Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Memutus Lingkaran Kekerasan, Pentingnya Pengawasan dan Kesehatan Mental dalam Sistem Pendidikan

Radar Semarang • Rabu, 11 Juni 2025 | 21:49 WIB
Dosen Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University, Indra Dwi Purnomo, S. Psi., M. Psi., Ph.D, Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University, Indra Dwi Purnomo, S. Psi., M. Psi., Ph.D, Psikolog

Oleh: Indra Dwi Purnomo, S. Psi., M. Psi., Ph.D, Psikolog

RADARSEMARANG.ID - Kasus perundungan dan pemerasan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) menjadi sorotan publik.

Perkara ini telah sampai di meja hijau. Dalam fakta-fakta persidangan berdasarkan pemberitaan di media, terungkap adanya sistem kasta senioritas yang diterapkan dalam sistem perkuliahan PPDS Undip. Namanya pun unik, mulai dari tingkat Kuntul, Kambing, hingga Dewan Suro.

Menurut saya, pada dasarnya istilah junior-senior di tempat mana pun termasuk di pendidikan maupun pekerjaan pasti ada.

Namun yang tidak boleh adalah jika terjadi hierarki junior-senior menjadi hierarki sosial yang patologis. Ya, meskipun hanya segelintir oknum saja yang memelihara hirarki ini.

Sistem yang terbentuk itu menunjukkan kekuasaan yang sifatnya tingkatan-tingkatannya. Nah, ini secara psikologis mempermudah senior itu untuk melakukan eksploitasi.

Pasalnya korban ini enggak lagi dipandang sebagai seorang manusia yang setara gitu ya, melainkan objek yang dieksploitasi. Tapi sekali lagi ini oknum ya, oknum yang mungkin memelihara hierarki sosial yang patologis.

Dalam psikologi, hal tersebut masuk dalam sosial learning teori. Yakni orang yang lebih senior yang mulanya junior, sudah menginternalisasi norma-norma penindasannya.

Mereka belajar untuk bertahan dan naik tingkat, serta harus mematuhi aturan. Ketika sudah mencapai posisi senior, mereka me-reply perilaku yang sama yang dia alami ketika dia dulu junior.

Nah, inilah yang membuat siklus kekerasan dan eksploitasi yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh oknum-oknum.

Dan ini memang dampak psikologisnya ke korban. Tapi, kalau ke juniornya itu, tentu mereka akan menghadapi tekanan sosial yang berat untuk mau tidak mau mematuhi perintah seniornya.

Rangkaian peristiwa ini juga masuk dalam eksperimen milgram atau kepatuhan terhadap otoritas. Sehingga orang tersebut bisa nurut sekali dengan perintah jika datang dari figur yang lebih punya power.

Sebaliknya, jika tidak patuh maka akan kena sanksi secara sosial, mungkin hambatan dalam proses belajarnya.

Akibatnya, hal ini tentu membuat situasi lingkungan pendidikan menakutkan. Fatalnya, ini bisa menimbulkan kecemasan, stres, depresi, kemudian burn out.

Di sisi lain, perilaku itu juga dipengaruhi karena memang mereka tidak hanya pendidikan saja.

Melainkan punya beban ganda : harus melayani senior, ada tuntutan finansial, fisik yang tidak berhenti-berhenti ini tentu memicu problem secara emosional.

Lebih jauh, kondisi tersebut mengakibatkan gangguan kesehatan mental. Bahkan, bisa berpengaruh pada kualitas pendidikan yang dijalani.

Dalam jangka panjang menjadi tidak bagus. Nantinya, hal ini berujung pada frustrasi yang terus-menerus, mendalam dan bisa menimbulkan trauma juga secara psikologis dalam jangka yang panjang. Dampak psikologi ini tidak hanya di alami korban namun juga pelaku.

Saya melihat, mungkin maksudnya perilaku itu untuk mendisiplinkan, membentuk mental, menguji loyalitas, tapi itu rasionalisasi, enggak logis tapi dilogis-logiskan ketika dilakukannya dengan cara yang tidak tepat, menyimpang.

Bahkan, akibat perundungan dari sistem ini menyebabkan pelaku tidak peka atau minim sensitifitas terhadap orang lain.

Padahal dalam kasus ini, pelaku merupakan tenaga medis yang berhubungan langsung dengan pasien.

Nah khawatirnya, sensitifitas itu akan berdampak pada penderitaan orang. Jeleknya nanti jangka panjangnya, empati berkurang seperti ketika dia pegang pasien.

Saya menilai ke depannya perlu merombak bagaimana sistem pengawasannya, pengecekan kesehatan mentalnya, pendampingannya supaya mereka bisa menjalani pendidikan dengan baik. Kemudian bagaimana soft skill yang diberikan seperti menghargai.

Sehingga senior itu tidak hanya transfer knowledge, materi saja tapi dilatih bagaimana support. Caranya memberikan dukungan psikologis ke juniornya biar dia semangat belajarnya. (*)

Dosen Fakultas Psikologi Soegijapranata Catholic University

Editor : Baskoro Septiadi
#ppds