Aktivitas produksi kerajinan tangan itu, kini menjadi pengisi kesibukan sehari-hari. Tidak sembarang tahanan bisa mendapatkan fasilitas pelatihan. Hanya tahanan yang punya track record baik dan bisa dipercaya saja. Sehingga tidak banyak tahanan yang memperoleh akses bengkel kerja.
"Kalau bikin miniatur ini tidak susah, saya pakai feeling saja. Lihat referensi gambar dulu kemudian diwujudkan dalam bentuk 3D," ujar Faisal Muhammad Kuroni, 33, tahanan kasus narkoba yang menjalani masa tahanan lima tahun lima bulan.
Melalui bengkel kerja itu, Faisal telah belajar memproduksi berbagai barang dari limbah kayu. Ia sudah melakukannya sejak 2,5 tahun terakhir. Materi pembelajaran diberikan secara bertahap, mulai hal mudah hingga sulit. Faisal mengatakan, keterampilannya telah banyak berkembang. Hal itu karena bengkel kerja di Lapas Batang memiliki alat produksi yang komplit.
"Saya sudah bisa bikin mobil mobilan, pesawat, tempat korek, dan tempat tisu. Semuanya dari kayu. Sekarang saya masih belajar membuat gerbong kereta lengkap dengan lokomotifnya," ucap pria yang akan bebas enam bulan lagi itu.
Kepala Lapas Kelas IIB Batang, Rindra Wardhana menjelaskan, berbagai keterampilan diberikan petugas secara otodidak. Mereka belajar melalui berbagai macam literatur di internet, seperti Google dan Youtube.
"Ini termasuk pembinaan kemandirian, harapannya ketika bebas nanti mereka bisa mandiri, dan punya keterampilan untuk membuka usaha," terangnya. (yan/zal) Editor : Agus AP