Ketua RW 6 Kelurahan Tambakaji Agus Hariono menjelaskan, jika banjir serupa terjadi sekitar lima tahun lalu. Eksploitasi wilayah Ngaliyan atas yang berlebihan diduga menjadi penyebab banjir yang lebih besar pada Minggu (6/11) lalu.
"Kita sudah lakukan investigasi, dari pengurus RW bidang pembangunan sudah melakukan survei penyebab banjir, diduga karena adanya pembangunan di KIC," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (8/11).
Agus menerangkan, dari survei tersebut, pembangunan yang dilakukan pihak swasta ternyata membangun jembatan semi permanen untuk akses truk tanpa memikirkan aliran air yang masuk ke sungai.
"Jembatan ini hanya gorong-gorong. Ketika airnya penuh, gorong-gorong ini nggak kuat. Akhirnya jebol, dan air bah langsung masuk ke sungai," jelasnya.
Akibatnya, debit air Sungai Sihingas (anak Sungai Beringin, Red) tidak terkendali, dan membuat tanggul sungai jebol, serta banjir bandang menerjang rumah dan mobil milik warga.
Menurut Agus, banjir terjadi bukan karena dampak pembangunan tol Semarang-Batang.
"Bukan karena pembangunan tol, tapi karena adanya pembangunan di KIC," tegasnya.
Disebutkan, total ada 88 rumah dengan 272 kepala keluarga (KK) terdampak banjir. Sebanyak 10 rumah rusak berat ada di RT 9 dan RT 7. Pemilik rumah pun harus dievakuasi, dan sementara tinggal di rumah saudara atau kerabat yang tidak terdampak banjir.
"Yang parah, rumahnya jebol dan barang-barangnya hanyut. Mereka sementara tinggal di rumah saudara," bebernya.
Camat Ngaliyan Moeljanto menambahkan, jika banjir bandang di RW 6 Kelurahan Tambakaji sebelumnya pernah terjadi lima tahun lalu. Namun banjir kali ini, menurut keterangan warga, berlangsung lebih cepat, dan dahsyat menggenangi pemukiman warga.
"Kalau penyebabnya masih dicari oleh DPU dan Distaru ya. Kalau pengaruh tol atau apapun saya nggak berani jawab, karena saya bukan orang teknis," kilahnya.
Mantan Camat Candisari ini mengatakan, saat ini pihaknya fokus membantu membersihkan lumpur sisa banjir di rumah warga dan yang menutup akses jalan. Namun ia menyebut, normalisasi sungai mendesak dilakukan karena melihat kondisi sungai yang cukup parah.
"Tadi BBWS juga ke sini, karena sungai ini kewenangan mereka. Yang jelas, kita dorong untuk melakukan normalisasi. Tanggul sungai juga diperkuat, karena banyak yang ambruk. Kalau DPU saat ini hanya melakukan penanganan sementara," katanya.
Moeljanto menargetkan, pembersihan wilayah RW 6 bisa rampung Rabu (9/11) hari ini. Dan semua fasum serta akses jalan bisa digunakan warga. Pembersihan juga menyasar rumah-rumah warga yang terdampak banjir.
"Hari ini (kemarin, Red) kita targetkan semua selesai. Tadi kita kerahkan 700 relawan dari berbagai elemen," tambahnya.
Selain melakukan pembersihan perumahan, juga dilakukan evakuasi mobil milik warga yang hanyut. Dari delapan mobil yang hanyut, tinggal dua unit mobil yang masih proses evakuasi dari dasar sungai.
"Tinggal dua mobil. Ini semua langsung diangkat. Tadi, kita dibantu komunitas jeep. Untuk sepeda motor warga yang terendam banjir, nanti ada layanan servis gratis,"katanya.
Data kepolisian, delapan mobil yang hanyut, enam di antaranya milik warga Perumahan Wahyu Utomo RT 9 RW 6. Yakni, Mitsubishi Pajero Sport, Honda CRV, Honda Odysey, Honda Acord, Honda City dan Mazda Vantrend. Sedangkan dua mobil lainnya milik warga Perumahan Taman Beringin 3, yaitu Nissan Xtrail dan Honda Jazz.
Salah satu warga RT 9 RW 6 Handoko mengaku butuh waktu beberapa hari untuk membersihkan rumahnya dari lumpur sisa banjir.
"Dua hari saja tidak cukup. Paling nggak satu minggu baru bersih. Ya nyemproti pakai air. (Kerugian) barang-barang tidak bisa dipakai, hancur semua. Belum tahu totalnya. Pakaian juga banyak yang hanyut," kata Handoko yang tinggal di Perumahan Wahyu Utomo sejak 1998.
Pascabanjir bandang, warga Perumahan Wahyu Utomo juga mulai mengalami gangguan kesehatan. Dokter Reni Yulianti dari Dinas Kesehatan Kota Semarang mengatakan, sejumlah warga telah mendatangi posko kesehatan untuk berobat.
"Rata-rata orang tua dan remaja laki-laki. Keluhannya pusing, karena tensi darahnya tinggi. Mungkin karena kecapekan habis bersih-bersih," ujarnya.
Reni Yulianti tidak menyebutkan secara detail jumlah warga yang berobat. Namun pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan di tengah cuaca dan bencana yang mereka alami.
"Kalau merasa sudah capek, istirahat saja. Karena kalau tensinya tinggi, bisa bahaya. Bisa kena stroke. Perlu banyak minum vitamin," pesannya.
Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman menilai banjir bandang di Perumahan Wahyu Utomo dan Mangkang Wetan RW 7 karena debit air yang tinggi dari wilayah atas tak mampu ditampung oleh aliran sungai.
Beberapa sungai besar di Kota Semarang ini menjadi kewenangan pemerintah pusat. Karena itu, perlu dilakukan koordinasi antara Pemkot Semarang dan Balai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk mengentaskan banjir di Kota Semarang.
“Seperti banjir bandang di Wahyu Utomo, terjadi karena debit air yang tinggi dari wilayah atas, sementara sungai tak mampu menanmpung hingga akhirnya meluap dan merendam permukiman warga. Padahal talut sudah dibangun,” katanya, Selasa (8/11).
Politikus PDI-Perjuangan ini mengatakan, untuk mengentaskan banjir, Pemkot Semarang terkendala dalam hal kewenangan, terutama wilayah sungai. Banyak sungai merupakan wilayah dari BBWS Pemali-Juana. Sehingga penanganan ataupun pembangunan harus menunggu dilakukan oleh BBWS.
“Karena kewenangan pusat, tidak bisa dilakukan pembangunan. Kalau anggaran sebenarnya siap, tapi kan tidak boleh karena bukan ranah kita,” tuturnya.
Ke depan, pihaknya meminta Pemkot Semarang berkoordinasi dengan BBWS untuk memetakan wilayah mana yang harus ditangani Pemkot Semarang ataupun BBWS. Tujuannya, agar masyarakat tidak dirugikan jika terjadi banjir bandang, seperti Minggu (6/11) lalu.
“Banjir serupa kan sudah pernah terjadi, dan ini terulang lagi. Intinya DPRD siap mendukung penuh kalau soal anggaran untuk penanganan banjir,” tandasnya.
Sementara itu, upaya penanganan wilayah terdampak banjir terus dilakukan Pemkot Semarang. Yakni, dengan menerjunkan petugas gabungan yang berjumlah 600 personel dari unsur TNI, Polri, Kecamatan, Dinas Pekerjaan Umum, Satpol PP, PSDA, serta relawan. Mereka melakukan kerja bakti masal membersihkan wilayah terdampak banjir, Selasa (8/11).
Beberapa titik lokasi sasaran pembersihan dan kerja bakti masal, yaitu di Perumahan Wahyu Utomo, Kelurahan Tambakaji, dan di wilayah Kecamatan Ngaliyan. dengan jumlah 75 rumah yang terdampak.
"Kita kemarin sudah lakukan upaya pembersihan, pengembalian kondisi yang terkena dampak banjir. Hari ini (kemarin) kita lanjutkan dengan melakukan pembersihan lokasi, termasuk rumah-rumah warga yang terkena dampak yang berjumlah kurang lebih 75 rumah. Jumlah tenaga kerja sebanyak 600 orang terdiri atas TNI, Polri, OPD Kota Semarang serta dari para relawan," terang Pelaksana Harian (Plh) Wali kota Semarang Iswar Aminuddin, Selasa (8/11).
Seperti diketahui banjir menggenangi sejumlah titik di kota Semarang usai diguyur hujan deras pada Minggu (6/11) sore hingga malam.
Di sebagian lokasi, banjir disebabkan oleh sungai yang meluap. Meski kondisi saat ini sudah surut dan kering, pada wilayah terdampak masih terdapat gundukan lumpur di jalan-jalan dan rumah warga.
Iswar menambahkan, kepada warga terdampak khususnya pemilik rumah untuk tidak khawatir. Pihaknya telah mengerahkan tenaga untuk membersihkan rumah warga yang terdampak banjir dan lingkungan seperti jalan dan bantaran sungai.
"Kita meminta kepada warga yang terkena dampak banjir supaya istirahat saja, tidak usah ikut bekerja nanti kami yang akan bekerja membersihkan rumah masing-masing warga yang terkena dampak," tegas Iswar.
Dari 75 rumah yang terkena dampak, dikerahkan 450 personel untuk membersihkan rumah. Sisanya sejumlah 150 personel ditugaskan membersihkan lingkungan, seperti jalan dan lingkungan saluran.
Berbagai bantuan juga telah dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Semarang bagi korban musibah banjir. Selain pembersihan rumah dan jalan, Pemerintah Kota Semarang juga menyediakan cuci baju gratis bagi warga terdampak banjir.
"Langkah pemerintah Kota Semarang salah satunya juga mencuci baju atau pakaian dari warga yang terkena dampak secara gratis. Hari ini kita membersihkan dengan memasukkan baju-baju warga yang terkena dampak banjir atau lumpur di laundry yang dikoordinir oleh camat," imbuhnya.
Terkait dapur umum, lanjut dia, juga terus dioperasikan untuk menyediakan konsumsi sebanyak tiga kali sehari bagi warga terdampak, dan juga bagi tenaga pelaksana kerja bakti masal. Iswar menargetkan kegiatan pembersihan dapat selesai dalam waktu dua hari.
"Dapur umum tetap jalan, konsumsi untuk tenaga kerja yang bekerja hari ini juga sudah kita siapkan. Kita berharap dalam dua hari ini kondisinya sudah baik kembali," harapnya. (den/mha/aro) Editor : Agus AP