Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pengasuhan Setara hingga Kampung Bebas Asap Rokok, Cara Pemkab Banyumas Tekan Angka Stunting

Khafifah Arini Putri • Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:04 WIB
Kepala Bapperida Kabupaten Banyumas, Dedy Noerhasan.
Kepala Bapperida Kabupaten Banyumas, Dedy Noerhasan.

 

RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Asap rokok mengepul tipis di sudut ruang keluarga. Di lantai yang sama, seorang balita asyik bermain sambil sesekali terbatuk. Pemandangan ini mungkin terlihat biasa di banyak rumah tangga. Namun, bagi Pemerintah Kabupaten Banyumas, pemandangan itu adalah lonceng alarm darurat.

Data Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Banyumas menunjukkan, dari 14.274 balita yang terdiagnosis stunting, sebanyak 10.578 balita atau 74 persen di antaranya terpapar asap rokok di dalam rumah. Angka ini menjadi pukulan telak sekaligus penegasan bahwa penanganan stunting tak cukup hanya dengan membagikan susu atau tablet tambah darah. Peran besar juga ada di pundak para ayah.

Angka stunting di Kabupaten Banyumas perlahan tetapi pasti menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Banyumas menurun dari 14,52 persen pada 2024 menjadi 13,64 persen pada 2025. Sementara itu, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Banyumas juga turun dari 20,9 persen pada 2023 menjadi 19,6 persen pada 2024.

Meski masih ada pekerjaan rumah, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) terus memacu berbagai inovasi dalam penanganan stunting. Kali ini, perhatian besar diberikan pada pola pengasuhan setara. Sosok ayah diminta tak sekadar mencari nafkah, tetapi juga hadir dalam tumbuh kembang anak.

Hal ini sejalan dengan tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, yakni “Ayah Wajib Hadir”. Tema ini menekankan pentingnya peran aktif, kehadiran emosional, dan tanggung jawab seorang ayah dalam keluarga untuk mendukung perkembangan anak dan perencanaan masa depan.

Kepala Bapperida Kabupaten Banyumas, Dedy Noerhasan, mengatakan keterlibatan ayah menjadi salah satu kunci penting dalam pencegahan stunting. Sebab, tanggung jawab tumbuh kembang anak tidak hanya berada di tangan ibu.

Menurutnya, penanganan stunting juga tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Banyak faktor lain yang turut memengaruhi, mulai dari sanitasi, akses air bersih, kondisi rumah, hingga perilaku keluarga sehari-hari.

“Sebenarnya, berbicara stunting tidak hanya Dinas Kesehatan saja. Kalau dari rujukan Kementerian Kesehatan, sekitar 60 sampai 70 persen penyebab stunting adalah sanitasi dan air bersih. Jadi, kita tidak hanya fokus pada urusan gizi dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Bahkan, di lapangan ditemukan kebiasaan unik, tetapi berbahaya, yang disebut Dedy sebagai one stop service. Di banyak rumah tangga, sumur, sumber air bersih, dapur, dan kamar mandi atau WC dibangun dalam satu titik yang sama.

“Ibu-ibu ingin dari kamar mandi, dari dapur, mencuci, jadi satu. Satu titik. Ini yang kita temukan di lapangan. Jangan-jangan ini juga penyebab kenapa angka stunting tidak turun-turun,” tuturnya.

Selain itu, distribusi tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil juga masih menghadapi kendala klasik. Meskipun secara administrasi sudah terbagi 100 persen, faktanya banyak tablet yang tidak diminum oleh penerima.

“Itu tantangan kita ke depan. Sudah dibagi, tetapi ternyata tidak diminum. Jadi, harus ada pendekatan khusus,” katanya.

Karena itu, Dedy menjelaskan, penanganan stunting di wilayahnya masih perlu terus digencarkan. Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Pemkab Banyumas menerapkan program Kelas Bapake Mamake yang telah berjalan selama empat tahun.

Program ini memberikan pendampingan bagi ibu hamil, suami, dan keluarga. Fokusnya ialah memberikan pemahaman agar keluarga, terutama suami, lebih memperhatikan ibu hamil, mulai dari mengenali risiko kesehatan, pemenuhan gizi, hingga tumbuh kembang anak setelah lahir.

Selain itu, Pemkab Banyumas juga berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD), mitra pembangunan, dan masyarakat dalam mengembangkan beragam program penanganan stunting. Kini, ada lima inovasi yang telah dikembangkan.

Pertama, Pendampingan Kecamatan oleh OPD dan Rumah Sakit. Inovasi ini mulai digulirkan pada 2023. Konsepnya sederhana, tetapi efektif. Setiap OPD dan rumah sakit, baik negeri maupun swasta, ditugaskan untuk mendampingi satu kecamatan tertentu.

Pendanaan program ini pun kreatif. Tidak hanya mengandalkan APBD, program ini juga memanfaatkan anggaran swadaya dan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, bantuan langsung seperti telur dan makanan bergizi juga diberikan kepada anak-anak berisiko stunting.

“Satu kecamatan, satu dampingan OPD dan rumah sakit. Manakala ada yang berisiko stunting dan membutuhkan perawatan lebih, kita rujuk sesuai dampingan,” jelasnya.

Kedua, Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP). Praktik baik ini dimulai pada 2023 dan berpedoman pada Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 59 Tahun 2023 tentang Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku.

Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Banyumas gencar menyosialisasikan enam pesan kunci pencegahan stunting hingga ke tingkat desa dan keluarga. Enam pesan itu ialah ibu hamil minum TTD; ibu hamil mengikuti kelas ibu hamil; ibu dan pengasuh menerapkan praktik Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) sesuai anjuran; ibu atau pengasuh membawa anak ke posyandu untuk pemantauan tumbuh kembang; ibu, anak, dan anggota keluarga lain menerapkan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan air mengalir; serta ibu, anak, dan anggota keluarga lainnya menggunakan jamban sehat.

“Jadi, kita punya tim konvergensi yang melibatkan semua pihak. Tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga semua pihak, termasuk mitra pembangunan hingga pemangku kepentingan,” bebernya.

Ketiga, WAMOLISA atau Wangon Monitoring Tilik Desa di Kecamatan Wangon. Program ini mendorong optimalisasi anggaran desa untuk penanganan stunting, peningkatan kualitas pemberian makanan tambahan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan pendampingan keluarga.

Keempat, Kampung Bebas Asap Rokok (KBAR). Inilah inovasi yang paling mendapat sorotan karena langsung menyentuh akar masalah perilaku. Inisiatif ini muncul murni dari Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok.

Melalui KBAR, masyarakat didorong untuk tidak merokok di dalam rumah demi melindungi ibu hamil dan anak dari paparan asap rokok. Bahkan, anak-anak di bawah usia tertentu juga tidak diperbolehkan membeli rokok. Inovasi ini telah mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.

“Karena dari 14 ribu sekian anak yang stunting di Kabupaten Banyumas itu, 74 persennya di rumahnya ada perokok,” ungkap Dedy.

Masyarakat setempat berkomitmen menurunkan stunting dengan mengoptimalkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui penerapan Perda Nomor 26 Tahun 2016. Di desa ini, aturan diterapkan secara ketat. Anak di bawah 15 tahun dilarang keras membeli rokok di warung, dan merokok di dalam rumah menjadi pantangan.

“Inisiatif dari desanya sendiri. Bahkan, inovasi ini sudah diakui di tingkat nasional dan mendapatkan penghargaan dari menteri terkait inovasi,” ungkap Dedy.

Kelima, Kasih Jeruk Putut atau Kader ASI Hebat Jejaring untuk Kesehatan Purwokerto Utara. Program ini lahir untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif yang saat itu masih rendah, sekaligus memperkuat pendampingan ibu menyusui melalui jejaring kader kesehatan.

Lebih lanjut, Dedy menyebut Pemkab Banyumas juga menggandeng berbagai mitra pembangunan, salah satunya Tanoto Foundation. Kolaborasi ini turut mendukung penanganan stunting, mulai dari penyusunan program, Focus Group Discussion (FGD), hingga pendirian Rumah Anak SIGAP sebagai ruang belajar pola pengasuhan anak usia 0 sampai 3 tahun.

“Kita punya tim konvergensi yang melibatkan semua pihak. Jadi, tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi semua pihak, termasuk pemangku kepentingan. Alhamdulillah, untuk mempercepat penurunan stunting itu ada Tanoto Foundation yang mendukung kami,” kata Dedy.

Menurutnya, Rumah Anak SIGAP menjadi wadah bagi orang tua untuk belajar parenting hingga pengasuhan setara antara ibu dan ayah. Di Rumah Anak SIGAP, para orang tua belajar mengenai tummy time, stimulasi sensorik dan motorik, serta berbagai praktik stimulasi dini yang dapat mendukung tumbuh kembang anak. Anak-anak bersama orang tua juga bisa praktik langsung bersama kader. Mereka akan dibagi ke dalam kelas-kelas sesuai usia.

Dedy berharap Rumah Anak SIGAP yang berada di Desa Sokawera bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain. Menurutnya, keberhasilan menekan stunting sangat bergantung pada perubahan perilaku keluarga. Karena itu, keterlibatan ayah menjadi faktor penting. Semangat tersebut sejalan dengan program Kelas Bapake Mamake yang selama ini dijalankan untuk mengedukasi pasangan suami istri agar bersama-sama bertanggung jawab terhadap kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak.

“Kita harapkan, dengan kolaborasi ini, penurunan stunting bisa lebih cepat,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#kelas bapake mamake #pemkab banyumas #penanganan stunting #rumah anak sigap #tanoto foundation