Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Siap Jaga Warisan Leluhur

Agus AP • Senin, 23 Januari 2023 | 19:27 WIB
Djohan Gondo Kusumo saat berdoa di Kelenteng Tek Hay Bio Semarang. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djohan Gondo Kusumo saat berdoa di Kelenteng Tek Hay Bio Semarang. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lahir dari orangtua beragama Nasrani, Djohan Gondo Kusumo memilih beribadah dan mengabdi di kelenteng. Bahkan ia dipercaya menjadi pemimpin di Yayasan Tri Dharma.

"Marga China saya Kwee. Saya tidak diberikan nama China, tapi saya hafal betul marga saya karena itu berasal dari leluhur ayah. Orang tua saya Nasrani, saya berjuang masuk kelenteng" jelas pria kelahiran Semarang, 13 Mei 1978 ini.

Sejak 2015, Djohan menjadi ketua Kelenteng Tek Hay Bio Semarang atau Sinar Samudra, yang bernaung di bawah Yayasan Tri Dharma Sinar Samudra.

"Saat ini sudah memasuki periode kedua saya, yang akan berakhir di tahun 2025," katanya.

Kelenteng Tek Hay Bio merupakan kelenteng marga leluhurnya. Sehingga Djohan memiliki motivasi melanjutkan apa yang sudah dilakukan leluhurnya.

"Yakni menjaga tempat ibadah yang sudah menjadi warisan dari pendahulu kita," katanya.



Dalam mengelola kelenteng tentu ada suka duka, seperti organisasi pada umumnya. Karena berinteraksi dengan orang-orang bukan sanak saudara sehingga kadangkala ada berbeda pendapat.

"Kami mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam memajukan kelenteng ini," jelasnya.

Banyak pengalaman spiritual yang ia rasakan saat mengelola kelenteng, karena di kelenteng memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. "Maka, kita berusaha menghindari itu," katanya.

Seperti ketika kirab, tandu tempat mengusung rupang Dewa tidak boleh jatuh. Jika jatuh ada pertanda buruk kepada orang yang melayani Dewa tersebut.

Hal-hal lain yang sering dilanggar umat adalah terkadang mereka bersenda gurau, kurang serius dan kurang khusyuk ketika melakukan sembahyang. Juga banyak umat yang tidak secara rutin bersembahyang.

"Mereka melakukannya ketika membutuhkan permohonan kepada Dewa saja, padahal ada tanggal-tanggal kebesaran yang harus dihadiri dan dimuliakan untuk Dewa juga. Kelenteng untuk memohon kepada Dewa saja adalah sesuatu yang sangat disesalkan," katanya.

Pihaknya berusaha menarik generasi muda Tionghoa agar mau ke kelenteng. Seperti melibatkan generasi muda sebanyak-banyaknya ketika kirab budaya. (fgr/ton)

  Editor : Agus AP
#Sinar Samudra #Kelenteng Tek Hay Bio Semarang #Yayasan Tri Dharma Sinar Samudra