Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

KWT Puspitasari Sampangan Ubah Lahan Buangan Jadi Urban Farming

Agus AP • Kamis, 2 Februari 2023 | 16:07 WIB
Hanna Arini Parhusip menunjukkan batik yang motifnya tercipta dari rumus matematika. (NURFA’IK NABHAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Hanna Arini Parhusip menunjukkan batik yang motifnya tercipta dari rumus matematika. (NURFA’IK NABHAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Berawal dari lahan bekas pembuangan puing bangunan, ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 3 Kelurahan Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang berinisiatif mengubahnya menjadi lahan urban farming. Sudah hampir lima tahun, warga menikmati hasilnya.

Ide itu bermula dari keinginan untuk merealisasikan salah satu program PKK, yaitu Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman atau Hatinya PKK di setiap rumah. Harapannya, kebun itu bisa dikelola secara bersama-sama.

Saat itu, bertepatan dengan adanya program urban farming yang sedang digencarkan Pemkot Semarang. Dinas Pertanian Kota Semarang turut memfasilitasi warga dengan memberikan pelatihan, bibit tanaman, dan peralatan yang mendukung.

"Itu awalnya lahan fasilitas umum yang digunakan untuk membuang sampah bekas bangunan, kemudian kami dibantu warga untuk membersihkan dan merombaknya menjadi urban farming seperti saat ini," kata Aryani, ketua  Kelompok Wanita Tani (KWT) Puspitasari.

Lahan seluas 250 meter persegi tersebut dikelola oleh KWT Puspitasari sejak 2018. Berbagai tanaman tumbuh subur di lahan itu. Di antaranya, berbagai jenis sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat keluarga (Toga).

Di sana terdapat green house sebagai rumah pembibitan dan pengelolaan tanaman hidroponik. Setiap hari ada anggota KWT yang bertugas untuk melakukan perawatan. Selain itu, mereka juga rutin melakukan pembibitan.

"Setiap pagi tanaman harus disiram, anggota yang datang itu memang sudah ditugasi. Selain itu, mereka melakukan pembibitan dan memindahkannya ke polybag," ujarnya.

KWT Puspitasari bisa panen setiap seminggu sekali dalam sebulan. Hasilnya diperjualbelikan kepada warga setempat melalui WhatsApp ataupun pembelian secara langsung.

Keuntungan yang didapat dari hasil panen digunakan untuk biaya operasional, perawatan tanaman, dan pengembangan KWT.

"Untuk mengembangkan KWT itu sendiri dan biaya perawatan, seperti membeli bibit tanaman, pupuk, pestisida, dan kesejahteraan anggota agar ibu-ibu yang berperan aktif di sini juga merasa dihargai," katanya.

Proses penanaman itu tidak luput dari kendala. Seperti tanaman yang layu, sistem pengairan yang belum maksimal, dan hama berupa kutu daun, lalat buah, ulat, dan lebah.

Untuk menangani kendala tersebut mereka melakukan penyemprotan terhadap tanaman dan membuat perangkap lalat dan kertas perekat untuk kutu.

"Di sini masih manual semua. Perawatan kita lakukan sendiri mulai dari penyiraman, pemupukan, sampai kebersihan lahan," ucapnya.

Sebelum itu, tanaman hidroponik yang mereka budidayakan sempat mengalami gagal panen. Namun semua itu bisa teratasi dengan adanya mesin pendingin air yang bisa menstabilkan suhu.



Dikatakan, KWT Puspitasari mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kelompok ini sempat mendapatkan CSR Bank BRI, Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang. “Dukungan itu berupa dana hibah yang diberikan untuk meningkatkan hasil pertanian agar lebih optimal,” katanya.

Banyak prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh KWT Puspitasari. Di antaranya, juara II lomba urban farming pada 2019, juara II lomba Mekar Pagi Hebat yang diadakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang 2021, dan Penghargaan Wanita Berjasa di Bidang Pertanian 2022.

Saat ini, mereka sedang mempersiapkan Lomba Kampung Hebat 2023 kategori urban farming yang digelar Jawa Pos Radar Semarang dan Pemkot Semarang. Mereka melakukan persiapan dengan mengajak ibu-ibu untuk menanam tanaman di halaman rumah.

"Paling tidak semuanya bisa menanam empon-empon atau sayuran. Biar setiap rumah ada tanaman yang bisa dipanen atau sekadar dikonsumsi sendiri," ujarnya.

Kelompok tani ini juga sering mendapat kunjungan dari berbagai sekolah. Mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP. Para siswa diajarkan cara menanam dan merawat tanaman.

"Kita melakukan edukasi kepada anak-anak PAUD, SD, dan SMP. Beberapa waktu lalu ada 112 anak SD ke sini. Mereka diajari cara menanam, membibit, dan lain-lain," katanya.

Ia berharap KWT Puspitasari bisa semakin maju, bisa menerapkan teknologi pertanian, dan ada regenerasi setelahnya.

Menurut Ketua RW 3 Kelurahan Sampangan Budi Susatyo, kelompok ini pertama kali diresmikan oleh Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang saat itu masih menjadi wakil wali kota.

Sejak diresmikan, KWT Puspitasari terus berkembang dan menjadi percontohan di Kota Semarang. Mulanya anggotanya didominasi oleh ibu-ibu PKK berusia lanjut, tapi sekarang sudah banyak ibu-ibu muda bergabung.

"Karena sudah berdiri, jadi harus terus dilanjutkan. Kalau bisa, ada regenerasi, jadi masih terus bertahan," ujarnya.

Beberapa waktu yang lalu, Mbak Ita --sapaan akrab wali kota Semarang-- berkunjung ke KWT Puspitasari. Bersama warga, Mbak Ita ikut memanen sayuran dan buah-buahan. Selain itu, ia juga mencicipi pecel, makanan yang disuguhkan ibu-ibu KWT yang didapat dari hasil panen.

Di sela-sela kunjungannya, Mbak Ita memborong hasil panen dan membagikannya kepada warga setempat. Dari situ, KWT Puspitasari merasa semakin termotivasi dan diperhatikan oleh wali kota.

Budy Susatyo berharap KWT Puspitasari bisa menjadi kegiatan yang positif dan terus bermanfaat untuk semua kalangan, mulai anak-anak hingga lansia. (mg5/mg6/mg7/aro) Editor : Agus AP
#PKK #KWT Puspitasari #Kelurahan Sampangan #KOTA SEMARANG #GAJAHMUNGKUR #Urban Farming