RADARSEMARANG.ID, Batang - Desa Pranten merupakan salah satu desa di Kabupaten Batang yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo yang mempunyai medan ekstrem.
Desa ini berada di lereng Gunung Prau dan Gunung Sipandu. Para anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) di sana harus menyeberangi sungai yang memiliki arus deras untuk mengikuti pelantikan, Kamis 25 Januari 2024.
Pelantikan KPPS Desa Pranten difokuskan di Balai Desa yang berada di Dukuh Rejosari. Sementara ada satu perdukuhan yang terisolir dari Desa Pranten karen akses terdekat terputus sejak dua tahun lalu.
Tepatnya pada malam pergantian tahun 2021-2022. Jembatan hilang tersapu tanah longsor.
Kuwadi, Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Pranten bercerita pada Jawa Pos Radar Semarang bahwa pelantikan KPPS dilakukan pada pukul 13.00 WIB.
Sejak pagi, cuaca di sana cerah. Namun, mendekati jam acara, hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Sungai yang biasa dilewati warga arusnya berubah menjadi deras dengan membawa material lumpur.
Sebanyak 14 calon anggota KPPS yang akan mengikuti pelantikan pun nekat melintasi jalur ekstrim tersebut.
Selain arus yang deras, jalur tersebut juga licin. 14 orang itu berasal dari dua TPS di Dukuh Pranten.
Mereka yang sampai di jalan yang terputus itu langsung memarkirkan sepeda motornya di seberang sungai begitu saja, tanpa takut hilang dicuri orang.
Satu persatu bergantian turun ke dasar aliran sungai dan menyeberanginya.
Sementara para petugas KPPS lain ikut membantu penyebrangan dengan berdiri di atas batu di tengah aliran sungai.
Ada juga yang membawa bambu yang digunakan untuk berpegangan. Para calon anggota KPPS itu menyebrangi sungai dengan meniti bebatuan di tengah sungai.
"Petugas KPPS lain ikut membantu di sana, menyediakan sepeda motor untuk mengangkut peserta dari sungai menuju Balai Desa satu persatu," ujar Kuwadi.
Ia menjelaskan, jembatan yang sudah tersapu longsor sebenarnya sedang ada pembangunan. Pembangunan jembatan sementara, tapi belum jadi.
Sehingga para calon anggota KPPS itu harus menyeberangi sungai dengan jalan kaki. Mereka tidak memilih untuk melewati jalan lain karena harus memutar sangat jauh. Sekitar 20 kilometer.
Melewati Desa Deles, Kecamatan Bawang kemudian naik kembali ke Desa Pranten melalui jalur ekstrim menuju Sigemplong dan Rejosari.
"Tetap nyebrang sungai, tidak ada jembatan lainnya. Jalan yang dilewati mengerikan. Tidak lewat jalan lain karena kondisinya memang lebih jauh," imbuhnya.
Akibat kondisi tersebut acara pelantikan akhirnya molor hingga satu jam. Selain menunggu peserta juga menunggu hujan reda. Desa Pranten sendiri memiliki 49 anggota KPPS.
Kuwadi menambahkan, jembatan darurat yang dibangun diperkirakan sudah jadi sebelum hari pemungutan suara pada 14 Februari 2024.
Sehingga tidak mengganggu jalannya Pemilu. Namun demikian, ia tetap berharap ada perhatian lebih pada PPS Desa Pranten karena mempunya medan yang ekstrim.
"Harapan kita untuk KPPS Pranten mendapatkan perhatian khusus. Mungkin, perjuangan KPPS Pranten dibandingkan dengan KPPS di bawah kan akan terasa berbeda," tandasnya. (yan/bas)