Kegiatan evaluasi pembelajaran tari ini berlangsung di Grand Maerokoco Semarang, Minggu (7/11). Sebanyak 17 anak menarikan enam tarian secara bersama-sama seperti Tari Gajah, Tari Merak, Tari Payung, Tari Semarangan, Tari Semarang Hebat, dan Tari Rampak. Dengan gemulai mereka berlenggak-lenggok mengenakan selendang di masing-masing Anjungan.
Ketua Rumah Pintar Sasana Ngudi Kawruh Kelurahan Bandarharjo Eny Husnayati mengatakan dengan tari tradisional anak-anak akan lebih memahami dan menghargai Kota Semarang.
Setiap sepekan sekali Rumpin Sasana Ngudi Kawruh ini melaksanakan latihan tari, yang kemudian setiap enam bulan akan dievaluasi dan dipentaskan dihadapan orang tua dan masyarakat.
“Mereka kan berlatih, pasti akan tahu melalui gerakan-gerakan itu ada maknanya tentang kebangkitan Kota Semarang yang semakin hebat. Jadi mereka akan lebih menghargai dan melestarikannya,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia menambahkan kegiatan evaluasi kali ini dilakukan secara outdoor tujuannya untuk memberikan pengalaman baru, melatih kepercayaan diri, dan mental pada anak. Sehingga mereka bisa mandiri dan berani.
“Kita ingin latihan diluar ruangan, sekalian mengedukasi anak-anak memperkenalkan anjungan rumah adat di setiap kota dan kabupaten di Indonesia yang ada disini,” imbuhnya.
Eny menyebut jumlah anggota Rumah Pintar sendiri ada lebih dari 50 Anak. Mulai dari usia 6-12 tahun yang mayoritas adalah anak perempuan.
“Harapannya dengan acara latihan di luar mereka punya kepercayaan diri, dan mereka mau meningkatkan kemampuannya. Sehingga anak-anak yang lain ini bisa termotivasi dan ikut melestarikan tari tradisional,” akunya.
Sementara Pelatih Tari Rumah Pintar Sasana Ngudi Kawruh, Novianti mengatakan melalui tari anak-anak bisa mengenal budaya dengan lebih menyenangkan. Menurutnya mengenalkan budaya agar disukai anak-anak tidak harus dengan materi ataupun cerita.
“Jadi memperkenalkan budaya itu tidah harus dengan materi yang panjang lebar diceritau, kalau gitu anak-anak akan susah menangkap. Kalau dengan tari kan mereka bisa sambil bermain, olah tubuh, bisa lebih sehat, dan yang pasti akan lebih memahami makna dari budaya itu sendiri,” ungkapnya. (kap/ida) Editor : Agus AP