RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Hari Anak menjadi ritual tahunan yang sering dirayakan dengan semarak selebrasi, seolah-olah ruang pertumbuhan anak-anak terbentang tanpa cela.
Poster-poster advokasi hak anak membanjiri ruang-ruang sosial, semboyan tentang kebahagiaan masa kecil menggema di setiap corong media, namun lanskap kehidupan anak-anak kontemporer justru semakin karam dalam pusaran algoritma digital.
Mereka tumbuh di tengah iklim yang menipiskan intensitas interaksi fisik dan menguatkan jejaring virtual.
Baca Juga: Rayakan 17-an di Roblox! Anak Muda Bikin Lomba Kemerdekaan Seru di Dunia Virtual
Masa kecil generasi kini dirangkai dalam labirin data, mengakrabi relasi-relasi artifisial, serta menyerap nilai melalui semburan informasi tanpa hulu dan muara.
Studi mutakhir mengafirmasi bahwa sebelum beranjak ke usia prasekolah, mayoritas anak telah bersentuhan dengan perangkat cerdas, dengan durasi paparan layar yang melampaui tiga jam per hari (Livingstone & Blum-Ross, 2020).
Kanak-kanak masa kini mengukir memorinya dalam jejaring tanpa bentuk, sebuah ekosistem yang tak terjamah oleh narasi normatif perayaan Hari Anak.
Membaca konfigurasi zaman ini memerlukan reposisi lensa berpikir. Donna Haraway melalui A Cyborg Manifesto menghadirkan lanskap konseptual yang menginterupsi logika konvensional.
Sosok manusia modern menjelma sebagai entitas hibrida, melampaui sekat biologis, membuyarkan klaim-klaim kemurnian asal-usul (Haraway, 1991).
Anak-anak masa kini hadir sebagai entitas biologis, namun meniti pertumbuhannya sebagai cyborg digital.
Identitas mereka ditempa dalam arena benturan antara perangkat lunak, algoritma komersial, dan semesta visual yang terfragmentasi.
Ketika aksara diperkenalkan melalui aplikasi, pola afeksi dimediasi emoji, dan narasi moral diperoleh dari kanal-kanal virtual, maka proses formasi diri mereka berlangsung dalam lanskap sibernetik yang diarsiteki industri kapitalistik.
Perayaan simbolik tidak cukup menjadi katarsis atas kompleksitas zaman. Kini saatnya menelisik lebih dalam arsitektur kuasa yang membentuk identitas anak-anak di pusaran ekosistem digital.
Masyarakat telah terlampau lama membuai diri dalam romantisme proteksi anak, sementara realitas menunjukkan generasi ini lebih fasih melafalkan jargon viral daripada petuah leluhur, lebih lekat pada persona digital ketimbang figur sosial sekitarnya, serta lebih berkorespondensi melalui jaringan tanpa wajah dibandingkan membangun akar di tanah budaya mereka.
Gagasan cyborg Haraway menyodorkan pisau analisis yang tajam untuk mengurai lapisan problematika ini.
Kanak-kanak tumbuh dalam dualisme ruang: ruang sosial nyata dan ruang sibernetik yang direkayasa, diproduksi, serta dipetakan oleh logika industri teknologi.
Kehidupan mereka dijejali oleh algoritma yang mengelola preferensi dan menggeser horizon nilai lokal (Haraway, 1991).
Tubuh mereka berpijak di ruang geografis, namun kesadaran kultural mereka dikooptasi pusat-pusat produksi budaya global.
Kultur populer beroperasi sebagai institusi hegemoni dalam konstruksi nilai generasi digital. Globalisasi budaya bukan sekadar fenomena abstrak, namun hadir kasatmata dalam pola konsumsi anak-anak Indonesia.
Mereka mahir menyanyikan jargon Korea, meniru konstruksi gaya K-pop, bahkan lebih akrab dengan persona TikTok daripada teladan di komunitasnya (Nikken & Schols, 2015).
Standar ekspresi, citra tubuh, hingga orientasi masa depan tidak lagi berakar dari kebiasaan lokal, melainkan diracik oleh logika simulasi platform digital.
Lebih dari sekedar konsumsi budaya, kapitalisme digital menggeser posisi anak-anak menjadi titik akumulasi data bernilai tinggi.
Setiap fragmen interaksi digital mereka dimonitor, dikalkulasi, lalu dikomodifikasi. Klik, likes, hingga impresi mereka dimanipulasi menjadi komoditas yang dipertukarkan dalam pasar data global (Linn et al., 2023).
Masa kecil yang idealnya menjadi arena eksplorasi kini direduksi menjadi komoditas dalam transaksi algoritmik yang nyaris tanpa regulasi.
Romantisme masa kecil yang humanistik mulai runtuh di hadapan dominasi konten algoritmik. Ketertarikan anak-anak diarahkan oleh arsitektur sistem rekomendasi; pilihan mereka mengenai musik, permainan, hingga cita-cita dikurasi oleh mekanisme otomatisasi kapitalistik.
Fenomena ini menggeser orientasi pendidikan dari ruang eksplorasi menuju ruang konsumsi nilai (Beyens et al., 2022).
Transfigurasi ini menimbulkan keretakan identitas sekaligus implikasi pada dimensi afeksi. Proses sosialisasi berevolusi menjadi arena validasi digital, tempat harga diri ditentukan oleh angka interaksi semu.
Anak-anak berpotensi mengalami alienasi emosional—mereka mudah terkoneksi secara virtual namun semakin sulit hadir secara otentik dalam interaksi fisik (Hooft Graafland, 2018).
UNICEF bahkan mencatat peningkatan signifikan gangguan psikologis anak bersamaan dengan masifnya paparan digital (UNICEF, 2021).
Atensi anak-anak diposisikan sebagai komoditas strategis kapitalisme platform. Setiap menit dalam lanskap layar bermetamorfosis menjadi kapital bagi korporasi teknologi.
Akibatnya, semakin intens koneksi digital mereka, semakin berkurang kualitas interaksi mereka dalam ekosistem pendidikan yang humanis (Montgomery, 2020).
Sementara itu, jargon kesejahteraan terus digemakan tanpa mengungkapkan kenyataan bahwa terjadi ekspropriasi waktu dan atensi anak-anak secara sistemik.
Momentum Hari Anak semestinya tidak berhenti sebagai ritus tahunan belaka, melainkan menjadi ruang refleksi kritis.
Kita berhadapan dengan generasi yang kehidupannya dimobilisasi oleh logika ekstraksi data; perhatian mereka ditambang, waktu mereka disedot, dan masa kecilnya direduksi menjadi aset kapitalistik global (Stoilova, Livingstone, & Nandagiri, 2021).
Menghadapi arsitektur kekuasaan digital, tanggung jawab kolektif menjadi keniscayaan. Anak-anak tidak perlu dikekang dari teknologi, tetapi layak mendapatkan ruang digital yang membebaskan.
Dunia sibernetik harus ditata ulang untuk merekonstruksi ruang yang membangkitkan intelektualitas, meneguhkan kepekaan nurani, dan menghidupkan kesadaran keadilan sosial sejak dini.
Pendidikan tidak cukup lagi berhenti pada tranmisi pengetahuan, melainkan harus berevolusi sebagai arena dialektika kritis terhadap ekosistem digital yang membelenggu; keluarga harus menjadi episentrum rekonstruksi kesadaran kritis; negara berkewajiban hadir sebagai regulator ekosistem digital yang berkeadilan (Livingstone et al., 2023).
Anak-anak zaman ini bergerak dengan tubuh yang nyata, namun kesadarannya dimigrasikan ke dalam jejaring algoritma.
Mereka membentuk imaji diri, sistem nilai, dan konfigurasi mimpi melalui arsitektur sibernetik yang bergerak di luar kendali orang tua maupun institusi pendidikan (Haraway, 1991).
Pertanyaan mendasarnya adalah: di tengah dunia yang telah merebut masa kecil mereka melalui logika data, siapa yang menjamin mereka tumbuh sebagai manusia yang utuh?
Hari Anak layak dimaknai sebagai momentum merestorasi keberadaban. Generasi cyborg tidak membutuhkan limpahan konten viral, tetapi ruang yang melatih nalar, menumbuhkan sensitivitas kemanusiaan, serta menegakkan martabat insani.
Donna Haraway pernah berujar, “I would rather be a cyborg than a goddess” (Haraway, 1991, p. 181); menjadi manusia dalam semesta digital bukan tentang menyerah pada sistem, melainkan tentang merebut kembali ruang kendali melalui pengetahuan. Mengembalikan kemerdekaan masa kecil kepada anak-anak adalah gerakan kultural, sebuah proyek peradaban demi memastikan masa depan yang berdaulat secara intelektual sekaligus utuh secara kemanusiaan.(sas)
Oleh : Prof. Dr. Rasimin, M.Pd. (Dekan FTIK UIN Salatiga)
Editor : Tasropi