Salah satu pembuat bandeng presto di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari Suhartono termasuk yang kebanjiran pesanan. Tahun ini, permintaan oleh-oleh olahan bandeng mulai ramai kembali. "Saat pandemi, usaha benar-benar drop. Sekarang sudah mulai banyak lagi, meskipun belum seramai saat belum pandemi," kata pemilik UD Putri Laut ini.
Dijelaskannya, bandeng presto memang menjadi salah satu produk favorit saat Lebaran. Sebagai makanan khas Semarang, produk ini bisa untuk oleh-oleh kolega maupun sebagai lauk saat puasa dan hari raya. "Saat puasa ini, sudah banyak yang pesan untuk Lebaran nanti," jelas Suhartono.
Di hari biasa, bersama keluarga dan 7 karyawan, Suhartono bisa mengolah sekitar 100 kg bandeng menjadi bandeng presto, otak-otak maupun pepes. Saat puasa, produksi ditingkatkan dua kali lipat, jadi sekitar 200 kg bandeng per hari. Ini untuk menyiapkan stok Lebaran. Sejumlah tenaga tambahan dari warga sekitar juga direkrut untuk menyiapkan stok jualan.
"Biasanya H-5 saya harus punya stok sekitar 5.000 bandeng yang sudah siap jual," jelasnya. Satu kardus bandeng produksi UD Putri Laut berisi dua ekor bandeng. Jadi saat Lebaran Suhartono sudah punya stok 2.500 porsi. "Biasanya H+2, stok itu sudah habis."
Saat Lebaran, toko UD Putri Laut tetap buka. Sebab di tahun-tahun sebelumnya memang banyak orang yang datang untuk cari oleh-oleh ketika balik ke tempat asal. Suhartono melihat peluang ini dengan tidak ikut libur. Meskipun H-5 biasanya sudah sulit mencari pekerja yang bisa ikut produksi saat Lebaran, tapi dengan sudah memiliki stok dua kali lipat, Suhartono merasa aman.
Selain memiliki usaha UD Putri Laut, Suhartono juga menjadi ketua Kelompok Pengolah dan Pemasar Olahan Ikan (Poklahsar) Putri Laut. Kelompok ini merupakan kumpulan pelaku UMKM olahan ikan di Tambakrejo. Anggotanya lebih dari 20 pelaku UMKM yang sebagian besar juga sebagai pengolah bandeng presto. Menurut Suhartono, para anggota Poklahsar Putri Laut juga kebanjiran pesanan. "Banyak pesanan khusus untuk oleh-oleh warga Semarang yang mau mudik ke kampung halaman," jelasnya.
Sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng sudah menjadi langganan UD Putri Laut. Bahkan ada yang sudah minta disiapkan sekitar 50 kardus yang rencananya untuk oleh-oleh saat mudik. Tingginya penjualan bandeng presto biasanya dari puasa hingga H+2 Lebaran. "Bu Ita (Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, red) juga sering membeli bandeng presto dari saya," ujar Suhartono.
Suhartono mengaku, tidak pengambil untung besar. Satu kardus isi 2 ekor bandeng masing-masing dengan berat 140-170 gram ia jual seharga Rp 30.000. Sedangkan untuk bobot 280-340 gram dijual seharga Rp 35.000. Harga ini di bawah harga bandeng yang dijual di sentra oleh-oleh Pandanaran. Apalagi produk dari UD Putri Laut ini sudah mengantongi sertifikat halal dan standar nasional Indonesia (SNI).
Dalam berjualan, Suhartono memiliki prinsip untuk tidak mencantumkan harga yang mahal. Ia ingin bandeng presto bisa dibeli masyarakat di kalangan menengah ke bawah. Sebab bandeng termasuk sumber protein pangan yang baik. Bila menjual dengan harga murah, maka diharapkan permintaan juga banyak, sehingga pekerja yang diserap juga banyak. "Saya juga punya tujuan untuk padat karya, meskipun untungnya sedikit tapi bisa dikerjakan banyak orang yang mereka adalah warga sekitar sini," jelasnya.
Selain olahan bandeng, Suhartono juga menjual produk oleh-oleh lainnya. Seperti udang crispy, wader crispy, baby fish crispy, stik duri bandeng, dan stik cumi. (ton) Editor : Agus AP