Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Wujudkan Sekolah sebagai Rumah Kedua yang Aman, Kepala Disdikbud Batang Diganjar Abdi Nagari Award 2025

Riyan Fadli • Senin, 15 Desember 2025 | 12:07 WIB
PRESTASI: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo saat menerima penghargaan Abdi Nagari Award 2025.
PRESTASI: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo saat menerima penghargaan Abdi Nagari Award 2025.

RADARSEMARANG.ID, Batang – Komitmen kuat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan humanis di Kabupaten Batang mendapat pengakuan bergengsi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Soedibyo, SH., M.Si, menyabet penghargaan Abdi Nagari Award 2025 untuk kategori Inovasi dan Tata Kelola Lingkungan Sekolah Ramah Anak.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam malam penganugerahan yang digelar Jawa Pos Radar Semarang bersama Radar Semarang Academy di Petra Ballroom, Noormans Hotel, Kota Semarang, Jumat malam (12/12/2025).

Apresiasi ini diberikan atas langkah konkret Bambang Suryantoro dalam mentransformasi sekolah-sekolah di Batang menjadi zona nyaman bagi siswa.

Hal tersebut sejalan dengan instruksi Bupati Batang M Faiz Kurniawan. Melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pencegahan perundungan dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang efektif di setiap satuan pendidikan, Disdikbud Batang dinilai berhasil menekan angka kekerasan di lingkungan sekolah.

"Saya bekerja sebetulnya tidak memikirkan untuk mendapat ini. Namun, harapannya penghargaan ini memicu semangat saya untuk tetap bekerja sesuai aturan dan kewenangan. Tujuannya agar pendidikan di Batang semakin nyaman untuk anak-anak, tenang, dan guru bisa lebih fokus mengajar," ujar Bambang usai menerima penghargaan.

Bambang mengungkapkan, inisiasi masif Sekolah Ramah Anak lahir dari keprihatinan atas sejumlah insiden perundungan (bullying) yang sempat terjadi, baik yang melibatkan siswa maupun oknum pengajar. Ia tidak ingin sekolah menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa.

"Dulu ada kejadian-kejadian, walau persentasenya tidak signifikan, tapi ada bullying. Maka kami merencanakan Sekolah Ramah Anak. Intinya satu, anak nyaman belajar, hubungan guru dan anak sesuai aturan, dan guru lebih fokus memberikan materi," tegasnya.

Satgas tidak hanya ada di tingkat kabupaten, namun juga dibentuk di tingkat satuan pendidikan. Mereka bertugas memantau indikasi kekerasan pada anak di lingkungan satuan pendidikan, kemudian melaporkannya.

Untuk memaksimalkan hal tersebut, Disdikbud tidak bekerja sendirian. Sinergitas dibangun dengan menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Dinas Sosial, Kepolisian, hingga Kodim 0736/Batang.

Bagi Bambang, konsep ramah anak tidak hanya soal nirkekerasan, tetapi juga kenyamanan fasilitas fisik. Ia menekankan bahwa lingkungan sekolah harus mendukung psikologis anak layaknya rumah sendiri.

"Sekolah ramah anak itu tidak hanya terkait bullying. Lingkungan harus mendukung. Jadi anggap anak masuk sekolah itu seperti rumah sendiri. Bersih, sehat, kamar mandi nyaman, dan tanaman tertata. Sehingga saat masuk rasanya nyess, tidak membuat anak merasa sekolah itu angker," ungkap Bambang.

Selain penataan di sekolah, Disdikbud Batang juga tengah menggalakkan program jam wajib belajar di rumah. Program ini menargetkan pengawasan orang tua pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB.

"Pada jam itu, anak-anak wajib berada di rumah. Sebisa mungkin tidak buka HP, gadget, atau tontonan lain. Fokus belajar dan istirahat, sehingga pergaulan terkontrol dan tidak berkeliaran di jam malam yang riskan," tambahnya.

Pengawasan program ini dilakukan secara berkala melalui Koordinator Wilayah (Korwil) dan pengawas sekolah. Acara Malam Penganugerahan Abdi Nagari Award 2025 sendiri berlangsung hangat dan disaksikan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno. Sebanyak 33 pengabdi negeri, mulai dari guru, dosen, kepala OPD, camat, hingga anggota Polri menerima apresiasi atas dedikasi mereka dalam membangun daerah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Abdi Nagari Award. Ajang ini dinilai bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk pengakuan nyata atas kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dinilai secara objektif oleh pihak eksternal.

Hal tersebut disampaikan Sumarno saat memberikan sambutan kepada para penerima penghargaan. Menurutnya, apresiasi semacam ini sangat krusial untuk menjaga motivasi para abdi negara.

“Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi ASN lainnya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sumarno mengakui, tantangan yang dihadapi ASN di masa depan akan semakin kompleks. Selain tuntutan untuk menjadi teladan dalam bersikap dan berperilaku, ASN kini dihadapkan pada kewajiban untuk beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi layanan.

Transformasi digital, menurut Sumarno, menjadi kunci dalam reformasi birokrasi saat ini. “Pelayanan publik saat ini harus mengarah pada pemanfaatan teknologi. Karena itu, dibutuhkan edukasi dan peningkatan kapasitas ASN agar pelayanan semakin optimal,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi, dalam sambutannya menegaskan filosofi di balik Abdi Nagari Award 2025. Ia menyebut ajang ini sebagai ruang penghargaan bagi mereka yang bekerja dalam sunyi namun mampu menghasilkan cahaya bagi masyarakat.

“Ini adalah penghormatan bagi para aparatur negara yang mengabdi bukan untuk terlihat, tetapi untuk menghadirkan perubahan,” ujarnya. (yan)

 

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#pendidikan #Sekolah Ramah Anak #Abdi Nagari Award 2025 #batang