Warga RW 5, Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, memilih menyulap selokan menjadi keramba. Kini sudah memiliki dua keramba. Masing-masing panjangnya enam meter dengan lebar satu meter. Isinya ribuan ekor ikan. Seperti nila, mujair, lele, dan patin.
Di atasnya dibuat seperti taman. Layaknya pedesaan. Pijakan terbuat dari bambu yang ditata rapi. Beragam pot berlukiskan hewan dari galon bekas juga turut dipajang. Mengitari taman kecil di atas selokan. Tentu pot ini berisi beragam tanaman. Baik bunga dan sayuran.
Pertama kali datang ke wilayah ini, permukimannya sudah terlihat bersih. Jalannya luas dan terlihat rapi. Tidak ada satupun kendaraan yang terparkir di bahu jalan. Ternyata, ini merupakan bentuk komitmen warga RW 5 Pendrikan Lor. Masyarakat dilarang parkir di depan gerbang rumah. Karena dapat mengganggu aktivitas orang yang lewat.
Inovasi pemanfaatan saluran air menjadi keramba ikan juga sudah digagas sejak tiga tahun lalu. Setiap dua hingga tiga bulan sekali dipanen. Hasilnya lumayan. Mulai dari 10 kg sampai 20 kg.
“Kali pertama memulai, kami hanya memiliki satu keramba. Setelah kami jadi RW sejak November 2022, kini menjadi dua keramba. Rencananya akan ditambah tiga, hingga empat keramba lagi,” kata Ketua RW 5 Kelurahan Pendrikan Lor, Agus Muldiyanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Pihaknya mengaku ikan hasil panen tidak diperjualbelikan secara bebas. Hanya untuk kebutuhan warga. Biasanya hasil panen dimanfaatkan untuk kegiatan Jumat Berkah. Ketika masih ada sisa, baru warga sekitar boleh membelinya. Hasilnya akan digunakan untuk membeli bibit lagi.
Agus -sapaan akrabnya- menyebutkan, tidak ada kendala dalam pengelolaan keramba ini. Saat musim hujan, air selokan tidak pernah meluap. Namun, pihaknya tetap melakukan antisipasi dengan pemasangan jaring di keramba. Meski air mengalir deras, ikan tetap aman.
Menurutnya desain keramba juga sudah disesuaikan dengan muka air yang mengalir. Bentuknya seperti kapal, lancip di depan. Tujuannya agar sampah yang masih terbawa air bisa lewat dan tidak menyangkut.
Saat musim kering, Agus memastikan ikan tidak akan kekurangan air. Bentuk selokan di tengahnya lebih dalam. Ketika air menyusut, ikan tetap aman. “Bentuknya itu yang tengah lebih dalam jadi aman kalau musim kemarau ikan tidak kekurangan air,” akunya.
Sedangkan untuk perawatan, semua warga bergantian memberikan makan. Setiap Minggu dilaksanakan kerja bakti. Sehingga kebersihan tetap terjaga.
Sementara Lurah Pendrikan Lor R Wisnu Effendy sangat mengapresiasi inovasi warganya. Pihaknya mendukung penuh kreativitas setiap masyarakat di wilayahnya. Ada enam RW. Wisnu siap memberikan support bagi masyarakat yang mau maju, sesuai dengan ciri khas masing-masing. Menurutnya kelurahan akan mendukung baik secara material dan non material.
“Masyarakat yang punya inovasi, saya akan hadir di situ untuk memberikan support apapun yang mereka butuhkan. Apalagi untuk kemajuan wilayah, pasti akan saya dukung,” ungkapnya. (kap/ida) Editor : Agus AP