Oleh: Sri Walji Hasthanti, M.Pd.
RADARSEMARANG.ID--Pergantian tahun ajaran baru saja dimulai dan pembelajaran pun telah dirancang lebih baik dari tahun sebelumnya. Siswa maupun guru menghadapi suasana kelas yang berbeda, membiasakan diri dengan kesepakatan bersama, juga menyesuaikan dengan kebiasaan individu siswanya. Tidak ada yang sama seperti kemarin.
Ada banyak harapan orang tua agar putra-putrinya menjadi lebih baik. Tidak jarang pada sekolah dengan kelas paralel meminta agar anaknya tidak jadi satu dengan si Anu, atau meminta agar tetap jadi satu kelas dengan si Ini, bahkan ada kekhawatiran jika anaknya nanti satu kelas dengan si Itu.
Adaptasi guru terhadap situasi baru memerlukan pemikiran yang luas, bijak, hati yang lapang, serta pandangan positif bahwa setiap siswa sedang tumbuh, berubah sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Dengan situasi kelas yang baru, tidak menutup kemungkinan siswa akan bertemu dengan teman-teman baru yang dulu tidak satu kelas. Mereka akan bertemu dengan banyak teman dengan karakter yang berbeda. Hal inilah yang kadang menjadi masalah bagi siswa, guru, maupun orang tua. Gesekan antar siswa hingga terjadi kekerasan fisik sering kali terjadi.
Terkadang, orang dewasa di sekitar siswa atau orang tuanya sendiri mengajarkan saat mengalami kekerasan oleh teman dengan cara membalas, jika dipukul maka harus dibalas dengan pukulan. Mungkin orang tua khawatir saat anaknya mengalami kekerasan, sehingga yang paling mudah adalah membalas. Sering kali hal ini disertai dengan dugaan perundungan. Namun bernarkah siswa tersebut mengalami perundungan? Bagaimana jika ternyata dia sendiri yang melakukan kekerasan terhadap temannya dan seolah dia hanyalah korban?
Sebaiknya orang dewasa tidak mengajari membalas memukul ketika siswa dipukul. Hal ini bukan berarti mengajari siswa menjadi lemah dan pasrah. Membalas kekerasan dengan kekerasan tidak akan mengajari anak menjadi bijak, justru akan membuat anak menjadi sosok pendendam dan menganggap perilaku kekerasan adalah solusi yang tepat. Perilaku membalas dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan meningkatkan eskalasi masalah di lingkungan sekolah/kelas.
Jika memang tujuan utamanya adalah membela diri, ajarkan teknik aman bagi siswa untuk menghindari perilaku kekerasan temannya. Misalnya, berhati-hati ketika bermain bersama, tidak bermain yang membahayakan, tidak mendekat pada siswa yang temperamen/kasar, atau berlari menjauhi tempat masalah.
Hal yang tidak kalah penting adalah mengajarkan anak untuk tidak meladeni siswa yang sedang melakukan agresi, baik bersifat fisik maupun verbal, kemudian ceritakan kepada guru atau orang dewasa yang ada di sekitarnya. Ketika guru mendapatkan laporan adanya kekerasan siswa terhadap siswa lain, guru harus berkepala dingin untuk meruntut kejadiannya. Hadirkan saksi, yakni siswa lain yang melihat kejadian sebenarnya, kemudian melihat seberapa parah akibat perbuatan temannya. Kalau memang parah, guru perlu melibatkan sekolah dan memberitahukan kepada orang tua siswa.
Satu hal yang perlu guru dan orang tua perhatikan adalah laporan anak tentang perundungan terhadap diri siswa tersebut. Tidak jarang siswa melaporkan kepada orang tuanya bahwa ia menjadi korban perundungan, padahal sebenarnya tidak. Tidak semua tindak kekerasan fisik maupun verbal adalah perundungan.
Perundungan merupakan tindakan yang dilakukan individu atau pihak tertentu yang lebih kuat untuk menyakiti, mempermalukan, menindas seseorang dan dilakukan berulang-ulang, dengan tujuan agar korban menderita, dan tidak berdaya. Namun, jika kekerasan terjadi karena bermain bersama, kesalahpahaman, atau bertengkar dengan teman, bukan termasuk perundungan.
Guru dan orang tua harus dapat berkomunikasi dan mengajarkan sikap lembut terhadap orang lain, termasuk teman di sekolah. Tidak jarang perangai orang dewasa di sekitar siswa akan menjadi tempat belajar dan model, seperti berkata dan perperilaku kasar. Guru juga dapat menyisipkan karakter baik pada setiap pembelajaran, mengkampanyekan antikekerasan dan perundungan, serta membiasakan komunikasi terbuka agar siswa nyaman untuk berinteraksi dan belajar di kelas. (*)
Guru SD Muhammadiyah Plus 1 Kota Salatiga
Editor : H. Arif Riyanto