Keberhasilannya dalam meraih predikat Politeknik Kesehatan terbaik di Jawa Tengah yang diberikan oleh Jawa Pos Radar Semarang ini tak luput dari kerja keras Direktur Polkesmar Semarang Dr Marsum BE S.Pd MHP. Berdedikasi sejak tahun 1984, membuat Marsum tahu betul mengenai pendidikan kesehatan yang harus diterapkan pada mahasiswa, dosen, dan sumber daya manusia (SDM) lainnya. Mulai diangkat sebagai Pengatur Muda, Pembina Utama, hingga kini menjadi Direktur Poltekkes Kemenkes.
Selain hard skill, suami dari Erna Nurtjahjani ini pun mengedepankan keterampilan soft skill. Seperti toleransi, tutur bahasa, sopan santun, dan mempunyai etika yang baik. Prestasi pun banyak diraih, terutama saat pandemi Covid-19 melanda. Polkesmar Semarang ini meraih beberapa penghargaan. Seperti penghargaan satker WBK, klaterisasi I Poltekkes, skor tertinggi PUI PK, peraih rekor muri pengiriman relawan Covid-19 mahasiswa terbanyak, penghargaan sentra vaksinasi, perpustakaan terbaik Kemenkes, dan sebagainya.
“Unggah-ungguh yang baik, sopan santun, menghormati yang lebih tua itu menjadi kunci dari sebuah kesuksesan,” jelas Marsum kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Marsum mengatakan bahwa Polkesmar Semarang di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes), lulusannya harus mempunyai empat sertifikat keahlian sebagai penunjang untuk terjun di dunia kerja. Seperti penguasaan IT, bahasa asing, sertifikat keahlian atau btcls, dan sertifikat di bidang jurusan yang diambil semasa kuliah.
Lulusan bisa melayani masyarakat di bidang kesehatan dengan kualitas yang baik. Inilah yang membedakan kampusnya dengan perguruan tinggi lain. Ditambah dengan sarana prasarana serta SDM yang menunjang. Rata-rata pekerjaan yang dibuka oleh Kemenkes pun berasal dari lulusan Polkesmar Semarang. Setiap semester, pihaknya selalu melaporkan kienerja yang baik. Mengenai penjaminan mutu dalam mewujudkan akreditasi unggul para dosen diberikan target-target untuk penulisan karya ilmiah.
“Proses penjaminan mutu ini berbasis ISO, dari Kemendikbudristek akan mengawasi kita agar selalu mengedepankan kualitas. Outputnya adalah akreditasi yang unggul,” tambahnya.
Marsum menambahkan di Polkesmar Semarang sendiri ada program afirmasi. Mahasiswa yang lulus program ini akan dididik sesuai dengan kebutuhan daerah-daerah tertentu. Seperti daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DPTK) serta daerah yang bermasalah kesehatan. Dari 34 program studi yang terbagi dalam 8 jurusan dan satu program pasca sarjana, lebih dari 60 persen terakreditasi A. Polkesmar Semarang juga menjadi satu-satunya Politeknik Kesehatan yang mendapatkan izin ada program pasca sarjana.
Ayah dari tiga anak ini terus menggenjot mahasiswa dan dosen serta pegawai untuk tata pamong. Yakni mengelola semua pekerjana secara transparan, bisa dipertanggungjawabkan, efektif, efisien, dan semua berorientasi melayani.
Pihaknya berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Semarang atas penghargaan yang diberikan sebagai Politeknik Kesehatan Terbaik di Jawa Tengah. Menurutnya penghargaan ini dapat memacunya untuk terus berkarya dan menjadikan Polkesmar Semarang sebagai Politeknik Kesehatan yang unggul.
“Anugerah Jawa Pos Radar Semarang ini menjadi motivasi kami untuk terus mempertahankan akreditasi unggul untuk Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, tentunya dengan pendidikan yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (kap/ida) Editor : Agus AP