Oleh : Supriyono, S.Pd.
Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Indonesia pada fase D (jenjang SMP) adalah siswa memiliki kemampuan berbahasa dengan berbagai teks multimodal untuk berbagai tujuan dan konteks.
Dalam konteks pembelajaran teks puisi, tujuan itu lebih diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berliterasi sastra (Kumer, 2024). Wujud dari target pembelajaran ini adalah terbitnya buku antologi puisi karya siswa.
Pada praktiknya, pembelajaran teks puisi, bagi sebagian besar siswa SMP Negeri 17 Semarang kelas VIII, masih terdapat kesulitan. Terutama dalam memadukan berbagai unsur yang membangun sebuah puisi, seperti diksi, imaji/citraan, rima, dan majas.
Hal tersebut dilatarbelakangi masih minimnya pengalaman belajar siswa dalam hal mencipta puisi. Sebagai guru bahasa Indonesia, masalah pembelajaran tersebut menjadi tantangan menarik untuk dijawab.
Karena itu, penulis sebagai guru bahasa Indonesia berupaya menemukan solusi terbaik yang berpihak pada siswa melalui pemilihan metode, strategi, atau teknik pembelajaran yang tepat agar tujuan dan target pembelajaran puisi tercapai.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, dipilihlah teknik pembelajaran akrostik. Yaitu salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk memudahkan siswa dalam mengingat materi yang ingin diingat dengan menggunakan huruf awal, tengah, atau akhir dalam sebuah kalimat atau frase tertentu.
Teknik ini dipraktikkan dan diselaraskan penulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis genre melalui pemanfaatan beragam tipe teks dan teks multimodal (lisan, tulis, visual, audio, audiovisual).
Pendekatan pembelajaran menggunakan pedagogi genre yaitu: 1) penjelasan (explaining, building the context); pada tahap ini penulis menyampaikan tujuan dan konteks genre agar siswa dapat mengaitkan genre tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Pada praktiknya, penulis menggunakan media lirik lagu untuk lebih mengenalkan dan memahamkan tentang apa dan bagaimana hakikat sebuah puisi.
Penulis menerapkan salah satu konsep dalam buku Quantum Learning, dengan membawa materi pembelajaran puisi yang abstrak untuk direalisasikan ke dalam dunia nyata siswa (De Porter, 2000:6).
2) Pemodelan (modeling); pada tahapan ini penulis memodelkan cara menganalisis dan menanggapi sampel teks genre terkait. Di tahap inilah teks multimodal ditampilkan untuk memberikan keragaman sumber belajar yang bervariasi untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
Praktiknya, siswa diajak menikmati video pembacaan puisi, menyanyikan lagu, dan membaca teks puisi pilihan. Selanjutnya siswa dalam kelompok diminta menganalisis dan menanggapi beragam teks puisi tersebut dengan disertai penjelasan guru tentang hakikat puisi dan unsur-unsur yang membangunnya.
3) Pembimbingan (joint construction). Pada tahap ini siswa berlatih mengenali fungsi dan menganalisis teks dengan bimbingan guru. Implementasi tahapan ini adalah siswa berkolaborasi dalam kelompok (4-5 siswa) untuk menerapkan teknik akrostik dalam mencipta teks puisi dengan panduan LKPD yang telah dipersiapkan guru.
Hasil kerja kelompok itu, dipresentasikan dan ditanggapi bersama untuk memberikan penguatan pemahaman atas konsep pembelajaran mengenai teks puisi yang sudah diterima sebelumnya.
4) Pemandirian (independent construction). Siswa mengonstruksi teks secara mandiri dalam pengawasan guru. Pada tahap akhir inilah siswa secara individu mempraktikkan yang sudah dipelajari dengan mencipta puisi melalui teknik akrostik sesuai pilihan tema/topikyang ditentukan sebelumnya.
Tahapan ini merupakan “aksi nyata” siswa setelah mengeksplorasi dan mengelaborasi pemahamannya tentang teks puisi dan bagaimana cara mudah menciptanya. Di sisi lain, sebenarnya ada misi penting dengan penerapan teknik akrostik tersebut, mencegah siswa melakukan plagiasi dalam mencipta puisi.
Melalui proses pembelajaran yang bertahap dan dengan pendampingan guru di kelas, akhirnya siswa mampu mengekspresikan perasaan, ide, dan gagasannya sendiri dalam larik-larik puisi yang ternyata menarik.
Setelah melalui proses evaluasi, refleksi, dan umpan balik bersama, puisi-puisi karya siswa yang telah disunting, disepakati bersama siswa, untuk diterbitkan menjadi buku antologi puisi meskipun tanpa ISBN.
Sebagai wujud perayaan atas keberhasilan pembelajaran teks puisi tersebut, penulis bersama siswa menggelar apresiasi sastra berupa festival puisi di kelas yang diisi dengan aktivitas baca puisi dan musikalisasi puisi. (un/lis)
Guru SMP Negeri 17 Semarang
Editor : Lis Retno Wibowo