Sejak pertama bertemu Lady sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sosok John terlihat seperti pria yang mapan, penyabar, dan berwibawa. Mereka berpacaran selama enam bulan, dan langsung memutuskan untuk menikah.
"Ayah saya itu tipe orang yang nggak suka anaknya pacaran. Jadi, kalau serius ya langsung aja nikah," jelas Lady.
Lady belum sepenuhnya mengetahui sifat suaminya. Keduanya hanya sebatas makan ketika bertemu. Pikirnya John merupakan orang yang baik. Tapi ternyata salah. John merupakan pria yang emosian. Bahkan sering main tangan.
"Dulu waktu pacaran nggak pernah kasar sama sekali. Tapi begitu nikah, wuhh sering main tangan Mbak, saya aja kaget," akunya.
Terutama jika berhubungan dengan menu masakan. Sebagai seorang istri, Lady selalu mempersembahkan yang terbaik untuk suaminya. Bukannya bersyukur, John justru sering mencari-cari kesalahan. Tak jarang ia membuang masakan Lady.
Apalagi ketika sang istri tak sempat memasak. John akan marah besar. Tak segan ia selalu melampiaskan amarahnya dengan pukulan. Hampir setiap hari Lady mendapat amukan dari sang suami. Entah dipukul, ditendang, bahkan ditampar di hadapan banyak orang.
"Pernah sekali ketika teman-teman Mas John datang aku ditampar di hadapan mereka. Masalahnya sepele, hanya karena aku nggak masak," katanya.
Berulang kali Lady memohon agar sang suami mau mengubah sikapnya. Namun hasilnya nihil. Bukannya dituruti, justru Lady semakin dikecam. Ia pun harus bergelut dengan luka lebam setiap harinya. Lelah dengan perlakuan sang suami, ia pun memutuskan untuk menggugat cerai John.
Tanpa pikir panjang, Lady pergi ke Pengadilan Agama Semarang untuk mengurus surat percerian. Meski John sempat menolak akhirnya mediasi bisa terlewati. Saat ini, keduanya sedang menjalani sidang.
"Doakan saja sidangnya cepat selesai, dan saya bisa hidup bebas. Dari pada dipertahankan tapi menyiksa diri," ujarnya. (kap/aro) Editor : Agus AP