Oleh: Lestari
RADARSEMARANG.ID—Literasi sains merupakan fondasi penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan abad 21 yang ditandai dengan perkembangan teknologi, globalisasi, dan krisis lingkungan. Dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia, literasi sains diharapkan tidak hanya sebatas kemampuan menghafal konsep atau definisi, melainkan kemampuan memahami, menganalisa, dan memecahkan masalah berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah.
Konsep literasi sains juga menuntut siswa untuk memiliki kesadaran terhadap dampak ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan serta bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada tujuan kualitas pendidikan (SDG 4) dan aksi terhadap perubahan iklim (SDG 13).
Sayangnya, literasi sains siswa sekolah dasar di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Data PISA 2018 menunjukkan skor rata-rata literasi sains siswa Indonesia hanya 396, jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 489. Hanya 1 persen siswa Indonesia yang mampu mencapai level 5 atau 6 dalam literasi sains (OECD, 2019). Hasil serupa terlihat pada studi TIMSS yang menempatkan Indonesia pada posisi 45 dari 48 negara peserta untuk bidang sains. Rendahnya literasi sains ini mencerminkan ketidaksiapan sebagian besar generasi muda kita dalam menghadapi kompleksitas permasalahan global seperti pandemi, krisis iklim, dan disrupsi teknologi.
Permasalahan literasi sains di sekolah dasar tidak lepas dari berbagai faktor sistemik. Pertama, pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) masih didominasi metode konvensional, di mana guru menjadi sumber utama pengetahuan, sementara siswa cenderung pasif. Hal ini menghambat pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif yang sangat dibutuhkan dalam literasi sains. Kedua, keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran, seperti laboratorium, alat peraga, dan akses teknologi, menjadi kendala.
Dalam tataran teori pendidikan, konsep literasi sains anak sekolah dasar dapat dikaitkan dengan teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Piaget dan Vygotsky. Piaget menekankan pentingnya pengalaman konkret dalam pembelajaran sains, sedangkan Vygotsky menyoroti peran interaksi sosial dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak. Di Indonesia, filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga mengajarkan pentingnya pendidikan yang memerdekakan dan menuntun kodrat anak. Sayangnya, implementasi prinsip ini sering tersendat akibat pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan dan evaluasi berbasis angka semata.
Taman Sains Mini
Beberapa studi kasus di Sekolah Dasar (SD) Indonesia menunjukkan upaya kreatif dalam mengembangkan literasi sains. Di SDN IV Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, guru mengajak siswa mengamati perubahan cuaca dan mencatat data harian untuk kemudian dianalisa bersama. Hasilnya, siswa mampu memahami konsep cuaca dan iklim lebih mendalam, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca data sederhana. Program taman sains mini yang ada di sekolah berhasil memfasilitasi siswa memahami konsep ekosistem dan pentingnya keberlanjutan lingkungan.
Solusi untuk mengatasi rendahnya literasi sains harus dilakukan secara menyeluruh. Pertama, pembelajaran IPAS perlu dirancang berbasis inkuiri dan proyek sehingga siswa aktif mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses berpikir ilmiah siswa. Kedua, integrasi teknologi seperti aplikasi simulasi sains atau platform pembelajaran interaktif harus dioptimalkan tanpa mengabaikan pengalaman nyata. Ketiga, perlu ada penguatan pelatihan guru berbasis literasi sains agar guru memiliki kompetensi mendesain pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Program pelatihan ini dapat didukung melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan tinggi.
Lebih jauh, keterlibatan orang tua dan masyarakat juga penting agar literasi sains menjadi budaya bersama. Orang tua dapat mendukung kegiatan observasi sederhana di rumah, seperti mengamati siklus air atau pertumbuhan tanaman. Sementara masyarakat dan pemerintah daerah dapat berperan menyediakan ruang publik berbasis sains, seperti taman kota edukatif atau festival sains anak. Dalam jangka panjang, penguatan literasi sains di sekolah dasar akan mendukung terciptanya generasi yang tidak hanya cerdas, namun juga memiliki daya saing global sekaligus kepedulian kuat terhadap keberlanjutan bumi.
Studi internasional menunjukkan bahwa negara-negara maju seperti Finlandia dan Jepang berhasil mengembangkan literasi sains sejak pendidikan dasar melalui pendekatan pembelajaran berbasis fenomena dan proyek (OECD, 2019). Indonesia dapat belajar dari keberhasilan tersebut dengan tetap menyesuaikan kearifan lokal. Implementasi literasi sains di sekolah dasar sejatinya menjadi salah satu pilar penting dalam menyukseskan agenda pembangunan berkelanjutan dan mencetak generasi emas 2045. (*)
Mahasiswi Pascasarjana Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Editor : H. Arif Riyanto