Bukannya matre, tapi berpikir secara rasional. Ia pun sama dengan wanita lain, ingin mempunyai suami serba perfect.
Matang dalam segala hal, baik perlakuan maupun finansial.
Sebelum menikah dengan John Dori, Lady membuat perjanjian. Isinya adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suaminya.
Salah satunya membangun rumah sendiri sebelum pernikahan berumur lima tahun. Karena suaminya tak bisa menepati janjinya, pernikahannya berakhir ambyar. Lady mengajukan gugatan cerai.
“Kalau dibilang cinta iya. Tapi memang ada perjanjian sebelum nikah, Mas John akan membuatkan rumah setelah pernikahan berumur lima tahun. Tapi nyatanya apa, sudah tujuh tahun menikah masih numpang di rumah mertua,” kata Lady kecewa.
Lady mengakui sebenarnya masih cinta dengan suaminya. Perjanjiannya dulu juga sudah tak pernah diungkit. Lady sudah melupakan impiannya untuk mempunyai rumah sendiri.
Kebutuhan sekundernya sebagai seorang perempuan juga tak pernah ia dapat dari suaminya. Bukannya mendukung, justru sikap John berubah. Kasih sayangnya berkurang, perlakuannya juga kasar.
“Itu keinginan saya satu-satunya. Malu mbak numpang mertua terus. Buat kesalahan dikit bakal diungkit-ungkit terus. Lama-lama kesal juga,” akunya.
Lady juga mengaku telah melupakan perjanjiannya. Tapi ia meminta kepada John untuk mengontrak rumah. Setidaknya bisa pisah dengan mertua. Bukannya ditanggapi dengan baik, suaminya justru marah-marah.
“Giliran sini udah nggak minta rumah, Mas John salah paham. Tahunya saya nggak suka sama mertua, padahal dia kan nggak tahu gimana perlakuan ibunya ke istrinya,” katanya.
Yang membuatnya kesal adalah perlakuan mertuanya yang tak baik kepada anaknya. Sering kali anaknya dibuat nangis.
Hal inilah yang membuat Lady sakit hati dan mantap untuk berpisah.
“Mertua itu kalau sama cucu suka pilih kasih. Sementara Mas John nggak pernah membela sekalipun, buat apa bertahan jika sakit hati terus,” akunya. (kap/aro) Editor : Agus AP