Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Budaya Pluralisme Sambut Kim Sin Poo Seng Tay Tee

Agus AP • Senin, 19 Juni 2023 | 16:12 WIB
Tiga orang bhe kun yang ikut mengarak kim sin Poo Seng Tay Tee di Kelenteng TTID Tay Kak Sie, Minggu (18/6). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Tiga orang bhe kun yang ikut mengarak kim sin Poo Seng Tay Tee di Kelenteng TTID Tay Kak Sie, Minggu (18/6). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ribuan warga Kota Semarang antusias menyaksikan perayaan kedatangan kim sin Poo Seng Tay Tee di Kelenteng TTID Tay Kak Sie, Minggu (18/6). Perayaan untuk Dewa Obat ini dimeriahkan dengan kirab budaya.

Kirab budaya kedatangan kim sin Poo Seng Tay Tee ini sebagai penghormatan atas sejarah 163 tahun yang lalu. Pada saat itu, Kota Semarang dilanda wabah penyakit yang berkepanjangan. Beberapa warga Tionghoa lantas meminta bantuan ke saudara atau leluhur di Tiongkok.

Lalu dikirimkan kim sin Poo Seng Tay Tee yang sudah didoakan. Setibanya di Kota Semarang, kim sin tersebut dikirab keliling di Kota Semarang. Berangsur-angsur wabah penyakit ini menghilang dari Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu turut menyambut kirab budaya. Bahkan ia ikut memanggul tandu kim sin saat akan masuk Kelenteng Tay Kak Sie. Tampak juga Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Samuel Wattimena, Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang R Wing Wiyarso Poespojoedho berbaur dengan masyarakat.

Wali kota yang akrab disapa Mbak Ita ini menyatakan, kirab budaya ini menggambarkan pluralisme di Kota Semarang. Terutama di kawasan Semarang Lama yang terdiri dari Pecinan, Kauman, Kampung Melayu dan Kota Lama Semarang.



Tradisi ini menggambarkan bentuk toleransi, keberagaman, dan kerukunan umat di sekitar Kelenteng Tay Kak Sie. "Ini yang menjadi (Kota Semarang menjadi) salah satu dari 10 besar kota toleran di Indonesia," katanya.

Mbak Ita mengimbau tradisi semacam ini tetap dilestarikan. Karena merupakan budaya atau story telling yang tidak bisa ditinggalkan. Kirab budaya ini juga tidak hanya meneruskan tradisi, tetapi bisa menjadi magnet pariwisata di Kota Semarang.

Sehingga Kota Semarang menjadi contoh kerukunan umat beragama. "Diharapkan anak-anak muda ini harus menjaga sejarah dan tradisi," katanya. (fgr/ton) Editor : Agus AP
#kim sin Poo Seng Tay Tee #Dewa Obat #Tay Kak Sie