RADARSEMARANG.ID - Di Kabupaten Banyumas, letaknya di Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng.
Tak banyak orang tahu bahwa di wilayah ini terdapat sebuah penangkaran buaya yang dimiliki oleh seorang warga bernama Fatah Arif Suryanto.
Penangkaran ini menjadi satu-satunya penangkaran berijin resmi dan yang terbesar di wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Berawal dari kesukaan Fatah terhadap binatang reptil, akhirnya ia membangun fasilitas penangkaran untuk buaya ini di tahun 2016 atas izin BKSDA.
Izin itu berdasarkan Keputusan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah, Nomor: SK.262/IV-K.11/KKH/2016.
Didalamnya ada sekitar 86 ekor buaya dari berbagai jenis, serti Buaya Muara (Crocodylus Porosus), Buaya Papua (Crocodylus Novaeguineae), dan Buaya Senyulong (Tomistoma Schlegelii).
Tempat ini dibuka untuk umum dan boleh dikunjungi masyarakat dalam upaya edukasi dan sosialisasi terkait binatang reptil buaya.
Selain itu, Fatah Arif menyatakan bahwa dirinya akan mempersilahkan masyarakat yang hendak belajar lebih dalam tentang buaya untuk langsung ke lokasi penangkaran.
Ia menyatakan dengan terbuka akan menerima mahasiswa ataupun pelajar yang ingin melakukan penelitian di penangkaran miliknya.
Menurut Fatah Arif, sekitar 80% presentase buaya yang ada di penangkaran miliknya ini merupakan titipan dari negara melalui pihak BKSDA.
" Dimana 80% buaya adalah titipan negara, melalui BKSDA yang diserahkan dari masyarakat yang piara tanpa ijin," Ujar Fatah Arif dilansir @purwokertokeren.
Penangkaran Buaya Dawuhan menjadi salah satu tempat alokasi utama bagi buaya hasil evakuasi buaya sitaan BKSDA di Jawa Tengah.
Bahkan beberapa ekor buaya yang kini jadi koleksi Penangkaran Dawuhan didapatkan dari sitaan BKSDA dari masyarakat Yogyakarta.
Selain buaya hasil pemeliharaan masyarakat secara ilegal, penangkaran ini juga digunakan sebagai tempat alokasi buaya liar hasil tangkapan atau yang membahayakan masyarakat sebelumnya.
Selain di Dawuhan, Kabupaten Banyumas, penangkaran lain untuk jenis reptil buaya di Jawa Tengah ada di Semarang Zoo.
Editor : Baskoro Septiadi