Oleh: Taufiq Anwar
RADARSEMARANG.ID—Di tengah derasnya arus digitalisasi, siswa sekolah dasar semakin akrab dengan gadget. Mereka bukan hanya menjadi pengguna aktif media sosial dan game online, tetapi juga telah memperlihatkan pergeseran yang mencolok dalam cara berbahasa dan berinteraksi sosial. Fenomena ini tidak lagi bersifat kasuistik, melainkan telah menjadi gejala umum yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia, baik di perkotaan maupun di wilayah semi-perkotaan dan pedesaan. Anak-anak yang sebelumnya mengandalkan interaksi langsung dengan teman sebaya dalam permainan tradisional seperti petak umpet, engklek, atau gobak sodor, kini lebih memilih tenggelam dalam dunia virtual melalui layar ponsel.
Bahasa yang digunakan pun berubah mengikuti tren digital. Mereka lebih fasih dengan istilah “mabar” (main bareng), “AFK” (away from keyboard), “noob” (pemula), atau “nge-lag” daripada menggunakan ungkapan sopan santun seperti “permisi,” “terima kasih,” atau “tolong.” Pergeseran ini bukan sekadar soal diksi, tetapi mencerminkan pola berpikir dan cara berkomunikasi yang kian menjauh dari nilai-nilai sosial dan budaya lokal.
Dalam banyak kasus, kosa kata yang diperoleh anak dari game atau media sosial tidak memiliki dimensi etika, empati, dan kesopanan. Mereka terbiasa dengan komunikasi satu arah, respons cepat tanpa refleksi, bahkan kata-kata kasar yang normal dalam lingkungan virtual. Hal ini berdampak pada terbentuknya sikap impulsif dan individualistik. Anak-anak semakin sulit mengekspresikan emosi secara sehat, sulit menyimak orang lain dalam percakapan tatap muka, dan minim keterampilan dalam menyelesaikan konflik secara dialogis.
Yang lebih memprihatinkan, banyak orang tua maupun pendidik belum sepenuhnya menyadari bahwa perubahan bahasa ini bukanlah hal yang netral. Bahasa adalah refleksi dari cara berpikir dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Jika anak sejak dini terbiasa dengan bahasa digital yang minim nuansa sopan santun, maka dikhawatirkan nilai-nilai luhur bangsa seperti tenggang rasa, tepa selira, dan unggah-ungguh dalam berbahasa akan memudar bahkan punah dari generasi mendatang.
Situasi ini seharusnya menjadi sorotan utama dalam dunia pendidikan, sebab jenjang SD merupakan tahap krusial dalam proses pembentukan keterampilan dasar anak, baik secara sosial, moral, maupun linguistik. Pada usia ini, anak sedang berada dalam masa membentuk kepribadian dan kebiasaan berbahasa yang kelak menjadi pondasi perilaku dan interaksi mereka di masa depan. Idealnya, masa ini diisi dengan pengalaman interaktif yang memperkaya kemampuan mereka dalam berbicara santun, menyimak dengan empati, dan menjalin relasi sosial yang sehat.
Namun, jika sejak usia dini anak dibiarkan terpapar dominasi dunia digital yang menyajikan konten serba cepat dan minim kedalaman makna, maka perkembangan sosial dan kebahasaan mereka akan terdampak secara signifikan. Anak menjadi terbiasa dengan komunikasi singkat dan dangkal, serta kehilangan kesempatan untuk belajar berinteraksi secara nyata dan penuh kesadaran emosional. Hal ini menjauhkan mereka dari pengalaman sosial yang utuh, dan menanamkan pola pikir yang cenderung instan serta individualistik.
Perkembangan Kognitif
Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak-anak pada usia SD memasuki tahap operasional konkret, di mana mereka mulai memahami aturan-aturan sosial dan mengembangkan kemampuan berpikir logis berdasarkan pengalaman nyata. Pada periode ini, interaksi langsung dengan lingkungan dan teman sebaya sangat penting sebagai sarana pembentukan nilai, norma, dan kebiasaan yang menjadi fondasi perkembangan sosial dan kognitif.
Namun, kemajuan teknologi digital kini membuat anak-anak lebih banyak berinteraksi melalui layar gadget daripada melalui kontak langsung, yang menghambat proses belajar sosial dan bahasa mereka. Hal ini bertentangan dengan pandangan Lev Vygotsky yang menyatakan bahwa interaksi sosial yang bermakna menjadi dasar utama dalam perkembangan bahasa dan cara berpikir anak. Ketika komunikasi lebih banyak berlangsung dalam bentuk obrolan virtual yang singkat dan kurang ekspresi emosional, kesempatan anak untuk melatih kemampuan mendengarkan, memahami bahasa tubuh, dan merespons dengan empati menjadi sangat terbatas, sehingga dapat menurunkan kualitas perkembangan bahasa formal dan keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Secara nasional, Kurikulum Merdeka telah menekankan pentingnya penguatan karakter dan literasi. Namun di lapangan, banyak guru dan orang tua yang belum siap menghadapi dampak gadget terhadap perilaku anak SD. Banyak sekolah belum memiliki strategi literasi digital yang kuat. Anak-anak dibiarkan menggunakan gawai tanpa pendampingan yang cukup. Dalam konteks ini, sekolah dan keluarga harus saling bekerja sama agar peran pendidikan tidak kalah dari pengaruh dunia maya.
Sekolah dasar bukan hanya tempat mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga ruang utama penanaman nilai. Ketika siswa SD lebih sering mendengar ujaran kasar dalam game online atau menyaksikan konten viral dengan bahasa yang tidak mendidik, maka secara perlahan standar kebahasaan mereka akan bergeser. Bahasa Indonesia yang santun mulai digeser oleh bahasa gaul digital. Interaksi sosial menjadi minim karena anak lebih nyaman bermain sendiri dengan gadget. Mereka kehilangan kemampuan menyapa, berbagi, menunggu giliran, atau menunjukkan empati secara nyata.
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan solusi pendidikan yang berbasis pada prinsip pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam tujuan SDG-4: Pendidikan Berkualitas. Beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain: pertama, Integrasi Literasi Digital di Sekolah Dasar Siswa perlu dikenalkan dengan penggunaan teknologi yang sehat dan etis sejak kelas rendah, bukan hanya dalam bentuk larangan, tetapi pengelolaan. Kedua, Penguatan Peran Guru sebagai Teladan Sosial dan Bahasa Guru SD harus diberi pelatihan untuk menjadi figur yang mampu membimbing siswa agar tetap menjaga etika berbahasa dan bersikap di tengah teknologi. Ketiga, Pemberdayaan Orang Tua Sekolah perlu menyelenggarakan parenting education secara berkala untuk mendampingi orang tua mengelola waktu layar dan pola komunikasi di rumah. Keempat, Revitalisasi Kurikulum Berbasis Nilai Lokal dan Kearifan Budaya Pembelajaran Bahasa Indonesia, IPS, dan muatan lokal perlu dikaitkan dengan praktik nyata penggunaan bahasa santun dan nilai sosial di kehidupan sehari-hari siswa Sekolah Dasar.
Gadget bukanlah musuh, tetapi alat. Di tangan siswa SD yang belum matang secara sosial-emosional, gadget bisa menjadi bumerang jika tidak diarahkan. Tugas kita bersama guru, orang tua, sekolah, dan pemerintah adalah memastikan bahwa teknologi tidak memutuskan akar sosial dan kebahasaan anak, tetapi justru memperkuatnya. Jika anak SD dibiarkan tumbuh tanpa arahan dalam dunia digital, maka bukan hanya pelajaran yang akan mereka tinggalkan, tetapi juga kearifan dalam berbicara dan bertindak. Maka mari kita jaga sekolah dasar sebagai benteng terakhir pembentukan karakter bangsa, di tengah derasnya gelombang digitalisasi. (*)
Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Editor : H. Arif Riyanto