Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Bermain Bebas, Belajar Tanpa Batas: Revolusi PAUD Lewat Loose Part

Radar Semarang • Jumat, 25 Juli 2025 | 18:33 WIB
Siti Qotijah, Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Siti Qotijah, Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus

Oleh: Siti Qotijah

RADARSEMARANG.ID—Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi penting dalam sistem pendidikan nasional. Namun, realitas yang terjadi di berbagai pelosok Indonesia menunjukkan masih banyak tantangan yang belum selesaikan secara komprehensif. Mulai dari rendahnya akses, kualitas pendidik yang belum merata, pendekatan pembelajaran yang masih kaku, hingga minimnya sarana yang mendukung pembelajaran bermakna. Tak jarang, PAUD diperlakukan hanya sebagai tempat penitipan anak, bukan sebagai tahap awal pendidikan formal yang berorientasi pada pengembangan potensi anak secara holistik.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi anak usia 3-6 tahun dalam pendidikan prasekolah masih menunjukkan disparitas tinggi antara daerah perkotaan dan pedesaan. Di sisi lain, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sering kali tidak sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang cenderung aktif, ingin tahu, dan belajar melalui permainan. Padahal, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

Secara global, pendekatan pendidikan anak usia dini telah bergeser dari model instruksional ke model yang lebih konstruktivistik. Jean Piaget, salah satu tokoh utama dalam psikologi perkembangan, menekankan bahwa anak belajar melalui interaksi aktif dengan lingkungannya. Permainan menjadi medium utama dalam proses ini. Vygotsky pun menegaskan pentingnya peran sosial dalam belajar anak melalui "zona perkembangan proksimal", di mana anak belajar lebih optimal saat dibantu oleh orang dewasa atau teman sebaya.

Di tingkat nasional, Kurikulum Merdeka memberikan angin segar dengan menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Prinsip pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan berbasis pengalaman nyata menjadi fokus utama. Dalam konteks PAUD, hal ini berarti guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang merangsang eksplorasi, imajinasi, dan kreativitas anak. Namun, tantangan muncul ketika pendekatan ini tidak dibarengi dengan penyediaan media yang mendukung.

Loose Part

Loose part adalah material lepas yang dapat dimanipulasi, digabungkan, dipisah, dibentuk ulang, dan diatur ulang dengan berbagai cara. Contohnya adalah batu, tutup botol, stik es krim, kain perca, kancing, kardus, dan benda bekas lainnya. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh Simon Nicholson (1971) yang percaya bahwa kreativitas anak akan tumbuh ketika mereka diberikan lingkungan dengan benda-benda yang dapat digunakan secara bebas dan fleksibel.

Dalam konteks PAUD, loose part menjadi solusi strategis. Pertama, loose part mendukung pembelajaran yang berorientasi pada anak (child-centered), di mana anak diberi kebebasan untuk menentukan cara bermain dan belajar mereka sendiri. Kedua, loose part sangat ekonomis dan berkelanjutan karena dapat berasal dari limbah rumah tangga yang bersih dan aman. Ketiga, loose part menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, koordinasi motorik halus, dan ekspresi seni pada anak.

Keempat, loose part menciptakan ruang bermain yang inklusif, di mana anak-anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi dapat belajar secara setara. Tidak ada dominasi mainan mahal, tidak ada stigma terhadap kemampuan anak. Semua dapat berkarya sesuai daya cipta dan daya khayalnya masing-masing. Dengan ini, loose part menjadi media demokratisasi pembelajaran di kelas PAUD.

Beberapa lembaga PAUD di Indonesia telah mulai mengadopsi loose part dalam aktivitas sehari-hari. Di Yogyakarta, misalnya, guru-guru PAUD di komunitas pendidikan alternatif merancang kegiatan bermain bebas menggunakan botol plastik, ranting pohon, dan kain perca. Anak-anak diajak menciptakan karya seni instalasi sederhana, rumah-rumahan, hingga kendaraan imajinatif yang mereka rancang sendiri.

Sementara di Bandung, salah satu taman kanak-kanak inklusif menerapkan pembelajaran berbasis loose part dengan pendekatan Reggio Emilia, di mana anak-anak diberi akses ke berbagai benda alam dan buatan yang dapat mereka pilih dan gunakan sesuai minat. Aktivitas tersebut didokumentasikan secara rutin, dianalisis bersama anak-anak, dan menjadi bagian dari portofolio perkembangan mereka.

Dari Nusa Tenggara Timur, seorang guru PAUD di desa pesisir memanfaatkan limbah laut seperti kerang, bambu kecil, dan potongan kayu untuk membuat alat permainan edukatif. Anak-anak belajar berhitung dengan biji-bijian, menyusun bentuk geometri dari batu-batu, dan membuat topeng dari pelepah pisang.

Ketiga contoh ini menunjukkan bahwa loose part sangat fleksibel, adaptif terhadap budaya lokal, serta dapat disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia.

Bermain dan seni adalah dua elemen yang tidak dapat dipisahkan dari dunia anak. Dengan mengintegrasikan loose part dalam aktivitas seni seperti kolase, konstruksi tiga dimensi, atau teater boneka, guru dapat memperkaya pengalaman belajar anak. Anak tidak hanya belajar mengenali bentuk, warna, dan tekstur, tetapi juga mengembangkan kemampuan naratif, komunikasi, dan sosial-emosional.

Kegiatan seni berbasis loose part juga membuka ruang bagi inklusi dan diferensiasi. Anak dengan kebutuhan khusus dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kemampuan mereka, sementara anak yang memiliki bakat seni dapat lebih dieksplorasi tanpa batasan kurikulum yang kaku. Selain itu, guru dapat mengaitkan aktivitas dengan konteks lokal, seperti menggunakan kerang dari pantai setempat atau batang pohon dari lingkungan sekitar.

Seni dan bermain dalam loose part juga memperkuat nilai-nilai karakter. Saat anak membuat karya kolaboratif, mereka belajar bekerja sama, menghargai ide teman, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Saat bermain drama boneka, mereka belajar mengekspresikan emosi, memahami peran sosial, dan mengembangkan empati.

Dari sudut pandang neuroscience, bermain bebas seperti yang difasilitasi oleh loose part, membantu stimulasi area prefrontal cortex yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, perencanaan, dan kontrol emosi. Aktivitas ini juga memicu sistem limbik untuk membentuk asosiasi positif terhadap belajar. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki pengalaman bermain bebas cenderung lebih resilien secara emosional dan memiliki perkembangan kognitif yang lebih optimal.

Sementara dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menyebutkan pentingnya tahapan inisiatif versus rasa bersalah pada usia prasekolah. Anak perlu ruang untuk mencoba, bereksperimen, dan mengambil keputusan sendiri. Loose part mendukung kebutuhan ini karena anak menjadi desainer utama atas aktivitas mereka. Mereka bebas mengatur, mencoba ulang, atau memodifikasi tanpa tekanan benar-salah yang kaku.

Penguatan pendidikan anak usia dini melalui metode bermain dan seni berbasis loose part bukan sekadar pendekatan pedagogis, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Anak-anak yang terbiasa berpikir kreatif, terbuka, dan mandiri sejak usia dini cenderung lebih adaptif di jenjang pendidikan berikutnya. Mereka memiliki pondasi kognitif, sosial, dan emosional yang lebih kuat, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan masa depan.

Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas, PAUD yang bermutu memiliki peran sentral. Pendidikan yang mengedepankan keberagaman, kesetaraan akses, dan metode inovatif seperti loose part merupakan jalan menuju transformasi sistem pendidikan nasional yang inklusif dan berkeadilan.

Loose part juga menjadi media untuk menumbuhkan minat sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika (STEAM) sejak dini. Misalnya, anak yang membuat menara dari stik es krim sedang belajar tentang keseimbangan (fisika), struktur (rekayasa), serta estetika (seni). Ini adalah bentuk pembelajaran lintas disiplin yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

Meski potensial, implementasi loose part di lapangan menghadapi sejumlah hambatan. Pertama, masih rendahnya pemahaman pendidik tentang pendekatan ini. Banyak guru PAUD belum mendapatkan pelatihan memadai tentang pembelajaran berbasis bermain dan seni. Kedua, persepsi masyarakat yang menganggap bermain sebagai aktivitas sekunder, bukan bagian integral dari pembelajaran.

Ketiga, keterbatasan infrastruktur dan kebijakan institusional di beberapa daerah membuat guru sulit berinovasi. Kurangnya anggaran dan keterbatasan dukungan dari pengelola lembaga menjadi faktor penghambat utama. Selain itu, belum tersedianya indikator evaluasi pembelajaran berbasis loose part membuat pendekatan ini belum sepenuhnya diadopsi secara luas.

Oleh karena itu, beberapa rekomendasi strategis dapat diberikan: pertama, pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi perlu menyediakan pelatihan intensif tentang pendekatan loose part dan pembelajaran aktif berbasis seni. Kegiatan ini harus bersifat praktis dan kontekstual, sesuai dengan kondisi lokal. Kedua, perubahan paradigma perlu dimulai dari pemahaman masyarakat. Orang tua perlu diberikan pemahaman bahwa bermain bukan sekadar hiburan, tetapi sarana belajar yang efektif bagi anak. Ketiga, Kementerian Pendidikan perlu menyusun modul atau buku panduan tentang penggunaan loose part yang mudah dipahami dan aplikatif bagi guru PAUD di seluruh Indonesia.

Keempat, dunia usaha, komunitas, dan pemerintah daerah dapat bekerja sama dalam penyediaan loose part dari limbah rumah tangga atau industri, sehingga terwujud ekonomi sirkular yang mendukung pendidikan berkelanjutan, Kelima, perguruan tinggi perlu dilibatkan dalam penelitian dampak loose part terhadap perkembangan anak usia dini untuk memperkuat bukti ilmiah yang dapat mendukung pengambilan kebijakan. Keenam, pemerintah perlu memasukkan prinsip-prinsip loose part ke dalam struktur kurikulum dan standar nasional pendidikan anak usia dini agar keberlanjutannya terjamin.

Revolusi dalam pendidikan anak usia dini tidak selalu membutuhkan anggaran besar atau teknologi canggih. Terkadang, perubahan besar dapat dimulai dari hal yang sederhana—seperti tutup botol, batu kecil, atau potongan kardus bekas. Melalui loose part, anak-anak diberi ruang untuk menjadi subjek pembelajaran, bukan sekadar objek. Mereka bermain bebas, belajar tanpa batas.

Jika Indonesia ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, maka investasi terbaik adalah pada masa kanak-kanak. Sudah saatnya kita menata ulang paradigma PAUD menjadi lebih kontekstual, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan perkembangan anak. Loose part adalah salah satu jawabannya. Kini, tinggal kemauan bersama untuk mengubah cara pandang, merancang kebijakan, dan melaksanakan di lapangan. (*)

Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#PAUD #Magister Pendidikan Dasar #universitas muria kudus #pisa #Loose Part #steam #Pascasarjana UMK