RADARSEMARANG.ID, Banyumas - Upaya serius Pemerintah Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, dalam menangani masalah stunting membuahkan hasil membanggakan. Desa yang terletak di lereng Gunung Slamet ini berhasil meraih penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas atas keberhasilannya menurunkan angka stunting secara signifikan.
Piagam penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, kepada Kepala Desa Sokawera, Mukhayat, pada acara Pra-Musrenbang Tematik Stunting yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Senin (9/3/2025) lalu. Penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen Desa Sokawera dalam mendukung program prioritas nasional percepatan penurunan stunting.
Kepala Desa Sokawera, Mukhayat, mengatakan penghargaan ini tidak datang secara tiba-tiba. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak di desa dalam menekan angka stunting, mulai dari pemerintah desa, kader kesehatan, hingga kelompok PKK.
"Awal mula kami menjadi lokus stunting. Kemudian kami membentuk TPPS atau tim percepatan penurunan stunting di tingkat desa yang didampingi kecamatan dan kabupaten. Kami bersama-sama dengan kader kesehatan desa, PKK, dan semua pihak terkait berupaya menurunkan angka stunting itu," jelas Mukhayat.
Ia menjelaskan, berbagai langkah dilakukan untuk menekan angka stunting. Di antaranya identifikasi anak yang mengalami stunting, pemberian makanan tambahan bergizi, hingga edukasi pola asuh kepada orang tua.
"Anak-anak yang stunting diberi makanan tambahan yang bergizi dan bernutrisi. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah edukasi pola asuh dan cara pemberian makan," katanya.
Upaya tersebut dilakukan secara rutin dan dievaluasi setiap bulan oleh tim percepatan penurunan stunting desa. Berkat kerja keras tersebut, Desa Sokawera berhasil mencatatkan penurunan angka stunting yang signifikan. Dari tahun 2024 hingga 2025, prevalensi stunting di desa ini turun sekitar 4 persen, dari 21 persen menjadi 17 persen. Pihaknya pun menargetkan angka tersebut bisa turun hingga minimal 16 persen pada tahun mendatang.
"Penurunan sekitar 4 persen itu cukup besar. Sekarang tinggal sekitar 1 persen lagi untuk mencapai ambang 16 persen," tegasnya.
Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari pendampingan Tanoto Foundation melalui program Rumah Anak SIGAP.
Ia menjelaskan, Rumah Anak SIGAP diresmikan pada tahun 2023 lalu dan hingga kini menjadi pusat layanan pengasuhan serta pembelajaran dini bagi anak usia 0-3 tahun. Program ini memberikan pendampingan mulai dari penyediaan sarana, pelatihan, stimulasi tumbuh kembang anak, hingga edukasi terkait pencegahan stunting.
"Pendampingan dari Tanoto Foundation selama tiga tahun. Ada pelatihan, edukasi, hingga pengembangan sarana seperti Rumah Anak SIGAP," ungkapnya.
Kini, setelah masa pendampingan Tanoto Foundation selesai pada tahun 2025, pengelolaan Rumah Anak SIGAP telah diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa dan dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat dengan nama Bina Keluarga Balita (BKB) Kartini.
Fasilitas tersebut dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak sekaligus sarana edukasi bagi orang tua terkait pengasuhan dan pemenuhan gizi anak.
Mukhayat menegaskan, peningkatan derajat kesehatan masyarakat menjadi salah satu prioritas pemerintah desa. Menurutnya, kesehatan menjadi dasar bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berkembang.
"Bagi kami, pemerintah desa, peningkatan derajat kesehatan masyarakat adalah kewajiban. Karena semua aktivitas berawal dari kondisi masyarakat yang sehat," tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi