Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Berusia 12 Abad, Situs Petirtaan Balekambang Gringsing Diprediksi Kering 10 Tahun Lagi

Riyan Fadli • Rabu, 3 Juli 2024 | 17:00 WIB
Warga saat berenang di situs petirtaan Balekambang, Kecamatan Gringsing. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)
Warga saat berenang di situs petirtaan Balekambang, Kecamatan Gringsing. (Riyan Fadli/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Batang - Situs petirtaan Balekambang di Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing diprediksi kering dalam waktu 10 tahun ke depan.

Hal ini diungkapkan Agus Tri Hascaryo, peneliti dari Universitas Islam Indonesia (UII) dalam paparannya usai melakukan ekskavasi candi dan delineasi kawasan disekitarnya. 

Ia mengatakan, penurunan muka air di situs petirtaan itu cukup signifikan. Penurunan muka air terjadi sekitar 30 sentimeter sejak 5 tahun lalu, atau tahun 2019.

Sementara warga sekitar mengatakan penurunan permukaan air terjadi mulai 3 tahun lalu. 

"Dalam kondisi seperti sekarang, kami baru berani memperkirakan sekitar 10 tahun kolam ini kering. Kalau kondisinya seperti sekarang," ucapnya.

Situs petirtaan Balekambang sendiri telah berusia sekitar 12 Abad. Atau berasal dari abad ke-9 masa Dinasti Syailendra. Kedalaman kolamnya sekitar 1 meter. Ia menjelaskan bahwa kondisi tanah daerah sekitar Balekambang tidak bisa menyimpan air. 

Pihaknya sudah memetakan daerah tangkapan air untuk mengaliri situs Balekambang tersebut.

Namun demikian, kondisinya saat ini perlu dilakukan reboisasi. Lahan tangkapan air saat ini juga masuk di peta area Proyek Strategis Nasional (PSN), Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). 

Yang lebih memprihatinkan, sumber mata air Balekambang saat ini hanya menyisakan satu sumber yang memiliki debit besar. Satu sumber mata air lain memiliki debit yang sangat kecil.

Padahal, 5 tahun lalu ia pernah mendata ada 5 sumber mata air yang mengaliri petirtaan Balekambang.

"Mata air terbesar yang keluar dari Balekambang ini hanya satu. yang lainnya resapan. Tahun 2019 ada 5 sampai 6. Sekarang tinggal 2, satu besar, satunya lagi kecil sekali," ucapnya.

Mata air itu keluar dari patahan rekahan batuan breksi vulkanik yang mengeluarkan air.  Pihaknya juga melakukan penelusuran dari pahatan patahan di area delineasi.

Akhirnya ketemu alirannya bawah tanahnya dari sekitar arah tenggara, barat daya, sampai di lembah.

Menurunnya debit air di situs itu juga bakal berdampak pada para petani. Saat ini sekitar 50 hektare lahan sawah dialiri situs Balekambang.

Jika Balekambang kering, para petani di sana juga terancam kekeringan."Petirtaan ini ternyata mengaliri sawah yang sangat luas," ucapnya. 

Sementara itu, Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki mendukung penyelamatan situs di sana. Pihaknya akan bersama-sama dengan masyarakat, dan pihak terkait lainnya menjaga situs Balekambang tersebut. 

"Kami juga sudah menyampaikan ke DPUPR, akan kita lihat penyebabnya menurunkan debit air ini apa. Kemudian langkah yang harus kita lakukan agar air tidak menyusut. Secara teknis akan dikaji oleh dinas teknis," tandasnya. (yan/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#balekambang