Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Jadikan UIN Walisongo Pioner dalam Riset Moderasi Beragama

Agus AP • Rabu, 21 September 2022 | 17:33 WIB
Rektor UIN Walisongo Prof Dr Imam Taufiq M.Ag saat menjadi saksi kasus suap seleksi perangkat desa di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (29/8). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Rektor UIN Walisongo Prof Dr Imam Taufiq M.Ag saat menjadi saksi kasus suap seleksi perangkat desa di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (29/8). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Bapak Imam Taufiq sangat konsistensi dan berkomitmen dalam mensyiarkan Islam moderat secara akademik maupun di tengah masyarakat untuk melawan radikalisme, ujaran kebencian, dan hoaks, yang saat ini memprihatinkan. Karena itulah Jawa Pos Radar Semarang menganugerahkan penghargaan sebagai Rektor Inovatif dalam Syiar Islam Moderat.

Moderasi beragama merujuk pada sikap untuk mengurangi kekerasan, menghindari radikalisme, dan mencari jalan tengah untuk terus menyatukan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.

Komitmen mensyiarkan Islam moderat ini telah lama dilakukan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Prof Dr Imam Taufiq M.Ag. Di antaranya dengan pendidikan melawan ujaran kebencian dan hoaks, serta mewujudkan program pendirian Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang.

Berkat komitmennya Prof Imam -sapaan akrabnya- meraih penghargaan sebagai Rektor Inovatif dalam Syiar Islam Moderat dari Jawa Pos Radar Semarang 2022. Kiprah Prof Imam di UIN Walisongo pun berawal dari menjadi menjadi dosen Ilmu Tafsir tahun 1996. Kemudian menjadi Staf Ahli Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Walisongo, Kepala Pusat Bahasa dan Budaya IAIN Walisongo, dan jabatan lain yang pernah dia emban. Hingga kini menjadi Rektor UIN Walisongo.

Prof Imam yang lahir di Jombang pada tahun 1972 ini pun terus mewujudkan lingkungan UIN Walisongo yang menjunjung tinggi moderasi beragama. Mulai dari pemberian materi kuliah mengenai moderasi beragama pada mahasiswa baru sejak tahun 2020, hingga kurikulum pembelajaran yang fokus pada syiar Islam moderat. “Hari ini tantangan kita dalam kehidupan berbangsa bernegara semakin kompleks,” jelas Prof Imam kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, persoalan tentang bangsa tidak bisa diselesaikan hanya dengan melakukan statement yang kemudian menyatakan sikap lewat media sosial saja. Namun perlu tindakan yang nyata. Masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang kegamaan yang sangat variatif dan beragam.

“Kita lihat media sosial sekarang. Problem kita saat ini, masyarakat kurang menghargai pendapat orang secara apresiatif, sehingga pemahaman tentang keberagaman agama ini perlu ditingkatkan,” tambahnya.

Masyarakat menganggap keyakinannya yang paling benar. Karena itu, dibutuhkan sikap untuk bisa menyelaraskan agama. Apalagi sejauh ini, satu agama tapi berbeda golongan pun, dapat menimbulkan gesekan. “Mengaku paling benar itu tidak masalah, tapi menganggap yang lain salah itu yang tidak tepat,” imbuhnya.

Prof Imam mengaku dalam menghadapi keberagaman diperlukan usaha meningkatkan toleransi dan menghargai pendapat orang lain. Menurutnya, toleransi itu menjadikan seseorang bersikap adil dalam bersikap. Yakni bersikap setara dalam melihat sesuatu atau tidak berat sebelah dan tidak berpihak pada seseorang. “Di tengah hidup pluralistik ini, dibutuhkan orang yang berkarakter tasamuh atau toleransi dan wasathiyah,” tambahnya.

Dalam memimpin UIN Walisongo dan menjaga komitmennya dalam syiar Islam moderat, Prof Imam mengedepankan riset-riset tentang moderasi beragama. Moderasi beragama atau Islam wasathiyah terus dia kembangkan lebih mendetail. UIN Walisongo dirasa perlu menjadi pionir dalam pengembangan riset-riset tersebut sebagai jalan masuk menuju kampus bereputasi dunia.

Dalam pengembangan kampus, pemikiran ulama terdahulu untuk merawat kebhinnekaan terus dikembangkan. Seperti UIN Walisongo yang terlahir dari nama besar Walisongo atau wali sembilan dalam berdakwah menyatakan kebenaran Islam. Mereka menyebarkan dengan gagasan yang tasamuh dengan rahmatan lil alamin tidak meninggalkan bekas-bekas kekecewaan, kekerasan, ataupun ketidakterimaan masyarakat terhadap ajaran tersebut.

Prof Imam terus melakukan perbaikan dari internal kampus baik untuk dosen, karyawan, dan mahasiswa. Disamakan persepsinya untuk melaksanakan pembelajaran yang ramah serta moderat. “Dosen kita ajari, disamakan persepsinya, dan kita mantapkan kembali bagaimana harus melakukan pembelajaran yang ramah moderat,” akunya.

Pihaknya juga melakukan training of trainer (TOT), workshop, dan seminar terhadap kiai muda, para tokoh agama, pegawai Kementerian Agama (Kemenag), peneliti, dan guru seluruh Jawa Tengah. Kerjasama ini sebagai ikhtiar untuk membangun kampus yang berkontribusi untuk bangsa, mewujudkan masyarakat yang santun, ramah, dan damai.

Harapannya UIN Walisongo menjadi kampus yang mengedepankan sustainable life dengan hidup yang ramah, lingkungan, dan prestasi mahasiswa di bidang agama dalam rangka memberikan kontribusi yang baik untuk kampus.

“UIN Walisongo menjadi kampus yang pernah mendapatkan prestasi mahasiswa dengan kejuaraan terbanyak di bidang agama. Karena itu, kami berharap lingkungan di kampus juga bersih dari radikalisme dan menjunjung tinggi moderasi beragama,” pungkasnya. (kap/ida) Editor : Agus AP