RADARSEMARANG.ID – Serangan siber saat ini tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi perusahaan besar, lembaga pemerintah, atau institusi keuangan. Pengguna internet biasa justru semakin sering menjadi sasaran utama para pelaku kejahatan digital karena dianggap memiliki tingkat perlindungan yang lebih rendah dan jumlah korbannya jauh lebih banyak.
Perkembangan teknologi digital membuat hampir setiap orang kini memiliki banyak akun online. Mulai dari akun media sosial, layanan belanja daring atau e-commerce, email pribadi, hingga aplikasi perbankan digital. Banyaknya akun yang digunakan masyarakat membuka peluang lebih besar bagi pelaku kejahatan siber untuk mencari celah dan melakukan serangan.
Salah satu metode serangan siber yang masih paling banyak digunakan hingga saat ini adalah phishing. Modus ini dilakukan dengan cara menipu korban agar secara sukarela memberikan informasi penting seperti kata sandi, kode OTP, nomor rekening, hingga data pribadi lainnya.
Pelaku phishing biasanya menyamar sebagai pihak yang dipercaya oleh masyarakat. Mereka dapat berpura-pura menjadi perwakilan bank, perusahaan ekspedisi, marketplace, layanan pembayaran digital, atau bahkan teman dan keluarga korban.
Dengan menggunakan identitas palsu tersebut, pelaku berusaha membuat korban merasa panik atau penasaran sehingga mengikuti instruksi yang diberikan. Misalnya, korban diminta mengklik sebuah tautan, memperbarui data akun, mengonfirmasi transaksi tertentu, atau memasukkan kode keamanan.
Jika korban tidak berhati-hati, informasi yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk mengambil alih akun hingga melakukan pencurian uang.
Meski metode phishing sudah lama dikenal, pola serangan yang dilakukan pelaku kini semakin sulit dikenali. Jika sebelumnya email penipuan sering terlihat mencurigakan karena banyak kesalahan penulisan atau bahasa yang tidak rapi, kini pelaku mampu membuat pesan yang jauh lebih profesional dan meyakinkan.
Perubahan besar tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi AI kini dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menyusun pesan penipuan yang terlihat lebih alami dan menyerupai komunikasi resmi.
Dikutip dari Reuters, Senin (20/7/2026), chatbot AI populer dapat membantu membuat email phishing yang lebih meyakinkan, bahkan memberikan rekomendasi mengenai isi pesan dan waktu pengiriman agar peluang korban merespons menjadi lebih besar.
Kemampuan AI tersebut membuat aksi penipuan digital menjadi semakin cepat, murah, dan dapat dilakukan dalam skala yang lebih luas. Pelaku tidak perlu lagi membuat pesan secara manual satu per satu karena teknologi dapat membantu menghasilkan banyak variasi pesan untuk berbagai target.
Bagi pelaku kejahatan siber, menyerang ribuan pengguna internet secara bersamaan sering kali dianggap lebih menguntungkan dibandingkan mencoba membobol satu perusahaan besar yang memiliki sistem keamanan ketat.
Mereka hanya membutuhkan sebagian kecil korban yang berhasil diperdaya untuk mendapatkan keuntungan besar. Bahkan, satu akun yang berhasil diretas dapat menjadi pintu masuk menuju berbagai informasi penting lainnya.
Ancaman serangan siber tidak hanya berkaitan dengan kehilangan uang. Data pribadi pengguna juga menjadi target yang memiliki nilai tinggi di dunia kejahatan digital.
Informasi seperti alamat email, nomor telepon, identitas pribadi, hingga data akun login dapat diperjualbelikan melalui forum ilegal. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan penipuan lanjutan, pencurian identitas, atau serangan siber berikutnya.
Kebiasaan pengguna yang menggunakan password sama untuk banyak akun juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko keamanan digital.
Ketika satu akun berhasil diretas, pelaku biasanya akan mencoba kombinasi email dan password yang sama pada berbagai layanan lain. Jika berhasil, pelaku dapat mengambil alih banyak akun sekaligus.
Karena itu, masyarakat perlu mulai meningkatkan kesadaran terhadap keamanan digital. Penggunaan password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko pencurian akun.
Selain menggunakan password unik, pengguna internet juga disarankan mengaktifkan autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA). Fitur ini memberikan lapisan keamanan tambahan karena membutuhkan verifikasi lain selain password, seperti kode yang dikirim melalui aplikasi autentikasi atau perangkat terpercaya.
Langkah sederhana lainnya adalah selalu memeriksa alamat situs sebelum memasukkan informasi pribadi. Banyak kasus penipuan terjadi karena korban masuk ke situs palsu yang memiliki tampilan hampir sama dengan situs resmi.
Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap pesan yang meminta tindakan cepat, terutama jika berkaitan dengan hadiah, transaksi mencurigakan, akun yang akan diblokir, atau permintaan kode keamanan.
Baca Juga: Update Transfer Liga 2 2026/2027, Transfer Mengejutkan, PSMS Medan Datangkan Daniel Roken Tampubolon
Perusahaan teknologi dan lembaga keuangan memang terus meningkatkan sistem keamanan untuk melawan ancaman siber. Namun, pengguna tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan digital karena banyak serangan berhasil terjadi akibat kelengahan manusia.
Di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, kemampuan masyarakat dalam mengenali modus penipuan digital menjadi semakin penting. Pelaku kejahatan mungkin terus menemukan cara baru untuk menyerang, tetapi pengguna yang memiliki pengetahuan dan kebiasaan keamanan yang baik dapat memperkecil peluang menjadi korban.
Serangan siber bukan lagi ancaman yang jauh dan hanya terjadi pada perusahaan besar. Setiap pengguna internet yang memiliki akun digital berpotensi menjadi target. Oleh sebab itu, menjaga keamanan password, mengaktifkan fitur perlindungan tambahan, serta tidak mudah percaya terhadap pesan mencurigakan menjadi langkah penting untuk melindungi data pribadi di era digital.
Dengan meningkatnya kesadaran keamanan siber, masyarakat dapat tetap memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa harus menjadi korban dari ancaman digital yang semakin canggih.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi