RADARSEMARANG.ID, Dadi rondo,urip luwih mulyo. Itulah yang dikatakan Lady Sandi saat ditemui pada sidang perceraiannya dengan suaminya, John Dori.
Ibu dari dua orang anak ini sudah lelah hati menjadi istri. Ia ingin bebas. Menikmati hidup tanpa memikirkan suami.
Dua kali menikah, dua kali juga ia berpisah. Kegagalan dalam berumah tangga menjadikannya trauma. Sampai-sampai tak mau nikah lagi.
Suami pertamanya dulu suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Setiap hari tubuhnya babak belur karena amukan sang suami. Karena itulah mereka bercerai.
Lady pun bertemu dengan John Dori. Baru kenal empat bulan, mereka langsung menikah. Pikirnya karena John baik dan tanggung jawab.
Nyatanya sama saja. Suami keduanya ini justru kelakuannya lebih parah. Suka mabuk-mabukan juga punya banyak utang.
Nasibnya dalam hal percintaan sungguh apes. Keuangannya memang lancar. Tapi nasib pernikahannya tak mujur.
Entah apa yang dipikirkan dulu, tiba-tiba mau menikah lagi. Padahal sudah menjanda cukup lama.
Sekarang hanya bisa menyesal. Rumah tangganya kembali hancur berantakan.
“Luwih penak dadi rondo ketimbang nduwe bojo,” kata Lady.
John tak sebaik yang dikira. Diawal saja perhatian tapi setelah itu ditinggalkan. Suaminya tak tulus mencintai.
Tujuannya menikah tak lain untuk memanfaatkan sang istri. Membayarkan utang yang kadung menumpuk.
“Nggegeri rabi ternyata mung kon nyaurke utange, dasar laki-laki matre,” ungkapnya.
John sudah kecanduan miras juga judi. Meski kerja, tak sekalipun memberikan nafkah pada Lady Sandi. Uangnya habis untuk main kartu.
Sedangkan istrinya terus-terusan ditagih rentenir bank. Karena itulah Lady tak jenak. Ia memilih untuk berpisah. Pernikahannya pun kembali kandas.
“Karuan dadi rondo uripe ayem,” tandasnya. (kap/ton)
Editor : Agus AP