Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Terkekang Atau Berkembang

Tri Waluyoningsih • Kamis, 18 April 2024 | 17:43 WIB
Evan Marcellino G. Dosen Program Studi Manajemen Unika Soegijapranata Semarang
Evan Marcellino G. Dosen Program Studi Manajemen Unika Soegijapranata Semarang

RADARSEMARANG.ID, ARTIFICIAL Intelligence atau yang kerap kita sebut AI merupakan teknologi kecerdasan buatan yang sudah berkembang sangat cepat dan mulai menjadi topik hangat beberapa tahun terakhir.

Secara singkat, AI memungkinkan internet yang akan terkoneksi kedalam gadget untuk bertindak dan merespon sesuatu secara lebih mendetail.

Gadget mendapatkan suplai informasi serta data dalam jumlah sangat besar dan dilatih untuk mengidentifikasi pola-pola dari informasi tersebut.

Baca Juga: Bikin Tampilan Gadget Makin Keren! Inilah Daftar Situs untuk Download Wallpaper Gratis

Hal tersebut memungkinkan perangkat kita untuk membuat prediksi, memecahkan masalah, bahkan belajar dari kesalahan mereka sendiri.

AI sangatlah luas dan memiliki cakupan bentuk yang beragam. Siri, Alexa, Bixby merupakan salah satu contoh AI yang dikembangkan dengan tujuan memudahkan kehidupan manusia.

Contoh lain dari AI adalah algoritma dalam setiap platform aplikasi yang sering kita gunakan.

Spotify akan mempelajari lagu apa yang sering kita dengarkan, lalu akan membuat weekly playlist sesuai algoritma genre lagu yang sering kita dengar.

Teknologi AI terus dikembangkan dengan tujuan untuk membantu seluruh aspek kehidupan manusia, terutama bagi perusahaan.

Menurut BBC Indonesia, banyak perusahaan besar yang sudah memanfaatkan teknologi AI, salah satunya Amazon untuk mempelajari algoritma kebiasaan pembelian pelanggannya untuk merekomendasikan pembelian selanjutnya kepada pelanggan.

Hal tersebut membantu tujuan perusahaan untuk menciptakan lean & efficient company. Dengan adanya bantuan AI satu orang karyawan mampu mengerjakan porsi pekerjaan 3 sampai 4 orang karyawan.

Salah satu teknologi AI yang paling terkenal di Indonesia adalah Chat GPT. Merupakan aplikasi topangan AI yang namanya melejit selama beberapa tahun terakhir.

Banyak pro dan kontra seputar aplikasi cerdasan buatan ini. Komentar positive, hingga tentangan santer beredar di masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Chat GPT memungkinkan penggunanya menyerap informasi yang sangat detail hanya dengan menuliskan satu kata kedalam search engine nya.

Chat gpt sempat digadang sebagai awal dari kehancuran karena akan menciptakan generasi yang “menggampangkan” segala sesuatu.

Banyak kalangan muda dari mulai siswa SMP hingga mahasiswa yang memanfaatkan teknologi ini secara “ekstrim” untuk bypass proses membaca, memahami, dan menganalisa sebuah permasalahan yang dihadapi, serta mengarahkan kepada budaya “Jump to conclution”.

Hal tersebut tidaklah 100% benar. Jika kita mau melihat sisi positifnya, Chatgpt juga membantu kita sebagai individu manusia untuk bisa mempelajari banyak hal. Bahkan hal yang tidak pernah kita pikirkan sekaligus.

Remaja yang memiliki kegemaran di bidang mesin, mampu mempelajari mengenai sistematis kendaraan sedari dini, individu yang bergelut di bidang seni, mampu mendapatkan referensi dan sumber yang lebih luas dan bahkan out of the box menggunakan teknologi ini.

Salah satu permasalahan dari chatgpt adalah mengenai validasi dari informasi yang sudah diberikan. Informasi yang diberikan oleh AI belum tentu 100% berasal dari sumber yang terpercaya.

Hal ini dapat menyebabkan kita menerima informasi yang kurang tepat dan ditakutkan dapat memberikan pengetahuan yang “salah”.

Bagaimana cara kita mengatasi hal tersebut? Mulailah menumbuhkan sikap TERSERAH (TERima, SErap, RAmu, Hiraukan).

Terima semua informasi yang ada, sesuaikan dan serap poin positif dari data yang disajikan, selanjutnya ramu atau pilah seluruh informasi yang beredar. Di tahap ini kita harus mampu berfikir bijak dan kritis terhadap informasi yang beredar.

Tahap terakhir adalah hiraukan. Hiraukan informasi yang sekiranya belum diketahui kevalidan dan mengarah ke ranah yang negatif.

Dalam menghadapi fenomena AI dan menumbuhkan sikap TERSERAH ini, diperlukan kombinasi antara rasa ingin tahu dan kedewasaan dalam menghadapi derasnya perkembangan teknologi.

Untuk usia dini, diperlukan juga peran orang tua atau wali untuk membantu menyaring informasi yang di dapat.

Sebagai individu global, kita tidak bisa menghambat dan melawan perkembangan era yang sangat pesat.

Maka dari itu, pintarlah dalam melihat sisi positif dan mencari peluang di setiap fenomena yang terjadi saat ini.

 

Evan Marcellino G

Dosen Program Studi Manajemen Unika Soegijapranata Semarang

Editor : Tasropi
#teknologi ai #Artificial Intelligence #Chat GPT