pernah ditemukan. Panjangnya dapat mencapai 200 cm dengan bobot 27 kg.
Sering juga disebut dengan Sidat Kembang. Sumber bibit umumnya di luar pulau Jawa seperti Sulawesi dan Kalimantan, bibit terbaik banyak ditemukan di Poso.
Secara sepintas Ikan Sidat mirip dengan Belut. Memiliki tubuh bulat memanjang dengan mata kecil.
Yang membedakan adalah, Ikan Sidat mempunyai sirip didekat kepalanya, sehingga mirip seperti telinga.
Belut hidup didaerah berlumpur, sedangkan Sidat habitatnya dalam air yang jernih, banyak mengandung oksigen yang terlarut.
Ikan Sidat merupakan ikan yang unik. Ikan Sidat mampu hidup dalam air laut, air payau dan air tawar sepanjang proses kehidupannya.
Ikan Sidat termasuk dalam golongan ikan katadromik, yaitu memijah di laut dalam, namun ketika telur menetas menjadi larva, larva mengalami metamorphosis menjadi elver atau glass eel, maka glass eel akan beruaya ke muara sungai yang memiliki salinitas lebih rendah.
Glass eel akan bertumbuh menjadi yellow eel yang selanjutnya berubah menjadi silver eel, dan bermigrasi kearah hulu sungai kedaerah air tawar.
Ikan Sidat bermigrasi ke laut setelah mengalami kematangan gonad dan memijah dipalung laut dalam.
Ikan Sidat akan memijah sekali seumur hidup dan akan mati setelah memijah, karena Ikan sidat menggunakan seluruh energinya untuk reproduksi , atau termasuk hewan smelparous.
Ikan Sidat merupakan ikan yang mempunyai gizi yang sangat tinggi dan sangat diminati di Jepang. Di negara sakura, Ikan Sidat diolah menjadi Unagi yang harganya mahal. Untuk menembus pasar tersebut, banyak persyaratan yang harus dipenuhi.
Ikan Sidat harus berdaging lembut, tidak alot, tidak terpisah kulit dan dagingnya saat dimasak, dan daging tidak berbau tanah/ algae.
Untuk memenuhi syarat tersebut, budidaya Ikan Sidat harus memperhatikan kualitas, baik dari benih, pakan maupun kondisi lingkungan.
Saat ini, budidaya Sidat hanyalah tahap pembesaran. Karena siklus hidupnya yang unik, belum ada satupun tekhnologi yang bisa memijahkan Sidat.
Benih Sidat ditangkap dari alam, kemudian dibesarkan di kolam pembesaran, sampai menjadi Sidat yang siap konsumsi, yaitu berukuran 200 gram sampai 400 gram. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi