Padahal patung tersebut sedianya bakal diresmikan sebelum Ramadan 2023 ini. Sedangkan jadwal revisi juga mundur karena kendala cuaca beberapa waktu lalu.
“Harapan kami setelah Lebaran bisa diresmikan. Saat ini, kami lakukan revisi karena terlihat menyeramkan. Revisi dilakukan agar fasad patung bisa lebih anggun dan menunjukkan wajah tersenyum,” kata Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang Ali Senin (13/3).
Patung setinggi sembilan meter itu berbeda dengan patung-patung lain di Kota Semarang. Pembangunannya telah melibatkan dan berkoordinasi dengan seniman Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk membuat patung yang bisa menari. “Nantinya, patung tersebut bisa berputar seperti layaknya penari. Kami pakai mesin otomatis,” ucapnya.
Untuk anggaran pembangunan, lanjut Ali, menggunakan anggaran swakelola. Sementara ini, sudah menelan anggaran Rp 500 juta. Diperkirakan, akan menelan anggaran hampir Rp 1 miliar karena akan dilengkapi dengan selendang dan lainnya.
“Kami akan melakukan penataan sekitar patung agar menjadi ruang terbuka hijau yang estetik. Nanti, perawatannya lebih ekstra karena memakai mesin, terutama listriknya harus baik,” imbuhnya. (den/ida) Editor : Agus AP