Sekretaris Desa Pranten, Ela Nurlaila menjelaskan selain aktivitas kawah, pihaknya juga mewaspadai longsor. Hal ini bisa diakibatkan oleh gempa dari aktivitas vulkanik.
"Dari sekitar 626 KK, yang daerah rawan longsor itu ada dua dusun yang paling rawan. Ada dusun Rejosari sama Sigemplong. Sekitar 172 dan 153 KK," ucapnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (17/1).
Di Rejosari diketahui warganya berdampingan dengan kawah. Ada 10 rumah yang berdiri persis di bawah kawah. Jika memang ada peningkatan aktivitas kawah, pihaknya akan lebih memprioritaskan 10 rumah tersebut.
Rumah paling ujung hanya berjarak sekitar 10 meter dari kawah-kawah kecil. Sementara jarak pemukiman itu dari kawah besar sekitar 100 meter saja.
Berkaitan dengan status kebencanaan ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Dieng. Ia menyampaikan, saat ini aktivitas warga masih normal karena statusnya masih waspada.
Kecuali pas ada gempa beberapa hari lalu. Saat itu warga panik dan semuanya keluar rumah. Warga masih was-was karena selanjutnya ada gempa kecil-kecil susulan.
"Tapi dari pos PGA itu menyampaikan tidak ada pergerakan yang harus mengungsi atau gimana, jadi kita masih nurut-nurut aja. Kami nunggu instruksi," tegasnya.
Desa Tangguh Bencana sudah dibentuk. Pihaknya sudah mengadakan pelatihan kebencanaan beberapa kali. Hasilnya, tiap dusun sudah ada pos-pos tangguh bencana. Masyarakat tangguh bencana sudah dibentuk, terutama kelompok pemudanya.
Hal ini berkaca pada bencana tahun 2016. Saat itu ada ledakan dari Geodipa, sehingga muncul seperti gempa bumi. Karenanya, masyarakat sudaj belajar dari pengalaman kebencanaan.
"Jadi insya Allah nanti semoga tidak terjadi apa-apa. Kalau pun itu terjadi, kami memang sudah mempersiapkan di awal-awal," tandasnya. (yan/bas) Editor : Agus AP