Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Peran Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Menekan Angka Kemiskinan dan Menuju Zero Stunting di Indonesia

Radar Semarang • Senin, 13 November 2023 | 05:07 WIB

Dr. Endang Sarwiningsih Setyawulan, SE., MM., Ak.
Dr. Endang Sarwiningsih Setyawulan, SE., MM., Ak.

Oleh: Dr. Endang Sarwiningsih Setyawulan, SE., MM., Ak.

PADA zaman yang serba modern ini, seluruh aspek kehidupan terus mengalami perkembangan serta perubahan yang sangat pesat. Masyarakat dituntut untuk bisa mengikuti keadaan dengan transformasi yang ada. Melihat perkembangan dan perubahan tersebut, tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan, terutama dalam hal pendidikan, sosial, ekonomi, serta budaya.

Minimnya pengetahuan serta kemampuan dan finansial yang kurang mendukung, mengakibatkan sebagian rakyat mengalami krisis di berbagai bidang tadi. Dikutip dari badan Pusat Statistik di laman https://www.bps.go.id/pressrelease/2023/profilkemiskinan-di-indonesia-maret-2023. Garis Kemiskinan di Indonesia pada Maret 2023 tercatat sebesar Rp 550.458,-/kapita/bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp408.522,- (74,21 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp141.936,- (25,79 persen).

Pada Maret 2023, rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,71 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp2.592.657,-/rumah tangga miskin/bulan. Selain kemiskinan, stunting juga menjadi prioritas.

Pemerintah telah menargetkan prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024. Di mana pada 2019 mencapai 27,6 persen (Riset Kesehatan Dasar 2019) dan di 2023 turun menjadi 21,6 persen. Dikutip dari badankebijakan.kemkes.go.id. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, angka stunting turun dari 24,4% di 2021 menjadi 21,6% di 2022.

Maka dari itu zero stunting menjadi prioritas program Pemerintah pada tahun 2024. Dalam hal ini Perpusnas menjadi salah satu lembaga yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan informasi dari masyarakat penggunanya, tentu saja sangat diperlukan untuk turut serta hadir dalam mengatasi permasalahan tadi.

Pemerntah telah membentuk dan melaksanakan program (TPBIS) untuk menjadi agen dalam mencapai tujuan (TPBIS). Sebuah program pemberdayaan yang dibutuhkan bisa menjawab permasalahan yang ada. Salah satu kegiatan programnya dengan penyelenggaraan kegiatan seminar dan pelatihan mengenai berbagai macam tema serta keterampilan bagi warga Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, program (TPBIS) ini juga menggandeng stakeholder dan instansi pemerintan dan swasta. Kegiatan seminar, pelatihan tersebut dilaksanakan oleh pustakawan yang mana pustakawan mendampingi, mengimplementasikan dan berinteraksi dengan warga secara langsung. Sehingga perpustakaan melalui pustakawan sebagaimana sebuah organisme yang selalu tumbuh dan berkembang menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Peran Transformasi Perpustakaan: Jika kita melihat definisi perpustakaan itu sendiri yaitu perpustakaan digunakan sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa memandang baik secara gender, kondisi fisik, ras, etnis, agama, status sosial, dan ekonomi. Perpustakaan telah bertransformasi kearah inklusi sosial.

Paradigma perpustakaan terkini adalah sebagai wahana masyarakat untuk mengembangkan potensi mereka sehingga mengarah pada peningkatan taraf hidup. Perihal konsep inklusi sosial, tentu memiliki hubungan dengan perpustakaan karena sama-sama menyinggung mengenai kesetaraan. Inklusi sosial berarti upaya dalam membuat masyarakat saling terbuka terutama pada masyarakat rentan atau berpotensi termarjinal, salah satunya dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Perpustakaan berbasis inklusi sosial berarti perpustakaan yang senantiasa menjamin fasilitas dan layanannya agar dapat mendorong masyarakat untuk saling terbuka terhadap lainnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu Adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti pendampingan masyarakat (UMKM) dengan kegiatan peningkatan SDM pada pengadaan bazar UMKM untuk pencarian mitra pemasaran produk dan mencari supliyer yang menyuplai bahan baku, serta mengakseskan dengan lembaga keuangan. Jadi lewat pustakawan bisa melayani masyarakat untuk lebih berdaya lagi.

Hak untuk mendapatkan layanan perpustakaan. Bahwa masyarakat itu mulai dari dalam kandungan sampai akhir hayat berhak untuk dilayani di perpustakaan, dalam rangka pembelajaran yang akan membawa pada peningkatan SDM pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Aksesbilitas informasi perpustakaan.

Jadi perpustakaan ini juga tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga melayani coworking dimana bisa mengakses informasi melalui internet sehingga masyarakat itu secara luas mendapatkan akses terhadap ilmu-ilmu terapan yang lebih mudah dan cepat.

Seorang Ibu muda yang belum paham bagaimana memenuhi gizi anak dan meningkatkan SDMnya dengan belajar di perpustakaan secara gratis untuk dapat mengetahui menu sehat melalui literasi yang didapat baik berupa informasi secara teksbook atau online. Sehingga ibu-ibu muda ini bisa mencegah keluarga dari anak yang stunting. Bila tidak pahampun bisa ditanyakan ke pustakawan, sehingga pustakawan ini bisa menjelaskan dan mendampingi mencarikan referensi sehingga mendapatkan bahan bacaan yang dibutuhkan dan mudah diterapkan.

Bahkan pustakawan dapat mendampingi dan mendorong sampai pemustaka dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilanya dalam menghasilkan produk/jasa untuk meningktkan kesejahteraanya.

Program (TPBIS) ini bertujuan untuk meningkatkan SDM masyarakat dan memajukan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat, sebagai pusat belajar masyarakat dan pusat kegiatan masyarakat dengan mendekatkan, menyediakan bahan bacaan dengan basis teknologi informasi dan komunikasi.

Kegiatan peningkatan SDM masyarakat dapat juga melalui seminar, workshop, bedah buku dan pelatihan keterampilan atau pengetahuan terapan yang bertujuan untuk kesejahteraaan masyarakat. Kegiatan (TPBIS) sebagaimana dikemukakan diatas dapat dilakukan dengan peningkatan program kemitraan atau kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, masyarakat (stakeholder), melalui perpustakaan dan taman bacaan masyarakat dengan mengakseskan, pemberian bantuan koleksi buku, rak buku, komputer, LCD,televisi, bahkan insentif pada pengelola perpustakaan secara stimulan pada perpustakaan kelurahan, taman bacaan masyarakat, pojok baca di berbagai tempat strategis, untuk mendekatkan bahan bacaan pada masyarakat Guna ikut menatasi masalah dimasyarakat, menekan kemiskinan dan stunting, (TPBIS) dapat mendukung secara tidak langsung sehingga perpustakaan juga dapat memiliki peran yang penting.

Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku baca dan tulis, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan perubahan sosial. Dengan mengakses pengetahuan, pendidikan, keterampilan, literasi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat, perpustakaan dapat menjadi mitra dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan sehat.

Upaya itu dilakukan dengan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan, meningkatkan penggunaan layanan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat (pemustaka). Kegiatan pelatihan dan keterampilan ini memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan program (TPBIS) telah di replika mandiri di berbagai kabupaten/kota dan desa/kelurahan di Indonesia.

Program (TPBIS) mendorong kolaborasi dan sinergi antara stakeholder dan instasi terkait untuk mendekatkan layanan perpustakaan pada masyarakat dalam meningkatkan SDMnya dan memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Untuk memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat umum dan juga stakeholder tentang pentingnya layanan perpustakaan, khususnya perpustakaan yang bertransformasi melalui program (TPBIS) perlu ada upaya untuk mengkomunikasikan dan mempublikasikan kegiatan kegiatan di masyarakat secara tidak langsung baik itu lewat media massa (cetak maupun online) atau media elektronik (radio dan televisi).

Terdapat beberapa pemustaka melalui program (TPBIS) dapat meningkatkan SDM dan meningkatkan kesejahteraan. Hal ini untuk dipublikasi kisah-kisah sukses penerima manfaat layanan perpustakaan dalam bentuk audio visual maupun tertulis. Pendidikan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi telah menjadi kebenaran yang bersifat simultan dan diakui keberadaannya.

Sebagaimana masyarakat menganggap pendidikan mahal, padahal tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan karena pendidikan merupakan investasi dalam pembangunan sumber daya manusia, yang mana dalam jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan.

Sebagai contoh melalui perpustakaan, zero stunting dapat melakukan dengan berbagai cara salah satunya melalui peningkatan akses informasi gizi dan kesehatan. Dengan begitu diharapkan masyarakat dapat mengetahui betapa pentingnya menjaga kesehatan, agar zero stunting dapat cepat tercapai. Tujuan utama (TPBIS) adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan layanan perpustakaan.

Sumber daya perpustakaan relatif masih banyak keterbatasanya untuk meningkatkan penggunaan layanan dan memenuhi sumber informasi masyarakat. Perpustakaan mungkin masih belum dapat memenuhi semua harapan pemustaka. Perpustakaan dan pustakawan dapat bekerja sama dengan stakeholder untuk memaksimalkan sumber daya mereka dan mengatasi keterbatasan mereka.

Perpustakaan perguruan tinggi, sekolah, dan umum dapat melakukan praktik kolaborasi. Ini membantu meningkatkan layanan, memaksimalkan sumber daya, dan mendorong kreativitas dan inovasi. Sikap dan komitmen yang diperlukan untuk orang yang bekerja sama termasuk kemauan yang kuat untuk bekerja sama. (*)

Dr. Endang Sarwiningsih Setyawulan, SE., MM., Ak.
Dosen FEB Unwahas Semarang

 

Editor : Agus AP