Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pendekatan Seni dan Disabilitas: Sebuah Paradigma Pendidikan Inklusif

H. Arif Riyanto • Selasa, 14 Mei 2024 | 21:08 WIB
Oleh: Dr. Nur Fajrie, M.Pd.
Oleh: Dr. Nur Fajrie, M.Pd.

FAKTA sosial bahwa kita telah hidup dengan kelompok atau masyarakat yang majemuk dan beragam dari perbedaan pemenuhan kebutuhan lahiriah maupun batiniah.

Himbauan dari pemerintah dan lembaga-lembaga sosial internasional menyerukan kesadaran untuk bertoleransi antar semua manusia secara plural.

Realitas heterogen di berbagai pergaulan berinteraksi sosial berasas pada inklusifitas yang mendorong kita merefleksikan praktik-praktik pendidikan untuk kelompok disabilitas.

Namun benarkah demikian?

Ketika kita melihat dan mengalami kesenjangan sosial kelompok disabilitas yang tidak merata dan jauh dari adanya equality-equity (peluang dan pengakuan) yang sama terhadap entitas yang berbeda dari kebutuhan keterbatasan fisik maupun mental.

Pemberian kesempatan adil dan sama pada setiap individu atau kelompok untuk mengalokasikan sumber daya secara tepat dalam mencapai hasil setara.

Pada saat ini sistem pendidikan inklusi terkendala adanya pemahaman masyarakat yang harus ditekankan pada daya saing, padahal itu bukan tujuan tetapi hasil dari pendidikan yang memunculkan bakat maupun minat terhadap kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).

Daya saing SDM harus melahirkan kompetensi yang mau dibangun memiliki daya kiritis, imajinatif, dan kreatif untuk menemukan karakteristik individu.

Pada abad ini pendidikan seni memiliki peran penting menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM) untuk berpartisipasi secara sosial dan budaya.

Pengembangan kompetensi melalui seni untuk kelompok disabilitas dalam rangkan menumbuhkan dan meningkatkan kualitas hidup dari representasi ekspresi keragaman manusia.

Konsep pendidikan seni berdasarkan Roadmap Pendidikan Seni yang membangun kemampuan kreatif pada abad 21 memunculkan entitas secara natural dan terprogram sehingga menjadi komunal yang unik.

Unsur penting dalam pendidikan seni adalah proses beraktualisasi secara sadar dan sistematis dalam memenuhi potensi kreativitas sebagai upaya mengungkapkan makna di lingkungannya.

Media beraktualisasi melalui pendidikan seni mendorong kelompok disabilitas terhadap apa yang dirasakan, sehingga tersublimasi dengan arah dan fokus menjadi SDM yang kreatif, kritis dan inovatif.

Kelompok disabilitas adalah komunitas outliers (beda).

Persepsi dan cara pandang kelompok disabilitas secara khusus memiliki ide dan gagasan yang menarik untuk diteliti maupun dimaknai secara understanding others.

Komunitas tersebut justru memiliki modalitas estetis dalam melihat, mendengar, dan merasakan berbagai fenomena sekitar kita.

Sebetulnya ada permasalahan yang menarik dalam hubungan seni dan dunia kehidupan nyata mereka.

Hal tersebut juga terjadi di Indonesia dengan adanya kekurangpahaman mengenai pentingnya pendidikan seni dalam kehidupan disabilitas.

Kajian Seni

Tidak dapat dipungkiri kajian seni adalah “binatang aneh” yang acap kali belum dimengerti dan dipahami oleh masyarakat kita.

Produk-produk seni saat ini di jaman kontemporer sampai post-thuth memberikan dampak yang signifikan terhadap pendidikan seni. 

Sebab itu, keberadaan seni ini memang sulit dimengerti secara common sense yang semakin didalami semakin sulit dipahami secara logis.

Hal tersebut adanya masalah yang memang persepsi dalam seni berkaitan dengan keindahan, keterampilan, maupun keterampilan dan konsep tersebut melekat pada masyarakat kita.

Pola pandang masyarakat terhadap kelompok disabilitas sama persis dengan keberadaan seni yang sangat ekslusif.

Langkah konseptual yang dapat dikompilasi dalam paradigma pendidikan seni terhadap kebutuhan kelompok disabilitas, yaitu menawarkan pelayanan dan rehabilitasi sosial kepada mereka untuk mengembangkan kompetensi dan keahlian tertentu dengan dan melalui seni.

Aspek-aspek yang dapat dilakukan dengan mengembangkan kepribadian, kognitif, emosional, kreatif, dan imajinasi personal.

Hal tersebut dapat memberikan kapasitas dan kapabilitas individu untuk menjadi subjek lintas sektoral, baik dalam pekerjaan atau aktivitas sehari-hari tentang value dalam kehidupannya.

Hakekat dan esesi seni dalam konteks pendidikan yang bersifat terbuka, hubungan dengan multidisiplin lain dapat menyatukan pengalaman multi-level secara universal.

Unsur-unsur dalam pedagogi seni dapat merangsang pemikiran kritis, sehingga pengalaman belajar dapat mewujudkan suatu karya seni yang memiliki identitas diri maupun sosial.

Dampak yang menjadikan dukungan literasi sosial dan budaya mereka untuk memahami pengetahuan selanjutnya dalam bentuk karya seni gambar, lukis, patung, koreografer, musik dan lain sebagainya.

Komparasi dari berbagai interaksi tersebut memberikan daya literasi, simpati, empati, kontribusi, dan partisipasi masyarakat dalam memberdayakan kelompok disabilitas melalui seni menjadi tercipta secara sistematis.

Pendidikan seni mampu menghubungkan masyarakat, keluarga, sekolah dengan personalitas pada seseorang yang menjadi disabilitas untuk menghargai keberagaman dan perdamaian di kehidupan selanjutnya.

Interkulturalitas memungkinkan pendekatan pendidikan secara inklusif dan penghargaan pada setiap hak maupun kewajiban manusia. (*)

Praktisi dan Dosen Pendidikan Seni Universitas Muria Kudus

 

Editor : H. Arif Riyanto
#disabilitas #universitas muria kudus #imajinasi #personal #SENI