Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Evaluasi Pondasi dan Menjawab Darurat Literasi Melalui Kolaborasi Stake Holders

Dhinar Sasongko • Sabtu, 3 Mei 2025 | 18:36 WIB

Miftachudin, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN Salatiga Mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa UNNES
Miftachudin, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN Salatiga Mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa UNNES


RADARSEMARANG.ID, Literasi merujuk kepada kemampuan seseorang untuk mencari, mengolah, memilah, dan memproduksi informasi dalam bidang atau ruang lingkup tertentu.

Terkait dengan konsep pendidikan 5.0 di abad ini, belajar ternyata tidak lagi hanya membahas bagaimana siswa mendapatkan informasi atau pengetahuan (Producing Knowledge) akan tetapi lebih menitik beratkan kepada menghasilkan inovasi, kreatifitas, dan kebaharuan pengetahuan (Producing Innovation).

Hal tersebut kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi siswa dan guru karena membutuhkan pondasi literasi yang kuat dalam banyak bidang.

Foundational Literacies (Pondasi Literasi) merupakan salah satu aspek dalam membangun kemampuan manusia abad 21 selain aspek kompetensi dan kualitas karakter.

Pondasi literasi itu sendiri mencakup 6 hal yaitu literacy, numeracy, scientific, ICT (Information Communication Technology), financial, cultural and civic.

Artinya membahas literasi tidaklah cukup sebatas kemampuan membaca dan menulis akan tetapi meliputi kemampuan berhitung, sains dan lainya.

Diskusi intensif mengenai pondasi literasi sebetulnya bukan barang baru. Sejak tahun 2016 dalam laporan World Economic Forum, hal tersebut sudah menjadi fokus pembahasan.

Artinya semua negara di dunia berkontribusi merumuskan dan mulai berbenah mengatasi masalah-masalah seputar literasi di negaranya masing-masing.

Indonesia sebagai salah satu warga dunia juga tidak terlepas dari permasalah tersebut. Berita hangat terkini misalnya ratusan siswa SMP Buleleng Bali yang tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar bahkan ada puluhan yang tidak bisa sama sekali.

Walaupun ada pendapat bahwa itu hanyalah sebuah studi kasus, akan tetapi peristiwa
tersebut menjadi sekilas gambaran umum kondisi literasi Indonesia jika kita merujuk data peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 yaitu peringkat 69 dari 81 negara di dunia berdasarkan nilai kemampuan membaca, matematika, dan pengetahuan alam.

Menariknya nilai membaca siswa Indonesia pada tahun penilaian 2022 adalah yang terendah dari sejarah penilaian tahun-tahun sebelumnya yaitu 359.

Jika dilihat keterlibatan Indonesia dari tahun 2006-2022 selama 6 siklus penilaian yang dilakukan setiap 3 tahun sekali, nilai PISA Indonesia tidak banyak berubah dan fluktuatif di kisaran 359-403.

Di tahun 2022, nilai Indonesia memiliki celah perbedaan yang besar dari peringkat 1 Singapura, dan di bawah Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Thailand, jika membandingkan dengan sesama negara Asia Tenggara.

Celah yang besar tersebut menjadi peringatan darurat literasi bahwa Indonesia harus meningkatkan kemampuan di berbagai bidang jika ingin berkompetisi di dunia internasional.

Menjawab permasalahan di atas memang bukan perkara mudah karena pemerataan pembangunan yang belum tercapai, dan banyak faktor lain yang mempengaruhi.

Sehingga menuntaskan permasalahan tersebut membutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan banyak pihak misalnya pemerintah, sekolah, lingkungan dan orang tua.

Pemerintah dengan kebijakan Visi Indonesia Emas sudah menempatkan pendidikan dan teknologi sebagai salah satu dari 4 pilar pembangunan sampai dengan tahun 2045.

Teknologi yang kemudian dijabarkan dalam visi Indonesia Digital yang terus memberikan perbaikan dalam hal infrastruktur, jaringan internet, dan fasilitas teknologi guna menunjang pembangunan.

Sinergi pemerintah dan sekolah melalui pembenahan kurikulum dan kualitas guru telah dilaksanakan untuk mendorong peningkatan kemampuan literasi dalam berbagai bidang, kompetensi dan karakter melalui kegiatan belajar di sekolah.

Lingkungan juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang literasi dengan munculnya pojok-pojok perpustakaan di masjid, komunitas, PKBM (pusat kegiatan belajar mengajar), bahkan kota bertema literasi guna memberikan tambahan akses kepada siswa untuk mendapatkan pengetahuan di luar sekolah.

Baca Juga: Dorong Pemerintah Hidupkan PKBM

Tak kalah penting, peran orang tua sangat diperhitungkan dalam mendukung tumbuh kembangnya kemampuan literasi anak. Mereka menjadi contoh dan pembimbing sejak lahir hingga anak mampu belajar mandiri.

Misalnya dalam hal membaca dan menulis, orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam pengenalan dan simulasi saat masa pra membaca usia 0 sampai dengan 6 tahun.

Kegiatan pengenalan tersebut meliputi banyak hal misalnya role modelling dengan memberikan contoh perilaku belajar dan membaca orang tua, kunjungan ke toko buku, perpustakaan, dan kebun Binatang bersama anak.

Orang tua juga bisa mulai mengenalkan simbol, gambar, bermain, bercerita, kosa kata, menyanyi, fokus pada kegiatan yang menyenangkan pada masa pra membaca.

Pengembangan kemampuan membaca menulis tersebut kemudian dilanjutkan pada masa belajar mulai sekolah dasar.

Data, angka, dan peringkat di atas menunjukkan kondisi kemampuan literasi Indonesia yang masih membutuhkan pengembangan dalam banyak bidang.

Sekaligus peringatan untuk mengedepankan kolaborasi kepada semua pihak yang menginginkan manusia Indonesia memiliki kemampuan abad 21.

Bersama bahu membahu mencapai tujuan satu. Selama kolaborasi tersebut terstruktur, serentak dan sistematis maka kita bisa berharap tercapainya Indonesia Emas, bukan Indonesia Cemas.

 

Miftachudin, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN Salatiga
Mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa UNNES

Editor : Tasropi
#world economic forum #Pondasi Literasi #Kualitas Guru