RADARSEMARANG.ID, BATANG-Setelah hampir satu bulan penuh larut dalam euforia HUT Kemerdekaan RI, masyarakat Kecamatan Gringsing kembali dihibur oleh Pementasan Singo Barong. Kali ini mementaskan grup Langgeng Budoyo dan enam grup lain di Lapangan Desa Gringsing, Sabtu (2/9/2023).
Dalam acara yang dibuka Camat Gringsing Adhi Bhaskoro ini menampilkan berbagai atraksi untuk menghibur penonton yang rela berdiri di bawah terik matahari. Pada puncak acara di malam harinya tampil sekaligus 10 Barongan diikuti Dawangan dan penari Kuda Lumping Rewo-Rewo.
Tokoh masyarakat pemerhati budaya Muchamad Aghus ZN menyatakan, pementasan ini adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap kesenian tradisional. "Di era modern kesenian tradisional Singo Barong mulai terlupakan. Padahal di dalamnya terkandung filosofi dan kearifan lokal yang adi luhung," ucapnya.
Mbah Bejo sebagai ketua Langgeng menambahkan, Singo Barong menceritakan kisah Panji Asmorobangun yang ingin menyunting Dewi Sekartaji. Sebagai syarat mahar Panji Asmorobangun, harus membawa macan putih yang berperilaku layaknya manusia.
Ditemani oleh dua orang abdi Panji Asmorobangun mencari keberadaan macan putih itu di Alas Tunggorono. Untuk mencapai tujuan tersebut, Panji Asmorobangun harus berhadapan dengan bangsa lelembut. Godaan dari lelembut jahat yang ingin menggagalkan upaya Panji Asmorobangun diwujudkan dalam bentuk singo ireng, setanan dan dawangan.
"Alur cerita kami asli. Kami tidak menambahkan hiburan lain," terang Mbah Bejo yang mengaku baru kali ini mendapat bantuan dari pemerintah.
Grup Singo Barong Langgeng Budoyo berdiri tahun 1980 di Desa Krengseng, Kecamatan Gringsing, dan beranggotakan anak-anak remaja sekitar. Ada lelaku khusus untuk membuat Singo Barong terlihat garang dan berwibawa seperti meletakkan di makam pada malam Jumat Kliwon atau ritual di Balekambang.
Ada juga aturan ketat untuk bisa menjadi anggota Langgeng Budoyo di antaranya taat beribadah dan dilarang Molimo. Secara tidak langsung Mbah Bejo ikut menjaga ketertiban dan keamanan. Anggota Langgeng Budoyo tidak ada yang terlibat tawuran atau bertindak kriminal. Sebaliknya mereka rajin beribadah dan sering mengaji bersama sebelum latihan. (yan/ida)
Editor : Ida Nor Layla