Lokasi outbound Desa Wisata Kandri ini memang baru dibuka setelah tiga tahun pandemi Covid-19. Di lokasi tersebut, para siswa dibagi beberapa kelompok. Ada kelompok yang khusus menangkap ikan lele, ada yang ke sendang dulu, ada yang menanam singkong dan mencabut singkong lalu menengok pembuatan kripik singkong dengan menaiki kereta odong-odong.
Setelah itu, siswa perempuan menanam padi bersama di sawah dan menangkap ikan. Bergantian dengan siswa laki-laki untuk melakukan hal serupa. "Seru banget, tadi lihat tanaman, kambing, sapi, domba, lalu nanam padi ini menangkap lele. Saya berani," kata salah satu siswa bernama Arya.
Siswa lainnya, Alena, juga bersuka cita. Ini pengalaman pertama baginya. "Kami menanam, mencabut, dan mengolah singkong. Banyak pelajaran baru, kami bisa menanam padi," serunya.
Pengurus Desa Wisata Kandri, Wahid menjelaskan, di lokasi Outbound Desa Wisata Kandri ini, pihaknya mengenalkan para siswa tentang tanaman. Terutama tanaman padi dan singkong. "Mereka biar tahu rasanya jadi petani, belajarnya menyambung, menanam, panen, hingga diolah menjadi sesuatu seperti kripik singkong dan makan nasi," katanya.
Wali Kelas 5 SD Hidayatullah, Mohammad Firdaus menjelaskan, kegiatan ini mengenalkan anak-anak untuk mengenal potensi desa dan sosial kemasyarakatan desa. Sengaja memilih Desa Wisata Kandri, karena tempatnya representatif untuk mengenalkan anak-anak pada dunia pertanian. "Kami sudah tiap tahun ke sini. Sebelum pandemi Covid-19 kami ke sini," katanya.
Diakuinya, kegiatan city tour ini sempat vakum karena pandemi Covid-19. "Kami berharap anak-anak bangga dengan negara Indonesia, karena memiliki tanah yang subur dengan potensi sumber daya alamnya yang bagus," harapnya. (fgr/ida) Editor : Agus AP