Diawali pemakaian pita hitam di tangan kiri. Dilanjutkan prosesi sembahyang, dengan meletakkan dupa di depan gedung. Para peserta masuk ke altar, tempat dimana sinci-sinci diletakkan. Termasuk sinci milik Presiden RI Gus Dur dan Ita Martadinata.
Mereka juga meletakkan bunga melati berdampingan dengan sesaji nasi goreng dan mie goreng. Makanan favorit Ita Martadinata Haryono. Sementara di depan altar. Bahan-bahan pembuatan rujak pare sambal kecombrang juga telah disiapkan. Di sana ada pare, cabai, kecombrang, beragam bahan serta peralatan, dan juga ulekan.
Pare dipilih untuk menggambarkan kepahitan yang dialami korban pada 25 tahun lalu. Sedangkan bunga kecombrang sebagai simbol perempuan Tionghoa.
“Kecombrang mewakili orang-orang yang mengalami kekerasan Mei 98. Pare, lambang sebuah sejarah yang pahit dan pakai sambalnya pedas. Istilahnya kita makan pahit, pedas campur jadi satu kan akhirnya kita ikut menangis merasakan kesedihan,” kata Ketua Panitia Jose Amadius Krisna usai kegiatan berlangsung.
Selain itu ada juga nasi bunga telang dengan berbagai lauk. Seperti empal, telur, sambal goreng ati, dan sebagainya. Nasi ini disimbolkan mengenai keberagaman Indonesia yang terdiri dari suku, bangsa, dan budaya dengan keunikan masing-masing.
“Untuk mewakili Indonesia ada dari berbagai suku, ras, agama. Saat makan dicampur jadi satu tanpa kehilangan identitas masing-masing,” imbuhnya.
Selain sebagai gelaran untuk mengingat sejarah kelam dan berkontemplasi bersama. Jose sapaannya berharap kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. Ita, remaja 18 tahun yang dibunuh secara sadis sebelum sempat bersaksi di hadapan PBB Oktober 1998 silam.
Untuk menghargai jasa dan keberaniannya, papan arwah atau sinci Ita berwarna putih diletakkan berdampingan dengan Sinci Gus Dur di altar gedung tersebut. Sedangkan pemilihan warna putih melambangkan duka dalam kultur Tionghoa.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim mengaku peringatan ini tidak boleh berhenti pada langkah seremonial. Tapi juga berlanjut dengan tindakan kontekstual yang bisa membantu orang-orang di sekitar. Pihaknya juga menciptakan forum bernama Estungkara. Untuk mendorong keberanian para korban agar berani bersuara.
“Kita buka forum untuk para korban atau yang mengalami kekerasan. Jadi nanti kami bisa menjadi fasilitator yang mungkin dosen psikolog, atau dari filsafat untuk membantu memfasilitasi saja,” ungkapnya. (kap/fth) Editor : Agus AP