Oleh: Normalia Eka Pratiwi, S.Pd.SD., M.Pd.
RADARSEMARANG.ID - Layar interaktif bisa dipasang dalam sehari. Namun, mengubah cara guru mengajar dan anak belajar membutuhkan proses jauh lebih panjang. Kini, digitalisasi sekolah semakin mudah dikenali melalui perangkat canggih, jaringan internet, dan aneka aplikasi pembelajaran. Di balik kemajuan itu, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah teknologi benar-benar mengubah pengalaman belajar peserta didik? Layar boleh menyala terang, tetapi ruang kelas belum tentu hidup. Anak masih bisa duduk pasif, menunggu penjelasan, dan sekadar mengikuti instruksi. Padahal, kemajuan pendidikan seharusnya tercermin dari keberanian anak bertanya, mencoba, berdiskusi, dan menemukan pengetahuan. Di sinilah transformasi digital sekolah menghadapi ujian sesungguhnya.
Digitalisasi pendidikan membutuhkan arah yang lebih jelas. Selama ini, kecanggihan fasilitas kerap menjadi ukuran kemajuan sekolah. Ruang kelas dengan perangkat modern dianggap lebih siap menghadapi masa depan, meski kualitas pembelajaran belum tentu berubah. Materi yang dahulu ditulis di papan tulis kini berpindah ke layar, sementara komunikasi guru dan peserta didik masih berlangsung satu arah. Global Education Monitoring Report Team (2023) mengingatkan pentingnya menempatkan kepentingan peserta didik sebagai dasar penggunaan teknologi pendidikan. Pesan ini relevan untuk mengoreksi cara pandang terhadap digitalisasi. Keberhasilan teknologi semestinya dinilai dari manfaatnya dalam memperluas interaksi, memperdalam pemahaman, dan membuka kesempatan belajar bagi setiap anak.
Hasil supervisi akademik di SD Negeri 2 Kutoharjo, sekolah yang saya pimpin, membuka persoalan serupa. Dari 12 guru, sebanyak enam guru telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran, sementara enam lainnya masih jarang menggunakannya. Pada salah satu kelas berjumlah 34 peserta didik, hanya sepuluh anak atau sekitar 29,4 persen yang menunjukkan keterlibatan aktif. Temuan tersebut memang terbatas pada satu kelas, tetapi cukup menjadi alarm untuk melakukan perbaikan. Saya kemudian bertanya, mengapa pemanfaatan teknologi belum merata? Mengapa sebagian anak masih pasif? Apakah persoalannya terletak pada keterampilan digital guru, rancangan pembelajaran, atau lemahnya pendampingan? Pertanyaan inilah yang mendorong pencarian solusi.
Akar persoalan tersebut membawa perhatian saya pada tindak lanjut supervisi akademik. Di banyak sekolah, supervisi berpotensi berhenti sebagai kegiatan observasi, pengisian instrumen, dan penyampaian rekomendasi. Guru mengetahui kekurangan pembelajaran, tetapi masih membutuhkan arahan untuk memperbaikinya. Perubahan cara mengajar memerlukan pendampingan, kesempatan mencoba, dan ruang refleksi. OECD (2024) menempatkan mentoring, instructional coaching, dan komunitas belajar profesional sebagai pendekatan penting dalam pengembangan praktik guru. Karena itu, kepemimpinan kepala sekolah perlu bergerak lebih dekat dengan persoalan di ruang kelas. Supervisi harus membuka jalan bagi pembimbingan yang berkelanjutan. Guru memerlukan mitra berpikir yang membantu menemukan solusi, menguji strategi, dan mengevaluasi hasilnya.
Kebutuhan tersebut melahirkan SIRKUIT, singkatan dari Siklus Inovasi dan Refleksi Kolaboratif untuk Integrasi TIK Adaptif. Saya mengembangkan model ini sebagai pola pembimbingan yang menghubungkan supervisi akademik dengan perbaikan praktik mengajar. SIRKUIT memiliki tujuh tahapan, yakni Scan, Ideate, Realize, Kaji, Upgrade, Integrate, dan Transmit. Siklus dimulai dengan memetakan masalah, menyusun rancangan bersama, melaksanakan pembelajaran, mengkaji hasil observasi, memperbaiki strategi, menerapkan hasil perbaikan, hingga berbagi praktik baik. Setiap tahapan menjadi pijakan bagi langkah berikutnya. Fokusnya terletak pada kemampuan guru membaca kebutuhan peserta didik dan memilih teknologi secara tepat. Melalui SIRKUIT, perubahan diupayakan tumbuh dari persoalan nyata di kelas.
SIRKUIT dijalankan melalui pendekatan Lesson Study dengan tahapan Plan, Do, dan See. Guru menyusun rancangan bersama, melaksanakan open class, lalu mengkaji proses belajar berdasarkan pengamatan. Kepala sekolah hadir sebagai pembimbing, mentor, dan fasilitator refleksi. Guru yang lebih berpengalaman dalam pemanfaatan TIK turut mendampingi rekan sejawat. Dari ruang refleksi, kebiasaan baru antarguru mulai tumbuh. Percakapan yang semula berkutat pada pilihan aplikasi bergeser menuju kebutuhan belajar anak. Guru mulai mendiskusikan penyebab peserta didik pasif, efektivitas media, dan strategi meningkatkan partisipasi. Kelas pun menjadi ruang belajar bersama bagi para pendidik. Melalui proses ini, hasil supervisi memperoleh tindak lanjut yang lebih nyata.
Langkah pertama berlangsung pada Fase A melalui pembelajaran Bahasa Indonesia kelas I tentang tanda tanya dan tanda seru. Guru menggabungkan video animasi, Wordwall, Educaplay, Papan Interaktif Digital, serta permainan konkret Toko Tanda Tanya dan Tanda Seru. Anak-anak diajak mengamati gambar, mengenali fungsi tanda baca, bermain, menulis kalimat, dan menyampaikan hasilnya. Aktivitas tersebut dirancang sesuai kebutuhan peserta didik kelas rendah yang gemar bereksplorasi melalui gambar dan permainan. Hasil observasi memperlihatkan respons positif terhadap perpaduan media digital dan aktivitas langsung. Pelajaran pentingnya sederhana: teknologi menjadi lebih bermakna ketika anak memperoleh kesempatan mencoba, berinteraksi, dan mengekspresikan pemahamannya.
Pada Fase B, pembimbingan berlanjut melalui pembelajaran IPAS kelas III tentang pancaindra. Guru memanfaatkan YouTube, visualisasi tiga dimensi Sketchfab, Wordwall, flashcard, dan benda konkret. Media tersebut dipadukan dengan Problem Based Learning serta diferensiasi pembelajaran. Peserta didik mengamati objek, melakukan penyelidikan sederhana, berdiskusi, lalu mempresentasikan hasilnya. Visualisasi digital membantu memperjelas konsep, sedangkan benda konkret menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Pola ini memperlihatkan pergeseran penting dari kegiatan menyimak menuju eksplorasi. Anak memperoleh ruang untuk menguji rasa ingin tahu, bertukar gagasan, dan membangun pemahaman bersama. Teknologi pun menjadi bagian dari proses penyelidikan yang lebih aktif.
Penguatan berikutnya dilakukan pada Fase C melalui pembelajaran Matematika kelas VI tentang rasio. Guru memadukan Okedo, PowerPoint, Wordwall, proyektor, serta lembar kerja bertema Makan Bergizi Gratis. Konsep rasio dihadirkan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Anak mengamati masalah, melakukan perhitungan, berdiskusi, menyusun penyelesaian, dan mempresentasikan hasil kelompok. Media digital membantu memperjelas konsep, sementara diskusi mendorong peserta didik menyampaikan alasan di balik jawabannya. Pada tahap ini, pemanfaatan teknologi diarahkan untuk mendukung pemecahan masalah, penalaran, dan refleksi. Proses belajar menjadi lebih kontekstual karena matematika dihubungkan dengan situasi yang akrab bagi anak.
Tiga fase tersebut memberikan pelajaran berharga tentang perubahan praktik guru. Hasil observasi memperlihatkan perkembangan positif dalam pemilihan media, rancangan aktivitas, refleksi, dan kolaborasi. Antusiasme serta partisipasi peserta didik juga menunjukkan kecenderungan membaik, meski data kuantitatif sebelum dan sesudah belum terkumpul secara lengkap pada seluruh fase. Tantangan lain datang dari keterbatasan perangkat. Sekolah hanya memiliki satu Papan Interaktif Digital sehingga penggunaannya harus bergiliran. Kondisi ini sejalan dengan prinsip Modul 125 yang mengarahkan pemilihan strategi Low-Tech, Medium-Tech, atau High-Tech berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan sarana (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, 2026). Saya memperoleh satu pelajaran penting: ketepatan mengajar lebih menentukan daripada kecanggihan perangkat. Teknologi sederhana tetap bernilai ketika digunakan untuk menjawab kebutuhan belajar.
Transformasi digital pendidikan akhirnya berpulang pada manusia yang menggerakkannya. Infrastruktur perlu diperkuat, kompetensi guru harus terus dikembangkan, dan kepala sekolah dituntut membangun budaya refleksi. Pengalaman SIRKUIT memperlihatkan bagaimana perubahan dapat dimulai dari hasil supervisi, tumbuh melalui pembimbingan, lalu berkembang menjadi kebiasaan belajar bersama. Semangat ini sejalan dengan peribahasa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Perubahan sekolah memerlukan kerja kolektif, bukan perjuangan individual. Pepatah alah bisa karena biasa juga mengingatkan pentingnya latihan dan pembiasaan dalam membangun kompetensi profesional. Saya percaya, masa depan pendidikan ditentukan oleh kesediaan guru untuk terus belajar dan keberanian kepala sekolah memimpin perubahan. Sebab, sekolah yang maju bukanlah sekolah dengan layar paling terang, tetapi sekolah yang mampu menyalakan pikiran setiap anak.
Kepala SD Negeri 2 Kutoharjo, Kaliwungu, Kabupaten Kendal
Editor : Baskoro Septiadi